Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 61


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Tangan Gilang mengepal kuat menahan emosinya. Karena ruang penyekapan Meisya yang kedap suara, para bodyguard yang berada diluar ruangan tidak mengetahui apa yang terjadi.


"Meisya bangsat!" umpat Gilang dengan penuh emosi.


Meisya tertawa senang bagaikan manusia yang mendapatkan hadiah besar. Wanita tua ini sungguh gila. Pikir Gilang.


"Bagaimana, Nak? Apa kau juga ingin seperti anak buahmu?" ucap Meisya berjalan mendekati Gilang dengan memainkan mata pisau ditangannya.


Gilang tak gentar. Dia malah menantang Meisya dengan menegakkan tubuhnya di depan Meisya.


Plak.


Satu tamparan keras dari Gilang mendarat dengan sangat baik di pipi Meisya. Tidak pandang umur, Gilang benar-benar melampiaskan emosinya kepada Meisya.


Plak.


"Kamu memang wanita tak tahu diri!"


Plak.


"Kau manusia berhati iblis yang menghabisi manusia tak bersalah seperti anak buahku!" teriak Gilang menggema di dalam ruangan tersebut.


Meisya menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Kulit wajah yang sudah tak lagi muda itu rentan terkena tamparan. Apalagi tamparan Gilang benar-benar penuh dengan tenaga.


Seketika Meisya terisak kecil. Meisya mengangkat kepalanya dan memandang Gilang dengan air mata yang bercucuran.


Benar-benar psychopath. Batin Gilang yang melihat perubahan raut wajah Meisya begitu cepat. Tadi dia marah, dan kini dia sudah terisak kecil.


"Lalu apa salahku hingga kalian menyekapku seperti ini?" tanya Meisya sendu.


Gilang tertawa sumbang. "Karena kau berani melukai seorang wanita yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri!" jawab Gilang emosi.


"Karena dia wanita murahan yang tak layak hidup bersama Arya!" jawab Meisya tegas.


"Siapa kau hingga bisa menentukan kehidupan Arya? Kau hanya pendatang. Dan ingat, sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana kejamnya dunia membalas semua perbuatanmu!" ucap Gilang tegas menunjuk wajah Meisya.


Meisya mundur satu langkah. Melihat Gilang yang biasanya lembut dan sopan, tapi sekarang dia benar-benar menunjukkan apa itu pembalasan.


Gilang mengambil pisau kecil dari dalam saku celananya. Tanpa aba-aba Gilang langsung meraih tangan Meisya.


"Aakkhh," teriakan kesakitan itu keluar dari mulut Meisya ketika Gilang memisah ibu jari dan telunjuk Meisya dari tangannya.

__ADS_1


Darah berceceran dimana-mana. "Itu akibatnya kau berani mengusik orang terdekatku. Tunggu beberapa saat, maka penderitaanmu ini akan segera berakhir. Dan ingat, selamat menikmati kejamnya dunia!" ucap Gilang tegas dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Gilang meminta para bodyguard yang lain untuk membereskan jasad anak buahnya yang dibunuh oleh Meisya.


"Beri keluarga mereka kompensasi yang besar. Dan satu lagi, jamin seluruh pendidikan anak-anak mereka hingga selesai sesuai keinginan mereka," ucap Gilang pada bodyguardnya.


Bodyguard tersebut mengangguk mengiyakan perkataan Gilang.


"Dan satu lagi, jangan sampai kejadian ini terulang. Sampai Arya kembali, jaga ruang penyekapan dengan ketat," lanjut Arya.


Lagi-lagi bodyguard tersebut mengangguk patuh. Setelah memberi perintah pada para bodyguardnya, Gilang segera keluar menuju mobilnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Wanita tua meresahkan," gumam Gilang kesal melihat tangannya yang terkena darah saat memotong jari Meisya. Setelah itu Gilang menambah laju mobilnya untuk segera sampai di apartemen dan membersihkan dirinya.


.....


Setelah menempuh perjalanan yang sangat lama, Arya dan Mira sampai di Negera tujuan mereka, Turki. Saat ini keduanya sedang berada didalam mobil menuju rumah Acha.


"Kamu yakin kita akan ke rumah, Cha?" tanya Arya.


Acha mengangguk yakin. "Iya, Ar. Biasanya jam segini Mama ada di rumah," ucap Acha.


Arya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Acha. Semoga semuanya baik-baik saja. Batin Arya khawatir. Dia takut Meisya yang ada di Indonesia akan berulah dan mempersulit Gilang hingga bisa mencelakai keluarganya, terutama Nana dan Akmal.


Acha mengetuk pintu berkali-kali. Pada ketukan kelima kalinya, pintu terbuka dari dalam.


"Mama!" pekik Acha senang melihat Meisya yang membukakan pintu.


"Kamu datang, Nak?" ucap Meisya tak percaya melihat kedatangan anaknya.


Mereka berdua saling berpelukan erat. Layaknya seorang ibu kandung menantikan kepulangan anaknya yang sudah lama pergi. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan Arya.


Harusnya istriku juga seperti ini. Batin Arya mengingat Nana.


Pandangan Meisya beralih kepada Arya yang berdiri dibelakang Acha.


Arya tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Meisya. "Apa kabar, Tante?" tanya Arya lembut.


Meisya menerima uluran tangan Arya dan tersenyum lembut. "Kurang baik karena merindukan anak Tante ini," jawab Meisya mengarahkan pandangannya kepada Acha.


Acha dan Arya hanya tersenyum biasa mendengar perkataan Meisya.


Ada anak yang lebih berhak atas rindu Mama. Batin Acha mengingat bahwa Nana adalah saudara tirinya. Anak kandung dari Meisya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita masuk, Nak," ucap Meisya lembut.


Mereka semua berjalan memasuki rumah mewah tersebut. Kini Arya, Acha dan Meisya sudah duduk di ruang tamu dengan minuman yang tadi diberikan oleh pelayan.


"Tante," ucap Arya memulai pembicaraannya.


"Iya, Arya," jawab Meisya lembut.


Posisinya, Arya duduk di sofa yang bersebrangan dengan Meisya dan Acha. Mereka hanya terpisah oleh meja kaca yang mahal itu.


"Tante tidak pernah datang ke Indonesia?" tanya Arya tanpa basa-basi.


Dahi Meisya mengernyit bingung mendengar pertanyaan Arya. "Tante disini saja, Arya. Tante belum ke Indonesia sama sekali. Perusahan disini sedang membutuhkan Tante," jawab Meisya. Setelah itu pandangannya berubah sendu kepada Acha. "Mama sangat menyesal tidak ada disamping kamu saat Zein pergi, Nak. Maaf ya," ucap Meisya menatap Acha lembut.


Acha tersenyum tulus mendengar perkataan Mamanya. Meskipun dalam pikirannya begitu banyak pertanyaan yang muncul.


Arya cukup terkejut mendengar jawaban Meisya. Tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang. "Bukankah Tante akan menyusul Acha untuk hari pernikahannya dan Zein?" tanya Arya lagi.


Meisya mengangguk. "Itu benar. Tapi saat Tante mendengar berita tentang Zein, Tante mencoba menghubungi Acha, namun tidak bisa. Tante mencoba menghubungi kalian semua, tetap saja tidak ada yang bisa Tante hubungi," jawab Arya.


"Lalu kenapa Tante tidak menyusul saja ke Indonesia?" tanya Arya.


Acha hanya mendengarkan apa yang Arya dan Meisya katakan. Dia akan bicara saat waktunya dia bicara.


"Dua hari setelah mendengar kabar Zein mengalami kecelakaan pesawat, keadaan perusahaan sudah membaik. Tante berencana untuk pergi ke Indonesia. Tapi, Tante menerima sebuah pesan atas nama Papa kamu dengan nomor baru yang meminta Tante untuk tetap disini, karena disana sudah ada kalian yang mendampingi Acha," ucap Meisya.


"Papa mengirim pesan?" tanya Arya bingung.


Meisya mengangguk. Dia mengambil ponsel dan mencari sesuatu di dalam ponsel. "Ini," ucap Meisya memberikan ponselnya dan menunjukkan pesan tersebut.


Arya melihat nomor tersebut. Itu bukan nomor Bumi. Berarti ini semua sudah diatur dengan sangat baik. "Ini bukan nomor ponsel Papa, Tante," ucap Arya mengembalikan ponsel Meisya.


"Maksud kamu?" tanya Meisya heran.


"Ma," panggil Acha sebelum Arya menjawab pertanyaan Meisya.


"Iya, Nak," jawab Meisya lembut menatap Acha.


"Apa Mama punya saudara kembar?" tanya Acha langsung. Dia tidak ingin bertele-tele dengan semua ini.


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2