
🌹HAPPY READING🌹
"Dimana istri Arya?" tanya Arya memandang Atlantik dengan mata merah menahan air matanya.
Atlantik tertawa sumbang mendengar pertanyaan Arya. "Pertanyaan bodoh macam apa itu, Arya. Seorang suami tidak tahu keberadaan istrinya? Layak kah dia disebut seorang suami? Bahkan buaya di air saja lebih menjaga pasangannya!" jawab Atlantik yang memberikan hantaman tajam pada Arya.
Dadanya terasa sesak mendengar perkataan Atlantik. Tidak ada yang salah dengan apa yang Atlantik.katakan. Dia memang benar-benar bersalah dalam hal ini. Harusnya dia menyelidiki terlebih dahulu. Harusnya dia lebih percaya pada istrinya sendiri. Tapi tunggu, jika bukan Nana yang melakukannya, lalu siapa? Siapa yang berani berbuat seperti itu kepada Acha?
Arya kembali memandang Atlantik yang dengan santai menyeruput jusnya. "Bang," panggil Arya.
"Hem," jawab Atlantik berdeham.
"Katakan dimana Nana, Bang?" tanya Arya lagi. Saat ini dia benar-benar ingin bertemu istrinya. Dia ingin sekali memeluk Nana dan mengucapkan beribu maaf atas segala kata kasar yang telah dia ucapkan.
Atlantik menggeleng. Sebenarnya ingin sekali dia mengatakan bahwa Nana berada di apartemennya, tapi Arya pantas menerima semua ini. "Abang nggak tahu," jawab Atlantik.
"Kemarin Abang mengejar Nana, kan? Pasti Abang tahu dimana istri Arya," ucap Arya kekeuh memaksa Atlantik. Kemaren dia melihat Atlantik, Gilang dan Dinda mengejar Nana yang berjalan keluar rumah sakit.
Lagi-lagi Atlantik hanya tertawa sumbang melihat Arya. "Kamu tahu Arya, dalam pernikahan, suami adalah tempat seorang istri pulang, suami adalah tempat dia mencari kasih sayang, perhatian, dan juga cinta. Tapi sayangnya, Nana yang malang tidak mendapatkan itu semua," ucap Atlantik tanpa menjawab pertanyaan Arya.
Arya mengusap wajahnya frustasi. Sungguh, dia benar-benar ingin bertemu dengan Nana sekarang juga. "Bang, Arya mohon," ucap Arya lirih. Setetes air bening itu keluar begitu saja dari sudut mata Arya.
Atlantik berdiri dari duduknya. "Abang nggak tahu, Arya," ucap Atlantik dan langsung pergi menyusul istri dan anaknya. Meninggalkan Arya di sana bersama Bi Mirna.
"Kamu lihat, Arya? Kehidupan seorang wanita yang sudah aku anggap seperti cucuku sendiri benar-benar hancur setelah menikah denganmu! Aku menyesal telah mempercayakannya pada lelaki sepertimu, Arya!" ucap Bi Mirna langsung berjalan ke kamarnya sendiri.
Arya hanya menerima setiap umpatan dan kata-kata kasar yang terlontar untuknya. Dia pantas menerim itu semua. Ini semua memang kecerobohannya.
Saat asik dengan lamunannya, Arya teringat bahwa GPS di ponsel Nana terhubung dengan ponselnya. Arya langsung mengecek posisi Nana lewat ponselnya. Dan ternyata posisi yang ditunjukkan ada dirumahnya sendiri. Itu berani Nana tidak membawa ponselnya. Arya melempar ponselnya kesal ke sofa. Menjambak rambutnya sendiri dengan air mata penyesalan yang mengalir begitu saja mengenai pipinya. "Lo brengsek, Arya!" ucap Arya mengumpat dan memukul-mukul dadanya.
Arya bangun dan berjalan menuju lift untuk pergi ke kamarnya. Dia harus membersihkan diri terlebih dahulu baru setelah itu mencari keberadaan Nana.
.....
__ADS_1
Sedangkan di kamar tamu, Atlantik dan Dinda sedang duduk di kasur setelah menidurkan Freya yang sejak tadi terus menanyakan Nana.
"Mas, gimana Nana?" tanya Dinda pada Atlantik yang duduk di tepi ranjang. Sedangkan dia duduk dibagian tengah kasur sambil terus mengusap lembut rambut Freya.
"Aku belum telfon Bu Inah, Sayang. Aku telpon sekarang, ya."
"Nggak usah, Mas. Kita langsung kesana aja," ucap Dinda cepat mencegah Atlantik yang akan menghubungi Bu Inah. Wanita paruh baya yang selalu membersihkan apartemen Atlantik.
"Terus Freya?" tanya Atlantik memandang anaknya.
"Kita bawa, Mas. Aku harap kehadiran Freya bisa mengalihkan sedikit kesedihan Nana," ucap Dinda.
Atlantik mengangguk. Dia mengangkat tubuh Freya yang tertidur kedalam gendongannya, setelah itu mereka berdua berjalan keluar. Saat sampai di ruang tamu, Bi Mirna yang tadi ingin mengambil minum menghentikan langkah mereka.
Bi Mirna berjalan cepat dari arah dapur mendekati Atlantik dan Dinda.
"Kalian mau kemana? Kalian tahu dimana Nana, kan? Tolong bawa Bibi, ya," ucap Bi Mirna memohon kepada Dinda dan Atlantik.
"Terimakasih," ucap Bi Mirna tulus. Setelah itu Bi Mirna meletakkan gelas ditangannya dengan sembarangan di atas meja dan mengikuti langkah Atlantik beserta Dinda menuju mobil.
.....
Tidak butuh waktu lama, mobil Atlantik sampai di parkiran apartemen. Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung.
"Mama," panggil Freya yang berada di gendongan Atlantik. Saat diperjalanan tadi, Freya terbangun dari tidurnya dan langsung mencecar Dinda dengan segala pertanyaan mengenai Aunty kesayangannya.
"Masih lama ketemu Aunty?" tanya Freya tak sabar.
Dinda tersenyum. "Sebentar lagi, Sayang," jawab Dinda tersenyum.
Saat memasuki lift, ternyata Gilang juga memasuki lift yang sama dengan mereka.
"Gilang," sapa Bi Mirna.
__ADS_1
"Eh, Bi Mirna," ucap Gilang bingung memandang Dinda dan Atlantik meminta penjelasan.
"Bi Mirna lebih baik tahu, Lang," jawab Dinda.
Gilang hanya mengangguk dan tersenyum. Mungkin dengan keberadaan Bi Mirna dan Freya, Nana menjadi lebih tenang dan mendapat kekuatan dari orang-orang tersayangnya.
Lima menit, mereka sampai di depan pintu apartemen. Dinda menekan sandi dan pintu terbuka. Penampakan pertama yang mereka lihat adalah Bu Inah yang membersihkan ruang tamu.
"Bu Inah," panggil Dinda.
"Eh, Tuan," balas Bu Inah kaget.
"Wanita yang kemarin saya bilang sama Bu Inah menginap disini, apa sudah bangun, Bu?" tanya Dinda.
Nampak raut keterkejutan di wajah Bu Inah. "Loh, Tuan dan Nyonya belum tahu?" tanya Bu Inah bingung.
"Apa Bu?" tanya Gilang penasaran.
Wajah Bu Inah tiba-tiba sendu mengingat Nana yang baru saja kehilangan anaknya. "Saat saya sampai disini, saya melihat seorang wanita sudah pingsan di lantai, Tuan," ucap Bu Inah takut.
Mereka semua terkejut mendengar perkataan Bu Inah.
"Pingsan Bu?" tanya Dinda.
Bu Inah mengangguk. "Sepertinya wanita itu pingsan dari semalam. Saya langsung membawanya ke rumah sakit, tapi maaf Tuan, Nyonya, Dokter bilang dia kehilangan bayinya."
"APA?" teriak seseorang dari belakang mereka.
......................
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹
__ADS_1