Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 36


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Waktu pulang kantor telah tiba. Nana sedang membereskan meja kerjanya yang nampak sedikit berantakan.


Saat sedang asik dengan kegiatannya, Arya datang menghampiri. "Udah selesai, Sayang?" tanya Arya lembut.


"Udah," jawab Nana dengan senyum mengembangnya.


"Ayok," ajak Arya.


Nana mengangguk. Dengan tangan saling bergandengan, mereka berjalan keluar kantor. Sepanjang perjalanan, banyak bisik-bisik karyawan mengenai hubungan Arya dan Nana. Tapi mereka berdua hanya cuek dan terus berjalan keluar lobby.


"Sayang, kita ke rumah aku dulu, ya," ucap Arya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, Pak," ucap Nana.


Mendengar Nana memanggilnya dengan sebutan Pak, Arya langsung memberikan ciuman tepat di bibir Nana. Nana yang mendapat serangan tiba-tiba melebarkan matanya kaget.


"Panggil Pak sekali lagi, aku cium lebih keras," ucap Arya.


Senyum mengembang di bibir Nana. "Iya, Sayang," ucap Nana manja.


Arya tersenyum senang mendengar perkataan Nana. Satu tangan Arya tidak lepas menggenggam tangan Nana. Sedangkan tangan yang lainnya memegang stir mobil.


Selang beberapa menit, mobil Arya sampai di depan rumahnya. Arya dan Nana turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


"Aunty Balbi," pekik Freya senang melihat kedatangan Nana.


Nana dengan senyum mengembangnya merentangkan tangan bersiap menangkap Freya yang berlari ke arahnya.


HAP.


Tubuh mungil Freya masuk sempurna ke pelukan Nana.


"Aunty kangen Freya," ucap Nana mencium seluruh wajah Freya.


Freya terkekeh geli merasakan wajahnya di cium Nana. "Hihihi geli Aunty. Fleya juga kangen Aunty," ucap Freya.


"Udah ada Aunty nya, Uncle dilupain," ucap Arya sedikit merajuk kepada Freya.


"Kalena Fleya lebih sayang Aunty dalipada Uncle," ucap Freya menjawab perkataan Arya.


"Good girl," ucap Nana senang. Arya ikut tersenyum melihat senyum Nana.


"Yang lainnya dimana, Sayang?" ucap Arya bertanya pada Freya.


"Enggak tahu," ucap Freya mengangkat bahunya.


Arya mengangguk mendengar jawaban Freya. "Sayang, aku ke kamar bentar, ya. Kamu mau ikut atau disini sama Freya?" tanya Arya.


"Aku disini aja main sama Freya," jawab Nana.


"Yasudah, aku keatas dulu, ya," ucap Arya pamit. Sebelum benar-benar pergi, Arya mengecup lembut dahi Nana dan Freya bergantian. Setelah itu dia berlalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sekarang kita mau kemana, Sayang?" tanya Nana menggendong Freya.

__ADS_1


"Ke kamal Fleya yuk, Aunty. Fleya ada mainan balu," ucap Freya.


Dengan antusias Nana mengangguk mengiyakan perkataan Freya.


.....


Nana dan Freya bermain di kamar Freya ditemani gelak tawa yang sangat keras. Entah apa yang terjadi, Freya benar-benar tertawa dengan kencangnya.


Bumi yang melewati kamar cucunya berhenti ketika mendengar suara gelak tawa Freya. Bumi mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Senyum terbit di bibir Bumi. Dengan langkah pastinya, Bumi memasuki kamar Freya.


"Wah, cucu Opa bahagia banget, ya," ucap Bumi.


"Haha Iya, Opa. Aunty Balbi tadi jadi Mr. Bean. Haha lucu, Opa," ucap Freya menjelaskan dengan tawanya.


Sedangkan Nana hanya tersenyum kikuk. Tidak tahukah Freya bahwa sekarang dia sedang malu.


"Cucu Opa main sendiri dulu, ya. Opa mau pinjam Aunty Barbienya sebentar," ucap Bumi.


"Jangan jauh-jauh, Opa. Di sana aja," ucap Freya menunjuk sofa dikamarnya.


Bumi mengangguk, setelah itu menatap Nana. "Bisa kita bicara sebentar, Nak," ucap Bumi.


Nana mengangguk dengan senyumnya. "Bisa, Pa," ucap Nana.


Bumi dan Nana berjalan menuju sofa dikamar Freya. Setelah mereka duduk, Bumi memandangi wajah Nana dengan lekat. Dia merasakan melihat sahabat lamanya yang sangat ingin ia temui di wajah Nana. Rindunya sedikit terobati karena itu.


"Nak, bagaimana hubunganmu dengan Arya?" tanya Bumi.


"Semuanya baik, Pa," jawab Nana.


Setelah itu Bumi hanya diam. Nana yang heran dengan pandangan Bumi kepadanya.


Dengan tersenyum Bumi menggeleng. "Nak, bisa pertemukan aku dengan Ayahmu?" tanya Bumi.


DEG


Ya Allah, aku takut nanti mereka tidak menerima keadaan Papa. Bagaimana ini? Batin Nana cemas.


Melihat Nana yang hanya diam, Bumi kembali bersuara. "Wajahmu mengingatkan aku dengan sahabatku, Nak," ucap Bumi.


Nana kembali diam. Dia masih belum siap jika orang tua Arya mengetahui mengenai keadaan Ayahnya.


"Nak, bolehkah aku bertemu dengan Ayahmu?" tanya Bumi lagi.


Dengan gugup Nana berusaha menjawab pertanyaan Arya. Baru Nana akan mengeluarkan suaranya, Arya sudah datang lebih dulu dengan pakaian rumahannya.


"Sayang," panggil Arya mendekat kearah Nana dan Bumi.


"Papa ngapain?" tanya Arya pada Bumi.


Arya mendudukkan tubuhnya di sebelah Nana. Sedangkan satu tangannya melingkar di pinggang Nana. Nana sebenarnya risih, tapi Arya semakin erat memegang pinggangnya.


Bumi yang melihat sikap posessive anaknya memutar bola mata malas. "Sekalinya jatuh cinta kamu jadi budak cinta, Arya," ucap Bumi meledek anaknya.


"Keturunan Papa," jawab Arya santai.

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu Papa keluar dulu," ucap Bumi pamit. Nana dan Arya mengangguk mengiyakan.


"Tadi Papa ngomong apa, Sayang?" tanya Arya setelah memastikan Bumi benar-benar pergi.


"Papa mau ketemu sama Ayah," ucap Nana memandang Arya sendu.


Arya yang sudah tahu arah pembicaraannya langsung membawa Nana kepelukannya. "Apa kamu siap jika keluarga kita saling bertemu?" tanya Arya.


Nana menggeleng. "Aku takut akan menerima penolakan. Aku belum siap," ucap Nana lirih.


"Sayang, percaya sama aku, Papa bukan orang yang seperti itu," ucap Arya meyakinkan Nana.


"Tapi aku belum siap," ucap Nana lirih.


"Kita akan cari waktu yang tepat. Percaya sama aku, semua akan baik-baik aja," ucap Arya lembut.


Nana hanya mengangguk dalam pelukan Arya. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga suara Freya menyadarkan mereka.


"Uncle, Aunty," panggil Freya cemas.


"Kenapa, Sayang?" tanya Nana.


"Itu, ada suala libut dali kamal Aunty Acha," ucap Freya.


Nana dan Arya menajamkan pendengaran mereka, dan benar saja, ada suara ribut. "Ayo kita susul," ucap Arya.


Nana menggendong Freya dan mengikuti Arya menuju kamar Acha.


"Enggak, Ma. Acha mau mati, Ma. Acha nggak mau kalau tanpa Zein, Ma," teriak Acha yang terdengar dari arah luar.


"ACHA!" teriak Arya melihat Acha dengan gunting ditangannya.


Arya berlari mendekati Acha, sedangkan Nana menenangkan Freya yang ketakutan. Semuanya sudah berkumpul di kamar Acha, sepertinya keributan sudah terjadi sejak tadi, tapi Nana dan Arya baru mengetahuinya.


"Kak, ini ada apa Kak?" tanya Nana pada Dinda sambil memberikan Freya kepada Dinda.


"Nggak tahu, Na. Kakak sampai sudah seperti ini," ucap Dinda.


"Acha, apa yang kamu lakukan? Lepaskan gunting itu Acha?" ucap Arya berjalan mendekat kepada Acha.


Sedangkan Meisya sudah menangis dipelukan Mita.


"Acha, kasih guntingnya sama Abang, Cha. Jangan gegabah seperti ini," ucap Atlantik ikut mencegah Acha.


"Acha, jangan seperti ini, Nak. Kalau Acha pergi Mama sama siapa?" ucap Meisya dalam tangisnya.


Masih ada aku, Ma. Batin Nana sendu yang melihat Meisya begitu putus asa karena Acha.


"Aku nggak mau hidup, Arya. Aku mau susul Zein, Arya. Aku nggak mau anak dalam kandungan aku lahir tanpa Ayahnya, hiks."


DEG


......................


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz


Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2