Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 72


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Berikan jantungmu untuk cinta pertamaku!" ucap Arya tegas.


Mereka semua menatap Arya tak percaya dengan apa yang telah Arya katakan.


"Arya!" ucap Mereka semua protes.


Gilang berjalan mendekati Arya. "Lo jangan gila, Ar. Itu sama aja Lo bunuh istri sendiri," ucap Gilang memperingati Arya.


Arya tidak bicara apa-apa. Dia tetap memandang Nana yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Nana tersenyum lirih. Dia memejamkan mata sebentar sambil terus mengusap perutnya yang masih rata.


"Jika itu membuatmu bahagia dan bisa menyelematkan cinta pertamamu, maka aku akan mewujudkannya," ucap Nana yakin dan langsung pergi meninggalkan mereka semua yang terdiam mendengar perkataan Nana.


Gilang yang sadar dan melihat Nana telah menjauh segera mengejar Nana. Diikuti Atlantik dan juga Dinda.


"Nana tunggu!" teriak Gilang.


Nana berhenti dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Setelah itu dia berbalik menatap Gilang bersama Atlantik dan Dinda.


Dinda langsung memeluk adik iparnya itu. Tidak ada tangis yang keluar dari mulut Nana. Tapi air matanya mewakili semuanya.


"Kamu tidak harus melakukan itu, Na," ucap Dinda menangis memeluk Nana.


Nana hanya diam. Dia melepaskan pelukan Dinda dan mencoba tersenyum. "Ini adalah bentuk pertanggungjawaban aku, Kak," ucap Nana berusaha tegar.


"Kamu mengakui sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan," ucap Dinda memandang dalam Nana.


Nana membalas pandangan Dinda. "Kakak salah, memang aku yang melakukannya," ucap Nana.


Setelah mengatakan itu, Nana berbalik badan dan sedikit berlari keluar dari rumah sakit. Saat sudah tidak melihat Gilang, Atlantik dan Dinda, Nana memegang perutnya. Air mata Nana mengalir dan tangisnya pecah dibalik tembok rumah sakit.


"Nak, jadi penyemangat Mama, ya. Kita akan melakukan semuanya untuk mendapat keadilan. Biarkan nanti mereka semua menyesal telah memperlakukan kita dengan tidak adik," gumam Nana pelan mengusap lembut perutnya.

__ADS_1


Ini sudah tengah malam. Rasa takut itu tidak ada dalam diri Nana. Tekadnya yang kuat untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah menambah semangatnya.


"Aku harus pergi sekarang juga ketempat kecelakaan itu. Pasti masih ada orang yang berlalu lalang di dekat sana," ucap Nana.


Nana langsung berjalan. Dia tahu, tempat kejadian tidak begitu jauh dari rumah sakit. Lima belas menit berjalan kaki, Nana sampai di sana. Nana melihat masih banyak darah yang berceceran disana.


"Darah sebanyak ini," gumam Nana tak percaya.


Saat Nana asik memperhatikan darah tersebut, sebuah tepukan di pundaknya membuat Nana kaget dan langsung berbalik.


Mata Nana membulat melihat Dinda, Gilang dan Atlantik yang berada dibelakangnya.


"Kalian-"


"Jangan menyiksa keponakan Kakak dengan keras kepalamu, Na," ucap Dinda yang mampu membuat Nana langsung memegang perutnya.


"Kalian ..."


"Kakak tahu semuanya. Kakak mohon, jangan korbankan diri dan anakmu karena kesalahan yang tidak kamu lakukan, Na," ucap Nana.


"Sekarang kita pulang, ya Na," bujuk Dinda.


Nana menggeleng. "Rumah itu bukan hak Nana lagi, Kak," ucap Nana sendu.


"Ke apartemen saya, Na," ucap Atlantik. Dinda dan Gilang mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Atlantik.


"Tapi-"


"Kamu harus istirahat demi anak kamu, Na," ucap Dinda.


"Kak, bolehkah Nana meminta sesuatu?" tanya Nana memandang mereka bertiga.


Gilang, Atlantik dan Dinda serentak mengangguk. "Jangan beritahu Arya bahwa Nana hamil," ucap Nana memohon.

__ADS_1


"Tapi Na-"


"Nana mohon Kak Gilang," ucap Nana.


Gilang, Dinda dan Atlantik mengangguk mengiyakan permintaan Nana. Setelah itu mereka semua pergi ke mobil dan melaju menuju apartemen Atlantik.


.....


Sedangkan di taman rumah sakit, Arya duduk termenung dengan kesendiriannya.


"Saat aku sudah jatuh sejatuh-jatuhnya kepada cinta istriku sendiri, mengapa semua ini menimpa. Mengapa harus istriku pelakunya?" ucap Arya dengan mata memerah.


Arya mengingat semua yang tadi dia lakukan kepada Nana. "Gue tau salah, tapi entah kenapa emosi gue menuntun gue kasar dan menghakimi istri gue sendiri," lanjut Arya.


"Tapi Nana harus mempertanggungjawabkan semuanya. Dia bersalah, Acha harus tetap hidup," ucap Arya lagi.


"Tapi tidak dengan mengorbankan Nana, Arya!" suara tegas Bumi dari arah belakang membuat Arya berbalik.


"Tapi Nana pantas, Pa. Dia sudah keterlaluan," ucap Arya.


"Ingat Arya! Kita belum menyelidiki semuanya dengan benar," ucap Bumi memperingati Arya.


"Nana memang bersalah, Pa," ucap Arya kekeuh.


"Jangan menyesal atas semuanya nanti, Arya," ucap Bumi pergi begitu saja meninggalkan Arya.


Arya hanya memandangi punggung Bumi yang mulai menjauh. Dia termenung dengan air bening menetes di susut matanya.


"Gue harus gimana?" ucap Arya frustasi menjambak rambutnya sendiri.


......................


Semoga di bulan penuh berkah ini semua yang kita doakan dapat terwujud, semoga kebaikan selalu bersama kita ya teman-teman. Dan satu lagi, Author doakan rezeki kalian mengalir semakin lancar di bulan yang suci ini agar terus bisa beli kuota buat selalu baca novel author, yaa.

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2