Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 59


__ADS_3

Maaf ya teman-teman atas keterlambatan updatenya. Bagi kalian yang lupa, bisa baca dulu part sebelumnya. Untuk kedepannya, author akan update tiap hari. Semoga kalian tidak bosan, yaaa 🤗🤗🤗🌹🌹🌹


🌹HAPPY READING🌹


"Kamu pergi sama Gilangkan?" tanya Nana memastikan. Karena biasanya, urusan keluar negeri seperti ini, dia akan pergi bersama Nana. Karena Nana adalah sekretarisnya dulu. Tapi sekarang dia sudah berhenti, dan Nana yakin pasti Arya pergi dengan Gilang.


Tapi diluar dugaan Nana. Arya menggeleng. "Aku pergi sama Acha, Sayang," jawab Arya.


Nana terdiam mendengar jawaban Arya. Arya yang mengerti perasaan istrinya membuka suara. "Sayang," panggil Arya lembut mengusap pipi Nana.


Nana yang duduk dipangkuan Arya memandang lekat wajah suaminya.


"Sayang, kamu percaya sama aku kan?" tanya Arya.


"Apa kamu bisa aku percaya?" ucap Nana tanpa menjawab pertanyaan Arya.


Arya mengangguk yakin. "Ini semua murni kerjaan, Sayang. Bukan karena hal lainnya," ucap Arya meyakinkan Nana.


Nana menghela nafas pelan. "Maaf jika aku sudah meragukan kamu," jawab Nana menyesal.


Arya tersenyum melihat istrinya. "Hati aku sudah buat kamu semua. Udah nggak ada tempat untuk wanita lain, kecuali anak kita nanti. Saat ini Acha hanya seorang teman masa kecil buat aku. Tidak lebih," ucap Arya yakin.


Nana tersenyum dan memeluk erat Arya. Setelah beberapa lama, Nana melepaskan pelukannya. "Kalau gitu aku siapin pakaian kamu dulu, ya," ucap Nana beranjak dari pangkuan Arya.


Arya mengangguk. "Sini dulu!" ucap Arya meminta Nana membungkuk.


Nana menurut dan membungkukkan badannya. Kini kepalanya sejajar dengan Arya yang duduk di kursi kerjanya.


Cup.


"Udah," ucap Arya selesai mengecup lembut bibir istrinya.


Nana tersenyum malu atas perlakuan Arya yang begitu menghangatkan hatinya. "Aku ke kamar dulu, ya," ucap Nana pamit yang dibalas anggukan oleh Arya.


.....


Subuh telah menjelang. Waktu telah menunjukkan pukul empat pagi. Arya sudah siap dengan setelan jas yang melekat indah diwajahnya. Karena Arya dan Acha mengambil penerbangan pertama.


"Mas, jangan lupa sering kabarin aku, ya," ucap Nana dengan mata yang berkaca-kaca. Nana memang sudah bangun. Bahkan dia bangun lebih dulu dari Arya. Dia ingin membantu suaminya sendiri dan mengantar kepergian suaminya. Kini mereka sudah berdiri di depan pintu utama kediaman Arya, dengan sebuah koper yang masih dipegang oleh Nana.


Arya tersenyum dan mengatupkan kedua mata Nana dengan ibu jarinya. Hingga air mata yang sudah mengenang tadi jatuh membasahi pipi Nana.


"Iya, Sayang. Aku pasti kabarin kamu," jawab Arya.

__ADS_1


"Kamu jemput Acha dulu?" tanya Nana.


Arya mengangguk. "Iya, aku ke rumah dulu buat jemput Acha," jawab Arya.


"Yasudah, kamu hati-hati, ya. Jangan sampai telat makan. Jangan kecapean. Jangan lupa tidur juga," ucap Nana memperingati Arya. Karena Arya jika sudah berkutat dengan pekerjaannya, dia bisa lupa dengan segala hal.


"Iya Sayang," jawab Arya.


"Yasudah, aku pergi ya. Hati-hati dirumah. Pintu jangan lupa dikunci lagi. Kalau mau kemana-mana kabarin aku, dan harus pakai supir," gantian Arya yang kini memperingati Nana.


"Siap, Suamiku," ucap Nana dengan gaya hormat bendera.


Nana mengambil tangan Arya dan menyalaminya. Arya membalas dengan mengecup seluruh wajah Nana. Terakhir Arya melahap bibir Nana cukup lama.


Setelah dirasa pasokan udara istrinya habis, Arya melepaskan pautan bibir mereka. Ibu jari Arya menyeka bibir Nana yang sedikit bengkak.


"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Arya.


"Waalaikumsalam," jawab Nana dengan senyumnya.


Nana berdiri di pintu rumah hingga mobil Arya sudah tidak terlihat lagi. Buru-buru Nana kembali masuk dan mengunci pintu. Bukannya kembali ke kamar, Nana memilih untuk pergi ke kamar Akmal.


.....


"Ayah," panggil Nana yang duduk bersama di balkon kamar Akmal. Nana mengajak Akmal untuk melihat pemandangan taman belakang dari balkon kamar Akmal. Agar Akmal bisa melihat keindahan rumah yang diberikan oleh suaminya.


Akmal menoleh ketika Nana memanggilnya. Seulas senyum kecil terbit di bibir Akmal.


Nana yang melihat senyum Ayahnya senang bukan main. "Ayah mengerti kalau Nana panggil?" tanya Nana tak percaya.


Akmal mengangguk kaku. Setelah itu dia kembali melihat taman yang menyejukkan matanya.


Nana yang duduk di kursi sebelah Akmal langsung berhambur memeluk lelaki paruh baya tersebut.


"Nana senang, sangat senang sekali. Akhirnya harapan Nana satu persatu terkabul," ucap Nana terharu dengan kemajuan kesehatan Akmal.


Tidak sia-sia rasanya dia merawat Ayahnya sendiri. Harapan yang dulu sangat dia harapkan menjadi kenyataan satu persatu terkabulkan. Keyakinan dan tekadnya yang kuat benar-benar terbalaskan.


Mas Arya harus tahu tentang ini. Batin Nana senang. Semua perkembangan Akmal tentu tidak lepas dari campur tangan Arya.


Nana melepaskan pelukannya dari badan Akmal. Dan memandang Ayahnya dengan binar bahagia.


"Ayah, kalau Mas Arya ada disini, dia pasti akan sangat bahagia melihat kemajuan Ayah," ucap Nana girang.

__ADS_1


Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah sendu. "Ayah, semoga Mas Arya sama Acha benar-benar ada urusan pekerjaan, ya Yah. Dan semoga segala ketakutan Nana ini nggak berarti," ucap Nana sendu.


Tangan Akmal terangkat mengusap lembut pucuk kepala Nana. Nana menikmati usapan tangan yang sudah sangat lama dia rindukan itu. "Usapan Ayah selalu bisa membuat Nana nyaman. Sudah sejak lama Nana merindukannya," ucap Nana memandang Akmal dengan mata berkaca-kaca. Ini bukan air mata kesedihan, ini merupakan air mata bahagia atas penantiannya.


Ditengah kegiatan Akmal dan Nana, terdengar suara pintu kamar. Nana menolehkan kepalanya ke pintu dan melihat kedatangan Papa dan Mama mertuanya.


"Papa, Mama," ucap Nana dengan senyum lembutnya.


Bumi dan Mita tersenyum. Dengan pasti mereka melangkah mendekat Nana dan Akmal.


"Apa kabar, Nak?" tanya Mita.


"Nana naik, Ma. Mama sama Papa apa kabar?" tanya Nana balik.


"Kita semua baik, Nak," jawab Mita lembut.


Nana mempersilahkan Bumi dan Mita duduk di kurs balkon yang tersisa untuk dua orang. Di sana memang ada empat kursi besi dan satu meja.


"Papa bukannya gantiin Mas Arya di kantor, ya?" tanya Nana.


"Tidak ada pekerjaan penting di kantor. Jadi semua bisa diurus oleh Gilang," jawab Bumi yang dibalas anggukan oleh Nana.


"Mama sama Papa mau minum apa?" tanya Nana.


"Jangan repot-repot, Nak. Mama bisa buat sendiri nanti," ucap Mita.


Nana menggeleng. "Biar Nana yang buatin minum. Papa sama Mama sama Ayah dulu, ya," ucap Nana kekeuh.


Bumi dan Mita mengangguk dan membiarkan Nana pergi untuk membuat minum.


Kini di balkon kamar itu hanya ada Akmal, Bumi dan Mita. Bumi memandang sahabat lamanya yang nampak lebih segara. Begitu juga dengan Mita. Sahabat SMA yang dikenal tegas dan dingin itu kini memiliki takdir yang bahkan dia saja tidak sanggup untuk menghadapinya.


"Akmal," ucap Bumi lembut.


Akmal menoleh. Matanya memandang Bumi dan Mita secara bergantian. "Bumi."


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


Maaf karena baru update teman-teman, semoga kalian nggak marah dan tetap suka cerita Nana dan Arya ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2