
Part ini mengandung tingkat kekesalan yang tinggi, emosi yang memuncak, jika kalian tidak sanggup, boleh di skip ya, tapi jangan lupa tetap tinggalkan jejak ya, satang-sayangnya Author 🤗🤗😘
🌹HAPPY READING🌹
Sudah satu bulan sejak kepergian Akmal, tapi Nana masih menjadi sosok yang pendiam. Hanya Arya dan Freya yang menjadi teman bicaranya.
Arya meminta kepada Dinda dan Atlantik agar Freya tinggal bersama mereka. Dia ingin Freya menjadi teman bagi istrinya. Karena dengan kehadiran Freya, sedikit senyum bisa terbit di bibir Nana.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Kini dirumah besar Arya hanya ada Nana, Freya, Bi Mirna dan para pembantu serta penjaga lainnya. Arya belum pulang dari kantor karena harus lembur. Sedangkan Meisya dan Acha berada di kediaman Bumi karena Nana yang masih belum siap bertemu dengan Meisya. Jika bertemu Meisya, itu mengingatkan Nana akan penderitaan yang telah Akmal dan dirinya lalui.
Nana dan Freya sedang berada di kamar Nana. Freya nampak sangat serius mendengar cerita dongeng yang disampaikan Nana. Hingga otak cantiknya mengingat apa yang tadi siang dia dan Nana lakukan, Freya bertanya kepada Nana.
"Aunty," panggil Freya.
Nana menghentikan kegiatan membacanya dan memandang Freya. "Kenapa, Sayang?" tanya Nana.
"Aunty tadikan kita ke Doktel, telus Doktelnya bilang ada adik bayi disini," ucap Freya mengusap lembut perut Nana dengan tangan mungilnya.
Akhir-akhir ini Nana sering merasakan mual dan pusing pada tubuhnya. Sejak kepergian Akmal, Nana memang lebih sering merenung dan duduk di balkon kamarnya. Nana hanya menganggap dia masuk angin biasa, tapi saat ingat bahwa dia belum datang bulan, Nana memutuskan untuk ke Dokter dan memastikan tebakannya benar atau tidak.
Ternyata benar, Nana dinyatakan hamil. Dan usia kandungannya saat ini sudah dua bulan. Nana bersyukur, karena dibalik kesedihannya kehilangan Akmal, Nana diberikan kebahagian yang luar biasa dengan keberadaan nyawa manusia di dalam rahimnya.
Nana sengaja tidak memberi tahu siapapun, kecuali Freya. Dia ingin memberi kejutan kepada mereka semua. Dan Nana ingin menyampaikan bahwa dia juga sudah bisa menerima semua yang terjadi. Dia harus ikhlas bukan, oleh karena itu dia akan memberikan kebahagiaan ini kepada keluarganya.
Nana tersenyum kepada Freya. "Iya, Sayang. Sebentar lagi Freya akan menjadi Kakak," ucap Nana.
Mata Freya berbinar ketika Nana menyebut Kaka. "Itu artinya Fleya udah besal?" tanya Freya senang.
Nana mengangguk. "Freya akan jadi Kakak. Freya harus bantu Aunty buat jaga adik, ya," ucap Nana.
Freya mengangguk antusias. "Ayo kita belitahu Uncle, Aunty," ucap Freya.
Nana mengangguk. "Tapi nanti, ya Sayang. Kita tunggu Uncle pulang. Setelah itu baru kita kasi kejutan sama Uncle," ucap Nana.
Freya mengangguk antusias. Nana tersenyum melihat senyum tulus seorang anak kecil pada Freya. "Mau bantu Aunty siapkan makan malam untuk Uncle?" ucap Nana mengulurkan tangannya kepada Freya.
Freya mengangguk dan menerima uluran tangan Nana. "Ayo, Aunty," ucap Freya semangat.
"Ayo," jawab Nana senang. Mereka berdua berjalan keluar kamar dan menaiki lift untuk menuju ruang makan.
__ADS_1
.....
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Nana dan Freya masih setia duduk di meja makan sambil menunggu Arya. Sedangkan Bi Mirna dan pelayan lainya sudah memasuki kamar masing-masing.
Freya sudah nampak menahan kantuknya. Terlihat dari mata anak itu yang sudah memerah dan berair. "Freya," panggil Nana lembut.
Freya menoleh tanpa bicara kepada Nana.
"Freya kalau ngantuk tidur aja, ya. Biar Aunty yang menunggu Uncle pulang," ucap Nana.
Freya menggeleng. "Fleya mau temani Aunty," ucap Fleya lemah karena menahan kantuknya.
"Kalau begitu Freya duduk dipangkuan Aunty, ya," ucap Nana.
Freya mengangguk. Dia turun dari kursinya dan mendekat kepada Nana. Nana merentangkan tangannya dan mengangkat Freya kepangkuannya. Freya menyadarkan kepalanya di dada Nana. Matanya mulai tertutup karena merasa nyaman dalam dekapan Nana.
Setengah jam kemudian, Nana mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. "Itu pasti Mas Arya pulang," ucap Nana senang.
Nana mengangkat Freya dan membawanya ke sofa besar di ruang keluarga. Nana menidurkan Freya disana, sedangkan dia berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan Arya.
Nana mengernyit heran, karena Arya tidak pulang sendiri. Dia datang bersama Atlantik. Bukan kedatangan Atlantik yang Nana herankan, tapi Atlantik yang seperti mengejar Arya yang berjalan tergesa-gesa untuk segera sampai di pintu rumah.
Senyum mengembang di bibir Nana ketika melihat Arya. "Mas ka-"
Ucapan Nana terpotong karena Arya yang tiba-tiba menamparnya.
Terkejut? tentu saja. Mata Nana langsung berair mendapat tamparan dari Arya. "Mas, kamu kenapa?" tanya Nana sendu menatap Arya yang tengah menatapnya dengan pandangan marah.
Arya tidak menjawab, dia menyeret tangan Nana memasuki rumah. "Masuk!" ucap Arya tegas.
Atlantik yang melihat itu langsung mencegah Arya. "Arya, jangan keterlaluan," ucap Atlantik memperingati adik iparnya itu.
Arya menulikan pendengarannya. Dia terus menyeret Nana sampai ke ruang keluarga. Atlantik yang melihat Anaknya tertidur di sofa langsung mengangkat Freya dan memindahkannya ke kamar tamu yang ada dibawah. Dia tidak ingin Freya terbangun karena mendengar perkataan yang tak patut untuk di dengar oleh anak seusianya.
"Mas, kenapa?" tanya Nana lagi saat Arya melepaskan tangannya dengan kasar. Bahkan pergelangan tangan Nana nampak merah karena cengkraman Arya.
"Kamu yang kenapa Nana!" ucap Arya tegas.
Nana terdiam mendengar Arya memanggilnya tidak seperti biasanya. Biasanya Arya selalu memanggil nya dengan Sayang, tapi ini, Arya seolah kembali kepada dirinya yang dulu.
__ADS_1
Nana berusaha untuk tenang dan tidak emosi. Dia mendekati Arya. "Mas kenapa pulang marah-marah begitu?" tanya Nana lembut.
Melihat Arya yang diam, Nana semakin mendekat. Mata Nana membulat begitu pandangannya menangkap noda darah di kemeja Arya yang berwana putih.
"Mas, ini kenapa?" tanya Nana khawatir.
"Masih berani kamu bertanya kenapa? Semua ini karena kamu, Nana!" ucap Arya.
"Aku? Aku kenapa, Mas?" tanya Nana tak paham.
"Jangan bicara seolah tidak tahu apa-apa. Kamu yang sudah menabrak Acha dengan mobil kamu hingga dia masuk rumah sakit dan dalam keadaan kritis sekarang!" ucap Arya teriak marah.
Nana membeku mendengar perkataan Arya. Menabrak Acha?
"Mas, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan," ucap Nana.
"Cih! jangan pura-pura. Kamu selalu mengatakan jika kamu iri dengan Acha yang mendapat kasih sayang Mama Meisya. Kamu juga bilang bahwa Acha dikelilingi orang baik termasuk aku. Dan kamu juga cemburu dengan Acha sebagai sahabat aku. Kamu benar-benar licik, Nana. Kamu mengorbankan Acha yang tidak bersalah hanya karena rasa iri dan dendam kamu atas kematian Ayah. Kamu marah kepada Mama Meisya kenapa Acha yang harus kamu korbankan?" ucap Arya benar-benar emosi.
Air mata Nana mengalir begitu saja. "Mas, bukan aku, Mas. Aku tidak sejahat itu. Kamu tahu aku kan. Kamu mengerti aku kan," ucap Nana meyakinkan Arya.
"Karena aku tahu bagaimana kamu makanya aku bicara seperti ini, Nana. LIHAT INI!" ucap Arya tegas memberikan ponselnya kepada Nana yang terdapat rekaman CCTV jalan tempat kejadian dimana Acha ditabrak.
Mata Nana membulat melihat mobil yang menabrak Acha adalah mobil yang sama dengan miliknya. Mobil yang diberikan oleh Arya. Dan apa ini? Dari kaca mobil terlihat seorang wanita yang sangat miripnya yang duduk di kursi kemudi. Dengan kecepatan penuh, dia mengendari mobil tersebut dan menabrak Acha yang baru saja keluar dari mini market.
"Masih mau mengelak?" tanya Arya menatap Nana tajam.
Nana menggeleng kuat. "Bukan, Mas. Itu bukan aku. Sungguh, Mas. Aku berani bersumpah bahwa itu bukan aku," ucap Nana menangis meyakinkan Arya.
"Kamu benar-benar jahat, Nana. Kamu sama sepeti Ayahmu yang gila itu. Kamu memang pantas menjadi anak lelaki gila itu!" teriak Arya marah.
SAKIT. Sakit sekali, kata-kata yang terlontar dari mulut Arya sangat menyakiti hati Nana. Niatnya tadi yang ingin memberi kejutan, malah dia yang mendapat kejutan seperti ini.
Nana bersimpuh di kaki Arya. "Mas, aku berani sumpah bukan aku, Mas," ucap Nana dalam tangisnya.
Atlantik yang baru keluar dari kamar tamu langsung membantu Nana agar segera bangun. "Nana, jangan seperti ini," ucap Atlantik iba melihat Nana.
"Bang, bukan Nana yang melakukan itu. Bilang samaa Mas Arya bukan Nana, Bang," ucap Nana kepada Atlantik.
"Ar, sudah Abang bilang jangan seperti ini," peringat Atlantik kepada Arya.
__ADS_1
Arya tidak menghiraukannya. Dia menarik Nana secara kasar dan membawanya keluar rumah. Atlantik yang melihat itu langsung mengikuti Arya dan Nana yang sudah memasuki mobil.
......................