Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 54


__ADS_3

Kini Nana dan Arya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Akmal dirawat. Sedari tadi Nana diam dengan terus memandang keluar jendela.


"Sayang," panggil Arya lembut.


Nana menoleh dan tersenyum. "Iya, Mas," ucap Nana lembut.


"Maaf," satu kata yang keluar dari mulut Arya.


Nana tidak menjawab dan malah mengalihkan pandangannya keluar mobil.


Arya menghela nafas pelan melihat respon Nana. Arya mengurangi laju mobil mereka dan menepikan mobilnya.


"Sayang," panggil Arya lembut.


Nana menoleh. Mata wanita itu sudah nampak merah. Air bening itu sudah mengenang di pelupuk matanya.


"Hiks, hiks," tangis Nana pecah memandang mata Arya. Dia masih merasa sakit ketika tadi Arya hanya diam saat dia di tampar berulang kali oleh Meisya. Sakit di pipinya tidak seberapa, tapi hatinya sungguh terluka.


Arya langsung membawa Nana kedalam dekapannya memberi ketenangan terhadap istrinya.


Nana memukul-mukul dada Arya melampiaskan sakit hatinya.


"Jahat, jahat, jahat, hiks," ucap Nana memukul dada Arya dengan brutal.


"Maaf, Sayang. Maaf," ucap Arya menyesal atas sikapnya.


"Kenapa diam aja tadi? Kenapa nggak belain aku sama sekali? Bukan aku yang buat Acha celaka. Bukan aku yang buat cinta pertama kamu kehilangan anaknya, hiks," ucap Nana melampiaskan segala emosinya.


"Sayang, aku melakukan itu karena ingin melihat sejauh mana kamu bisa membela diri kamu sendiri. Tapi kamu malah hanya menerima semuanya," ucap Arya.


"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Aku harus bersujud supaya mereka percaya bukan aku yang melakukan itu? Aku harus bersujud di kaki Mama, Mas?" tanya Nana lirih.


"Bukan begitu maksud aku, Sayang," ucap Arya.


"Kamu jahat," ucap Nana menangis dalam dekapan Arya.


Arya mengangguk menyetujui perkataan Nana. "Maafkan aku. Aku memang jahat, maaf," ucap Arya menyesal. Dia ingin memberi waktu Meisya untuk menghina Nana sepuasnya hingga akhirnya dia akan membongkar semua kebenarannya dan membuat Meisya sangat menyesal.


Arya melepaskan dekapannya dan menangkup kedua pipi Nana. Hati Arya sakit melihat kedua pipi Nana yang masih nampak merah dan sedikit kebiruan di tulang pipinya. Begitu keras Meisya menamparnya hingga meninggalkan bekas seperti ini.


Arya mengecup kedua pipi Nana dengan lembut. Nana sedikit meringis merasakan bibir Arya menyentuh pipinya. "Maaf, Sayang," ucap Arya menyesal.


Nana mengangguk. Dia mengerti kenapa suaminya melakukan ini. Tapi hatinya kesal karena Arya keterlaluan.


"Sakit banget," ucap Nana mengadu sambil memegang kedua pipinya.


Arya kembali mencium kedua pipi Nana berkali-kali hingga sedikit senyum terbit di bibir Nana. "Udah kurang," ucap Nana manja.


Arya tersenyum lembut melihat tingkah istrinya yang manja.


"Sayang," panggil Arya lembut.

__ADS_1


"Iya," jawab Nana.


"Kamu harus tahu satu hal. Aku percaya, bukan karena kamu Acha kehilangan bayinya. Dan aku nggak suka kamu mengungkit bahwa Acha cinta pertama aku. Sekarang dan selamanya cuma kamu yang aku mau, nggak akan ada orang lain, Sayang. Jadi kamu jangan pernah merasa sendiri, ya. Ada aku," ucap Arya menatap Nana lembut.


Nana tersenyum dan mengangguk. "Maaf, Mas. Tadi aku kesal aja," ucap Nana menyesal.


"Kamu nggak ketemu Acha dulu, Mas?" tanya Nana teringat Acha yang masih di rumah sakit.


Arya menggeleng. "Istri aku lebih butuh aku sekarang," jawab Arya.


Nana tersenyum senang mendengar perkataan Arya. Arya begitu memprioritaskan nya dari apapun. "Terimakasih, Mas," ucap Nana.


"Apapun untuk kamu, Sayang," ucap Arya mengecup dahi Nana. Nana memejamkan mata menerima ciuman hangat di dahinya. Sungguh, dia sangat beruntung bisa mendapatkan Arya.


Hingga beberapa detik, Arya menyudahi kegiatannya. "Pulang atau ke tempat Ayah?" tanya Arya.


"Mau ketemu Ayah," jawab Nana.


Arya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit jiwa tempat Akmal dirawat.


.....


Sedangkan di tempat lain, Acha masih belum sadar dari pengaruh biusnya. Meisya dengan setia menemani Acha meskipun kini wanita itu nampak sering melamun dan diam. Dinda dan Mita yang menemani Meisya sedikit iba melihatnya, tapi bagaimanapun juga Meisya memang sudah sangat keterlaluan.


Bumi memilih pergi menemui Akmal, sedangkan Atlantik menemani Freya dirumah. Sangat tidak baik bagi anak itu untuk tetap berada di rumah sakit.


"Ma," panggil Acha lemah dengan mata yang sedikit terbuka.


"Iya, Sayang," ucap Meisya lembut.


Acha memegang perutnya dengan mata berkaca-kaca menatap Meisya. "Ma, anak Acha," ucap Acha dengan suara bergetar.


"Apa anak Acha masih ada, Ma?" lanjut Acha bertanya lirih.


Meisya hanya bisa menggeleng menjawab pertanyaan Acha. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Acha.


"Hiks, Acha gagal menjaga buah cinta Acha sama Zein, Ma," ucap Acha menangis.


"Sayang, jangan seperti ini," ucap Meisya.


"Zein pasti marah sama Acha, Ma," ucap Acha.


"Acha, kamu harus ikhlas, Nak. Semuanya bukan salah kamu. Mungkin Allah lebih menyayanginya, Nak," ucap Mita ikut menenangkan Acha.


Acha mengangguk pasrah menerima semuanya. Menyesali dan menangispun tidak akan mengembalikan semuanya.


Sekarang kamu sudah berada dipangkuan Baba di surga, Nak. Sampaikan rindu Mama selalu sama Baba kamu. Mama ikhlas. Sering-sering ajak Baba untuk mengunjungi Mama lewat mimpi ya, Nak. Batin Acha pilu.


.....


Nana dan Arya sudah berada di ruang rawat Akmal. Di sana juga ada Akmal, Bi Mirna serta Bumi.

__ADS_1


Nana duduk di kursi sebelah ranjang Akmal. Tangannya terulur mengusap dahi Akmal yang sedang tertidur.


"Ayah, sembuh dong," ucap Nana lirih yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Arya yang berdiri dibelakang Nana mengusap lembut bahu istrinya.


"Ar," panggil Gilang pelan.


Arya menoleh kepada Gilang dan menaikan sebelah alisnya.


"Acha udah sadar," ucap Gilang sedikit berbisik yang baru mendapat kabar dari Dinda. Namun, Nana masih bisa mendengar perkataan Gilang.


"Kamu kalau mau lihat Acha nggak apa, Mas. Biar disini aku sama Bibi aja," ucap Nana menengadah melihat Arya.


Arya menggeleng. "Aku disini, Sayang," ucap Arya.


"Iya, Na. Biar Arya disini. Papa dan Gilang yang akan kembali ke tempat Acha," ucap Bumi.


"Tapi Acha pasti butuh kamu, Mas," ucap Nana.


"Tapi aku butuh istriku," jawab Arya.


"Enggak apa-apa, Na. Biar saya dan Om Bumi yang kesana. Ayo, Om," ucap Gilang mengajak Bumi.


Bumi mengangguk. "Kalau begitu kami pergi dulu. Arya jaga semuanya disini," ucap Bumi.


"Iya, Pa," jawab Arya. Setelah itu Gilang dan Bumi keluar dari ruangan Akmal dan segera menuju rumah sakit tempat Acha dirawat.


"Mas," panggil Nana pelan.


"Iya Sayang," jawab Arya lembut.


"Em ... Aku mau rawat Ayah sendiri. Ayah kita bawa pulang aja, ya, Mas," ucap Nana memohon kepada Arya.


"Tapi Sayang-"


"Aku mohon, Mas. Aku mau rawat Ayah sendiri. Lagian aku kan udah nggak kerja. Izinin ya, Mas," mohon Nana.


"Baiklah. Tapi kita tetap meminta seorang perawat untuk selalu mengawasi Ayah," ucap Arya mengabulkan permintaan Nana.


Sontak jawaban Arya membuat Nana mengembangkan senyumnya. Dengan erat Nana memeluk pinggang Arya.


Bi Mirna yang mendengar perkataan Arya juga ikut tersenyum senang. Kamu mendapat lelaki yang tepat, Nak. Batin Bi Mirna melihat Nana yang memeluk perut Arya.


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


Jangan lupa, ikuti juga kisah di novel aku yang lain dengan judul "Derajat Rumah Tanggaku" dijamin nggak kalah seru.

__ADS_1


__ADS_2