
🌹HAPPY READING🌹
"CUKUP TANTE! WANITA YANG TANTE BILANG TIDAK TAHU DIRI DAN TIDAK JELAS ADALAH ANAK YANG TANTE TINGGALKAN DUA PULUH TAHUN LALU!" teriak Arya marah membongkar semuanya.
Meisya menegang mendengar penuturan Arya. Tubuhnya tiba-tiba kaku dalam sekejap.
Sama halnya dengan mereka semua yang mendengar penuturan Arya. Keterkejutan nampak jelas dari raut wajah mereka.
"Mas," panggil Nana lirih.
"Cukup, Sayang. Sudah harusnya dia tahu yang sebenarnya," ucap Arya menatap Nana.
Nana hanya bisa menangis. Arya yang melihat istrinya seperti itu langsung memeluknya.
"Tante tahu, karena sikap egois Tante yang pergi meninggalkan Nana, dia harus menderita dan menanggung segala beban hanya demi bertahan hidup. Dia harus merawat Ayahnya yang terkena gangguan jiwa karena ulah Tante!" ucap Arya tegas.
"Arya."
"Arya."
Ucap Dinda dan Mita secara bersamaan ketika mendengar perkataan Arya.
"Maaf jika Arya baru memberitahu kalian. Ayah Nana memang mengalami gangguan jiwa. Tapi itu terjadi karena seorang wanita egois yang pergi meninggalkan anak dan suaminya hanya karena kehidupan yang lebih layak!" ucap Arya menatap Meisya yang mematung di tempatnya.
"Katakan ini tidak mungkin, Arya," ucap Meisya menggeleng.
"Tapi memang itu kenyataanya, Tante," jawab Arya.
"Karena Tante, istri saya harus merasakan kerasnya hidup sejak dia kecil. Karena Tante, istri saya harus banting tulang dan mengikhlaskan masa kecil dan masa remaja. Karena keegoisan Tante, istri saya harus ke sana kemari mencari uang untuk menyambung hidup mereka," ucap Arya menatap Meisya dengan tangannya yang masih setia memeluk tubuh Nana yang bergetar karena tangis.
Dari arah ujung, nampak Gilang datang bersama Bi Mirna dan Akmal yang duduk dengan tenang di kursi roda, ditemani oleh seorang perawat disebelahnya.
"Lihat itu, Tante," ucap Arya menunjuk Akmal dari tempatnya.
Mata Meisya melotot sempurna melihat orang yang selama ini ia kunjungi di rumah sakit jiwa kini ada didepan matanya.
"Akmal," gumam Mita mengenali temannya dan juga teman suaminya.
"Pa," ucap Mita memandang Bumi.
Bumi mengangguk. "Iya, Ma. Dia adalah Akmal. Sahabat yang dulu sangat kita sayangi," ucap Arya.
Mita menutup mulutnya tak percaya melihat semua yang terjadi.
__ADS_1
Tangis Nana semakin pecah melihat kedatangan Ayahnya.
Nana melepaskan pelukannya dari Arya dan berjalan mendekati Akmal. Nana bersimpuh di depan kursi roda Akmal.
"Ayah," ucap Nana dengan suara bergetar karena tangisnya. Nana memeluk erat perut Akmal.
Akmal hanya diam dengan tatapan kosong ke depan.
Bi Mirna yang melihat Meisya langsung mendekat kepada Meisya.
PLAK.
Satu tamparan dari Bi Mirna mendarat di pipi Meisya.
"Bi Mirna," gumam Meisya memegang pipinya.
"Kamu Ibu paling kejam, Meisya!" tegas Bi Mirna menunjuk tepat wajah Meisya.
"Kamu meninggalkan anak kandungmu hanya demi uang. Bahkan kamu lebih memilih anak tirimu sendiri, Meisya," ucap Bi Mirna.
"Dia pantas menerima itu. Dia mencelakai cucu saya," ucap Meisya tak tahu diri.
Nana yang mendengar perkataan Meisya langsung berdiri dan mengusap air matanya kasar. Dia berjalan mendekati Meisya.
"Mama," panggil Nana lirih.
"Panggilan itu akhirnya terucap setelah sekian lama," lanjut Nana sendu.
"Saya kira, jika anda mengetahui saya adalah anak anda, anda akan bersikap baik dan berubah. Tapi ternyata hati anda memang sangat keras. Bahkan setelah mengetahui bahwa saya adalah anak anda, anda masih bersikap buruk. Apa kehadiran saya benar-benar tidak pernah anda harapkan?" tanya Nana sendu.
"Ya!" jawab Meisya tegas dengan wajah sombongnya.
Semua orang terkejut mendengar jawaban Meisya.
"Jika bukan karena Ayahmu yang gila itu, maka masa depan saya tidak akan suram. Saya pasti akan bahagia dengan kekasih saya. Tapi, Ayah kamu itu datang dan merenggut keperawanan saya!"" ucap Meisya mengalihkan pandangannya.
"Tapi dulu kamu bahagia hidup dengan Akmal, Meisya," jawab Bi Mirna yang menjadi saksi atas rumah tangga Akmal dan Meisya.
"Itu karena dia masih mapan," jawab Meisya.
"Kamu memang Ibu yang sangat buruk Meisya," ucap Bi Mirna tajam. Meisya yang mendengar itu hanya diam menahan tangisnya.
Sesekali Meisya melirik Akmal yang hanya diam dengan pandangan kosongnya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Akmal menurunkan kakinya dari kursi roda.
"Ayah," gumam Nana yang melihat Akmal berdiri dan berjalan mendekat mereka.
Akmal menatap Meisya dengan tatapan sendu. Air matanya mengalir di pipi begitu melihat wajah Meisya dari arah dekat.
"Jangan tinggalkan aku dan anakku," gumam Akmal yang mampu meruntuhkan hati Nana.
Meisya yang melihat itu dengan sekuat tenaga menahan air matanya. Jujur saja, dia sudah jatuh cinta kepada suaminya itu. Tapi karena ego dan rasa malunya, dia memilih untuk mengeraskan hatinya.
"Jangan tinggalkan aku dan anakku," gumam Akmal lagi.
"Ayah," ucap Nana bergetar menahan bahu Akmal agar mundur dari hadapan Meisya.
Akmal memberontak dan melepaskan tangan Nana dari bahunya secara kasar. Setelah itu dia beralih memegang kedua bahu Meisya dengan sangat erat. Meisya meringis sakit mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Akmal.
"Ayah, Ayah sudah, Ayah," ucap Nana mencoba melepaskan tangan Akmal dari bahu Meisya.
Arya yang melihat semuanya sudah tak terkendali menyuruh perawat untuk memberikan suntikan penenang. Dengan sigap perawat itu melakukan apa yang diperintahkan Arya.
Tubuh Akmal lemas dan terjatuh ke lantai setelah mendapat suntikan. Nana dengan sigap memangku kepala Ayahnya agar tidak terbentur lantai.
"Hiks, Ayah," tangis Nana tidak kuat melihat Ayahnya.
"Sayang, Ayah harus kita bawa kembali," ucap Arya.
Nana mengangguk dan membiarkan Gilang, Bumi dan Arya mengangkat Akmal ke atas kursi roda. "Bawa, Lang," ucap Arya pada Gilang. Arya mengangguk dan kembali membawa Akmal bersama perawatnya.
"Saya diam karena saya masih menghargai kamu sebagai Ibu saya, tapi jika sampai sesuatu terjadi pada pahlawan dan lelaki kesayangan saya, maka saya akan bertindak lebih jahat dari yang kamu lakukan!" ucap Nana menatap Meisya dan setelah itu segera berlari mengejar Akmal yang dibawa oleh Gilang dan perawat.
"Saya menyesal kenapa harus Tante yang menjadi mertua saya!" ucap Arya tajam dan ikut berlalu menyusul istrinya.
Bumi yang melihat kepergian Arya dan Nana kini mendekat kearah Meisya. "Jadi kamu yang membuat sahabatku seperti itu, Meisya?" ucap Bumi sendu.
"Kamu merusak banyak kehidupan hanya karena keegoisanmu," lanjut Bumi dan pergi dari sana.
Mita yang melihat kepergian Bumi ikut menyusul.
Badan Meisya luruh ke lantai, tidak kuat menerima segalanya. Dinda berjalan mendekati Meisya yang menangis itu. "Dinda tahu Tante orang baik, perbaiki semuanya sebelum semakin terlambat, Tante."
......................
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.
__ADS_1
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹
Jangan lupa, ikuti juga kisah di novel aku yang lain dengan judul "Derajat Rumah Tanggaku" dijamin nggak kalah seru.