Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 46


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Sesuai permintaan Arya, kini dia sudah mendapatkan rekaman CCTV yang kemarin dia minta kepada Dokter Rina.


Kini Arya sudah berada di kantornya bersama Gilang. Sedangkan Nana masih menemani Akmal di Rumah Sakit. Arya meminta Nana untuk tetap di Rumah Sakit, karena jika dia pulang ke rumah, maka Arya takut Meisya akan menghasut dan mengatakan yang tidak-tidak kepada istrinya.


"Kemarin mertua Lo kumat lagi, Ar?" tanya Gilang yang kini sudah duduk di sofa ruang kerja Arya.


Arya mengangguk. "Ayah Mertua gue mencoba bunuh diri Al," jawab Arya.


"Benar-benar sakit akibat ditinggalkan," gumam Gilang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Arya mengangguk menyetujui. Dia saja rasanya tidak sanggup jika Nana juga akan pergi meninggalkannya.


"Gue udah dapat ini, Lang. Ayo kita lihat," ucap Arya menunjukkan sebuah flashdisk kepada Gilang.


Gilang mengangguk. "Ar, apa mungkin wanita itu istrinya Om Akmal?" tanya Gilang saat Arya tengah mencari filenya.


"Bisa jadi, Lang," ucap Arya.


Arya dan Gilang melihat satu persatu file berisi rekaman video tersebut. Dengan serius Arya dan Gilang meneliti setiap apa yang terjadi.


"Pause, Lang," ucap Arya saat penglihatannya menangkap seorang wanita yang memasuki kamar Akmal dengan kaca mata hitam dan selendang dengan motif belang-belang Zebra.


"Dia membelakangi kamera, Ar," ucap Gilang.


"Lanjut lagi, Lang," titah Arya.


Gilang kembali melanjutkan rekaman tersebut. Dalam video tersebut terlihat bahwa wanita itu nampak berdiri di dekat Akmal. Dia seperti berbicara banyak pada Akmal yang tertidur.


Mata Arya dan Gilang membulat saat wanita itu mencium dahi Akmal sebelum dia akan pergi.


"Ini pasti istrinya Ayah. Mama Nana, Lang," ucap Arya.


Gilang mengangguk setuju. Arya menghembuskan nafasnya frustasi. "Selendang seperti ini banyak yang menjualnya, Lang. Dia sangat ahli menutupi wajahnya," ucap Arya.


"Sekarang harapan kita hanya Tante Meisya, Ar," ucap Gilang.


Arya mengangguk. "Gue ada cara untuk bisa mengetahuinya, Lang," ucap Arya.


"Apa?" tanya Gilang penasaran.


Senyum terbit di bibir Arya. "Kita gunakan Freya."


.....


Di Rumah Sakit, Bumi kembali datang menjenguk Akmal. Saat memasuki ruangan, Bumi melihat Akmal yang makan disuapi Nana. Jika seperti ini, Akmal terlihat seperti orang yang sehat. Wajahnya menurut dan tenang.


"Nak," panggil Bumi.


Nana menoleh. "Papa," ucap Nana tersenyum senang.


"Kamu pulanglah, Nak. Istirahat dulu, jangan sampai kamu kelelahan dan berakibat sakit," ucap Bumi.


"Tapi Ayah-"


"Biar Papa yang disini menemani Ayahmu," ucap Bumi.


"Apa tidak akan apa-apa, Pa?" ucap Nana sedikit ragu.

__ADS_1


Bumi tersenyum. "Percaya sama Papa, Nak. Jika ada apa-apa, Papa pasti akan mengajarimu," ucap Bumi.


Nana mengangguk. Setelah itu dia memberikan minum kepada Akmal saat makannya telah habis.


"Pa, Nana pamit, ya. Nanti Nana kesini lagi sama Mas Arya," ucap Nana. Karena Arya yang melarangnya bekerja, jadi Nana lebih memilih menghabiskan waktu di Rumah Sakit bersama Ayahnya. Dan Arya juga mendukung itu.


Bumi mengangguk. "Hati-hati, Nak," ucap Bumi.


"Iya, Pa," ucap Nana.


Setelah itu Nana keluar dari ruangan Akmal. Tapi sebelumnya dia mencium dahi Akmal terlebih dahulu.


Empat puluh lima menit, Nana sampai dirumahnya. Baru beberapa langkah memasuki rumah, suara Meisya menghentikannya.


"Enak sekali jadi menantu, ya. Pergi dan pulang seenak hati tanpa membantu pekerjaan dirumah sama sekali," ucap Meisya menyindir Nana.


Nana hanya tersenyum mendengar perkataan Meisya. "Asal suami saya mengizinkan, itu tidak akan masalah, Tante," ucap Nana.


Meisya yang duduk diruang tamu akhirnya berdiri dan berjalan mendekati Nana. Baru Meisya akan membuka suaranya, Arya tiba-tiba datang dan memeluk pinggang Nana dari belakang. Disusul Gilang dibelakang Arya.


"Kenapa pulang, Sayang?" tanya Arya.


Nana tersentak kaget karena kehadiran Arya yang tiba-tiba. Tapi dia bersyukur, setidaknya dia tidak akan terlalu lama.sakit hati karena Meisya.


Nana menggeleng sambil tersenyum menjawab pertanyaan Arya.


"Kenapa Tante?" tanya Arya mengalihkan pandanganya kepada Meisya.


Meisya menggeleng. "Tidak. Tante hanya ingin berbicara dengan istrimu," ucap Meisya.


"Maaf, Tante. Saya harus bawa istri saya ke kamar. Ada kewajiban yang harus dia laksanakan," ucap Arya dan langsung menarik pinggang Nana agar berjalan mengikutinya. Sedangkan Gilang berjalan ke arah dapur untuk mencari makan. Karena ini memang waktunya makan siang.


Sedangkan Meisya yang melihat kepergian Arya dan Nana mengepalkan tangannya kuat menahan emosinya yang sudah ingin meledak. Tapi dia berusaha menyembunyikan dengan wajah tenangnya.


.....


"Kenapa pulang, Mas?" tanya Nana saat mereka sudah ada di kamar.


Arya memeluk manja tubuh istrinya. "Kangen istri," ucap Arya.


Nana terkekeh pelan mendengar perkataan manja suaminya. "Yang dulunya dingin dan tak tersentuh udah jadi budak cinta, ya," ucap Nana meledek Arya.


"Aku manja sama istri sendiri dapat pahala, Sayang," ucap Arya.


Nana mengangguk dan tersenyum. "Lepas dulu, ya. Aku mau mandi dulu," ucap Nana.


"Lima menit lagi," ucap Arya mengeratkan pelukannya.


Nana menurut. Dia membiarkan Arya memeluk tubuhnya.


"Udah, Mas," ucap Nana.


Arya melepaskan pelukannya dan mencicipi lembut bibir Nana.


"Aku mandi dulu, ya," ucap Nana setelah Arya menikmati bibirnya dan Arya engangguk mengiyakan.


Setelah memastikan Nana berada didalam kamar mandi, Arya keluar kamar untuk mencari Freya.


"Kak," panggil Arya ketika melihat Dinda baru keluar kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa?" ucap Dinda.


"Freya mana?" tanya Arya.


"Di taman belakang sama Mama dan Acha. Dia marah padamu karena membawa Aunty Barbienya semalaman dan tak pulang. Dia menunggu kalian kemarin," ucap Dinda kesal. Karena kemarin dia harus mendiamkan Freya yang terus rewel menanyakan Nana.


"Itu salah Kakak yang berbicara tidak-tidak pada Freya," ucap Arya.


"Aku?" tanya Dinda menunjuk dirinya sendiri.


Arya mengangguk. "Kalau Kakak tidak menjahili aku menggunakan Freya, maka aku tidak akan membawa Nana pergi," ucap Arya dan langsung berlalu pergi mencari Freya.


Arya tidak mungkin mengatakan kemana mereka pergi, karena itu akan lebih memperumit semuanya.


Sedangkan Dinda hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah adiknya. "Kamu merubah Arya, Na," gumam Dinda senang.


"Freya," teriak Arya memanggil Freya.


Freya yang melihat Arya berjalan mendekat kearahnya langsung memasang wajah marahnya yang nampak sangat menggemaskan.


"Hai Bidadari, Uncle," ucap Arya.


Freya hanya diam tidak mau mendengar perkataan Arya.


"Kamu harus berusaha keras, Ar," ucap Acha yang gemes melihat wajah marah Freya.


Arya mengangguk. Tanpa aba-aba dia langsung mengangkat Freya yang berada di pangkuan Mita.


"Fleya malah sama Uncle," ucap Freya ketus.


"Yakin marah sama Uncle? Uncle bawa Aunty Barbie mau?" ucap Arya.


"Enggak boleh!" teriak Freya tepat di telinga Arya.


"Kali gitu ayo ikut Uncle," ucap Arya.


Freya mengangguk dengan wajah kesalnya.


"Ma, Cha, Arya bawa Freya dulu, ya?" ucap Arya.


"Kemarin malam kamu kemana sama Nana, Nak?" tanya Mita yang ikut penasaran.


"Buat cucu untuk Mama dan Papa," ucap Arya dan langsung pergi membawa Freya. Sedangkan Acha dan Mita yang mendengar itu terkekeh geli melihat Arya yang kini menjadi budak cinta Nana.


.....


Kini, Freya sudah berada di ruang kerja Arya bersama Arya dan Gilang.


"Mana Aunty Balbi, Uncle?" tanya Freya.


"Freya mau Aunty Barbie?" tanya Gilang.


Dengan antusias anak itu mengangguk. Dia sudah sangat merindukan Aunty kesayangannya.


"Freya harus bermain dulu sama Uncle sebentar," ucap Arya.


"Main apa?"


......................

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2