
🌹HAPPY READING🌹
Nana yang tidak sengaja melihat Monika mengarahkan pistolnya kembali kepada Meisya yang kini tengah berada dalam pelukan Acha, langsung melepaskan Akmal dan berlari.
DOOR.
"Akkhh!"
Nana memejamkan mata saat tubuhnya memeluk Meisya dan Acha sekaligus. Tapi dia tidak merasakan apapun. Jika kena tembak, pasti dia sudah sangat kesakitan. Tapi ini? Nana menoleh kebelakang. Mata Nana membulat sempurna dengan air mata yang mengalir deras.
"AYAH!" pekik Nana menangis sejadi-jadinya melihat Akmal yang terbaring di lantai dengan darah mengalir dari perutnya.
"Akmal."
"Ayah Mertua."
"Om Akmal."
Pekik mereka semua mendekat melihat Akmal yang setengah sadar dengan kepala yang berada dipangkuan Nana.
"Bawa Monika, Lang!" ucap Arya tegas yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Gilang.
Gilang bersama dengan para bodyguard segera membawa Monika yang kini tertawa terbahak-bahak bagai wanita kesetanan.
"Ayah," panggil Nana lirih menepuk-nepuk pelan pipi Akmal.
Nana terus menepuk pelan pipi Akmal yang kini tengah menatapnya.
"Ayah Sayang Nana," gumam Akmal pelan hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.
"Ayah bangun, Ayah. Nana juga sayang Ayah. Ayah bangun!" teriak Nana.
"Bawa ke rumah sakit," titah Bumi. Mereka semua mengangguk. Arya dan Bumi mengangkat Akmal dan membawanya kedalam mobil Arya yang ditemani oleh Nana. Sedangkan yang lainnya berada di mobil yang berbeda.
"Mas, Ayah nggak akan kenapa-napakan?" tanya Nana cemas pada Arya yang kini tengah menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Arya hanya diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Melihat begitu banyak darah yang keluar dari tubuh Akmal membuat Arya pesimis. Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, disusul mobil Bumi dibelakangnya yang membawa Mita, Meisya, Acha, Bi Mirna.
Sepuluh menit, mobil mereka sampai di rumah sakit. Arya langsung menggendong Akmal dengan segala tenaganya dan meletakkan di brangkar rumah sakit. Dengan segara Akmal langsung dibawa ke UGD untuk mendapat penanganan yang serius.
"Mas," tangis Nana pecah dalam pelukan Arya. Baju mereka sudah sama-sama penuh oleh darah Akmal.
Arya memeluk erat istrinya. Dia ikut merasakan kesedihan Nana. Dia tahu bagaimana Nana berjuang untuk Akmal.
"Sayang," panggil Arya lembut. Matanya memerah agar tak menangis. Dia harus kuat untuk istrinya.
"Kenapa harus Ayah sih? Kenapa harus Ayah? Kenapa buka aku saja, Mas?" tanya Nana memukul-mukul pelan dada bidang Arya.
Arya membiarkan Arya melampiaskan segala emosinya. Sakit akibat pukulan Nana tidak seberapa daripada sakit melihat istrinya menangis seperti ini. Air mata Nana adalah kesakitan untuknya.
Saat Arya mencoba menenangkan Nana, Bumi dan yang lainnya datang menghampiri mereka. Meisya yang melihat Nana menangis histeris seperti itu dipelukan Arya mencoba mendekat.
Dengan tangan bergetar Meisya mencoba meraih pundak Nana. "Nak," panggil Meisya pelan dengan suara bergetar.
"Sayang," ucap Arya ikut memanggil Nana.
"Sayang ada Tante Meisya," ucap Arya lagi.
"Hiks, Ayah," ucap Nana memandang Meisya dengan pandangan hancur.
Hati Meisya terluka. Pertama kali bertemu anaknya setelah sekian lama, bukannya bahagia, tapi pertemuan mereka diselimuti oleh luka dan air mata. Takdir begitu senang mempermainkan mereka. Seolah kesedihan dan pengorbanan selama ini masih kurang dalam hidup mereka.
"Hiks, kenapa takdir jahat sekali? Kenapa takdir begitu suka memberikan luka? Apa perjuangan selama ini masih kurang?" ucap Nana sendu memandang Meisya dengan air mata di pipinya.
Mereka semua yang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Nana tidak kuasa menahan tangisnya.
Bumi berjalan menuju pintu UGD dan melihat Akmal dari kaca yang sedang ditangani oleh beberapa Dokter.
Ingin rasanya Bumi mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi sahabatnya. Harusnya dia sebagai manusia sehat bisa melindungi seluruh keluarganya. Tapi ini? Dia terkecoh oleh seorang wanita licik yang menghancurkan mereka semua.
Arya yang melihat istrinya seperti itu, langsung melangkahkan kaki hendak pergi dari sana. Tapi baru beberapa langkah, kakinya terhenti oleh suara Bumi.
__ADS_1
"Mau kemana Arya?" tanya Bumi tanpa mengalihkan pandangannya dari Akmal yang sedang di periksa Dokter.
"Arya harus menyelesaikan sesuatu, Pa," jawab Arya.
Bumi membalikkan badannya dan berjalan mendekati Arya. "Temani istri kamu disini. Biar Papa yang mengurusnya," ucap Bumi langsung melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Arya. Bumi berjalan pasti keluar rumah sakit tanpa menghiraukan panggilan Mita. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah pembalasan.
Arya membiarkan Papanya pergi. Dia yakin, jika bumi sudah turun tangan, maka semua akan berjalan lancar.
Arya kembali mendekati istrinya yang masih menangis didepan Meisya.
.....
Sedangkan di dalam UGD, Dokter langsung memberikan penanganan untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Akmal.
Selama penanganan berjalan, seorang suster wanita tidak hentinya menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Akmal. Padahal Akmal tidak sadarkan diri, tapi dia seperti orang yang menangis dalam tidurnya.
Sebenarnya masalah apa yang Bapak ini hadapi? Air matanya tidak berhenti sedari tadi dia sampai disini. Batin Suster tersebut.
Akmal POV.
Saat merasakan pelukan hangat anakku mulai terlepas dari tubuh bergetarku, aku melihat dia berlari menuju wanita yang sangat aku cintai. Wanita yang merupakan Ibu kandungnya. Lalu pandanganku teralihkan pada seorang wanita jahat yang begitu mirip dengan wanitaku. Saat menyaksikan dia akan menembak orang yang aku cintai, Aku langsung berlari dan memeluk erat tubuh anakku. Hingga akhirnya peluru itu berhasil memasuki tubuhku.
Aku memang tidak sehat secara jiwa, tapi rasa sayang dan keikhlasan putri kesayanganku mampu membuka mata hatiku. Sakit peluru ini tidak seberapa dari perjuangannya selama ini untukku.
Badanku luruh ke lantai. Darah mengalir dari tubuh bagian depanku. Sekali lagi, aku menjadi penyebab putri kesayanganku menangis. Aku memandangi wajahnya yang menangis ketika mengangkat kepalaku kedalam pangkuannya. Ingin sekali mulutku mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Ingin sekali aku menghapus air matanya itu dengan tanganku.
Aku hanya berharap pada Tuhan agar memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama demi memberikan kasih sayang kepada putriku. Kasih sayang yang selama dua puluh tahun ini tidak dia dapatkan. Kasih sayang yang selama ini selalu dia harapkan. Semakin lama peluru itu semakin menyakiti tubuhku. Hingga kesabaranku semakin lama semakin berkurang.
"Ayah sayang Nana," gumamku pelan menatap wajah anakku yang tengah menangis sambil memangku kepalaku. Setelah itu semuanya gelap dan entah apa yang terjadi setelahnya.
Akmal POV End.
......................
Segitu dulu yaaa, nanti kita sambung lagi sedihnyaaaaa🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹