
🌹HAPPY READING🌹
"AKU MAU MATI!" teriak Akmal melawan beberapa perawat yang sedang menenangkannya.
Nana berlari memeluk tubuh Akmal yang terus memberontak. "Ayah, Ayah kenapa? Ini Nana Ayah. Ayah kenapa?" ucap Nana dengan suara bergetar karena menangis.
"Nana kami harus menyuntik Pak Akmal," ucap Dokter wanita yang menangani Akmal.
Dengan tangisnya Nana mengangguk. "Lakukan yang terbaik, Dokter. Tapi jangan menyakiti Ayah," ucap Nana sendu.
"Tenang, Na. Ini hanya akan memberikan ketenangan untuk Pak Akmal," ucap Dokter tersebut tersenyum lembut kepada Nana.
Nana hanya mengangguk. Nana mengalihkan pandanganya ke segala arah. Dia tidak sanggup melihat jarum itu masuk kedalam kulit Ayahnya untuk kesekian kalinya.
Setelah disuntik, Akmal sudah kembali tenang. Kakinya tetap di rantai walaupun Akmal kini sudah tertidur.
"Na, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Dokter kepada Nana.
Nana yang tadinya memperhatikan wajah damai Akmal saat tidur pun menoleh. "Bisa Dokter," jawab Nana.
"Baiklah, kita bicara di ruangan saya, Na," ucap Dokter bername tag Rina tersebut.
Nana mengangguk. "Ayah, Nana keluar sebentar, ya. Ayah tidur yang nyenyak, ya. Cup," ucap Nana berbisik di telinga Akmal sebelum pergi menyusul Dokter Rina.
Kini Nana sudah duduk di depan Dokter Rina. Mereka berdua bicara di ruangan Dokter Rina.
"Ada apa Dokter? Keadaan Ayah baik-baik saja kan? Ayah nggak tambah down kan Dokter?" tanya Nana beruntun.
Dokter Rina menghela nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Nana. "Begini Na, sebelumnya keadaan Pak Akmal baik-baik saja. Bahkan beliau sangat baik dari sebelumnya," ucap Dokter Rina.
"Lalu kenapa Ayah bisa seperti tadi Dokter?" tanya Nana cepat.
"Kata perawat jaga, tadi ada seorang wanita yang datang kesini menemui Pak Akmal. Sekitar lima belas menit dia berada di kamar Pak Akmal. Entah siapa dia dan apa yang dia katakan, tapi setelah kepergiannya Pak Akmal menjadi seperti tadi," ucap Dokter Rina menjelaskan.
"Wa-wanita?" tanya Nana gugup.
Dokter Rina mengangguk.
"Usia berapa Dokter?" tanya Nana.
Dokter Rina menggeleng. "Saya tidak tahu Nana. Coba nanti kau tanyakan kepada Perawat jaga, mungkin dia akan memberi petunjuk," jawab Dokter Rina.
Ya Allah, siapa yang datang menemui Ayah hingga kondisi Ayah seperti ini sekarang? Batin Nana bertanya dengan tidak tenang.
"Em ... Dokter, bolehkah Nana bertanya sesuatu?" tanya Nana ragu.
Dokter Rina mengangguk.
__ADS_1
"Apakah masih ada kemungkinan Ayah akan kembali normal?" ucap Nana bertanya dengan mata yang beekaca-kaca.
Dokter Rina tersenyum. Tangannya terulur mengusap lembut punggung tangan Nana yang terletak di atas meja kerjanya. "Berdoa lah, Na. Jika Tuhan sudah berkehendak, tidak akan ada kata mustahil," ucap Dokter Rina lembut.
Nana mengangguk. "Tolong berikan yang terbaik untuk kesembuhan Ayah, Dokter," ucap Nana penuh harap.
"Saya akan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan saya, Na," ucap Dokter Rina.
Nana mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih, Dokter. Kalau begitu Nana keluar dulu," ucap Nana.
Dokter Rina mengangguk. Setelah itu Nana keluar dari ruangan Dokter Rina dan kembali ke kamar rawat Akmal.
Nana memasuki ruang rawat Nana dengan langkah gontai. Baru tadi dia bahagia karena Arya ingin membuka hati untuknya, tapi sekarang dia kembali di tampar kenyataan dengan keadaan Ayahnya.
Nana berjalan dan duduk di pinggir ranjang Akmal. Tangan Nana terulur mengusap lembut rambut tebal Akmal. "Ayah, jangan kayak tadi lagi, ya. Nana takut," ucap Nana dengan suara bergetar.
Nana membungkuk dan mencium kening Akmal lama. Setitik air mata Nana jatuh mengenai pipi Akmal. Nana adalah hidup Nana. Demi apapun, tidak ada yang lebih berharga selain kesehatan Ayah. Batin Nana sendu memandang lekat wajah Akmal.
.....
Sedangkan di rumahnya, Arya disambut oleh Freya yang sudah menunggunya pulang sejak tadi.
"Halo bidadari, Uncle," ucap Arya membawa Freya ke gendongannya.
"Uncle, Aunty Balbi kenapa nggak ikut?" tanya Freya melihat kebelakang Arya.
"Uncle, Fleya kangen Aunty Balbi," ucap Freya sendu. Anak itu benar-benar lengket dengan Nana.
"Rindu?" tanya Arya memastikan.
Freya mengangguk lemah.
"Nanti setelah magrib kita ke rumah Aunty Barbie. Freya mau?" tawar Arya.
Dengan mata berbinar dan senyum semangatnya Freya mengangguk. "Mau Uncle," jawab Freya antusias.
Arya tersenyum senang melihat senyum bahagia Freya. Kamu benar-benar membawa bahagia untuk keluarga ku, Na. Batin Arya senang.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang Bidadari nya Uncle mandi dulu, ya. Pakai baju yang bagus buat ketemu Aunty Barbie," ucap Arya.
Freya mengangguk. Anak itu minta turun dari gendongan Arya dan langsung berlari menuju kamarnya. Arya yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Keponakannya itu memang angat menggemaskan baginya. Setelah itu Arya berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Sedangkan di rumah yang sama tapi di kamar yang lain. Acha sedang bermanja-manja dengan Meisya. "Anak Mama kenapa manja banget hari ini, Hem?" tanya Meisya mengusap lembut kepala Nana yang ada di pangkuannya. Saat ini Acha sedang tiduran di kasur Meisya dengan paha Meisya sebagai bantalnya.
"Sebelum nikah, Acha pengen manja-manja dulu sama Mama," ucap Acha manja.
"Ma," lanjut Acha memanggil Meisya.
__ADS_1
"Iya, Sayang," jawab Meisya lembut.
"Andai Papa masih ada, pasti pernikahan Acha semakin menyenangkan," ucap Acha sendu.
"Sayang, Papa udah tenang di Surga. Tapi dia selalu ada disini," ucap Meisya menunjuk dada Acha.
"Kita doakan Papa semoga selalu diberikan yang terbaik di sana," lanjut Meisya.
Acha mengangguk. "Iya, Ma. Acha selalu doain Papa kok. Terimakasih karena sudah merawat Acha ya, Ma. Terimakasih banyak," ucap Acha memeluk perut Meisya.
"Kamu anak Mama, apapun akan Mama lakukan untuk kamu, Nak," ucap Meisya lembut.
Mama juga merindukan anak Mama yang lain, Nak. Batin Meisya mengingat anak yang dulu dia tinggalkan demi hidup bersama Papanya Acha.
.....
Sesuai janjinya, sekarang Arya dan Freya sedang berada di mobil. Mereka dalam perjalanan menuju rumah Nana. Senyum selalu mengembang di bibir mungil Freya.
"Seneng banget ya, Sayang?" tanya Arya melihat Freya yang duduk di sebelahnya.
"Iya dong, Uncle. Fleya udah nggak sabal ketemu Aunty Balbi," jawab Freya semangat.
Arya tersenyum senang melihat kebahagiaan keponakannya. Tidak berapa lama, mobil mereka sampai di depan rumah Nana.
Arya menggendong Freya turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Nana.
Arya mengucap salam dan mengetuk pintu. Pada ketukan ketiga, pintu terbuka.
"Waalaikumsalam," jawab Bi Mirna yang membuka pintu.
"Selamat malam, Bi," ucap Arya.
"Eh, Nak Arya. Selamat malam," jawab Bi Mirna.
"Aku ingin bertemu Nana, Bi," ucap Arya tanpa basa-basi.
Bi Mirna terdiam, alasan apa yang akan dia sampaikan kepada Arya. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Nana pergi ke tempat Akmal. Karena dia yakin, Arya belum mengetahui tentang Akmal.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz
Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘
__ADS_1