
🌹HAPPY READING🌹
Sesuai pembicaraan mereka kemarin, kini Arya, Acha dan Meisya berada dalam penerbangan untuk kembali ke Tanah Air. Tidak ingin membuang-buang waktu, mereka menggunakan jet pribadi milik Almarhum Papa Acha.
Arya duduk sendirian di kursi belakang Acha dan Meisya. Lelaki tampan itu memandang jauh ke awan lepas sambil bertopang dagu. "Kebahagiaan kamu akan datang, Sayang," gumam Arya senang mengingat Nana.
Ini memang tidak akan bisa menebus penghinaan dan penolakan yang dulu selalu aku berikan, Sayang. Tapi setidaknya, aku berhasil menghiasi wajah cantik kamu dengan senyuman. Batin Arya senang. Sungguh, dia sudah tidak sabar untuk segera sampai dan menemui keluarganya.
Sedangkan di kursi depan, Acha nampak menyandarkan kepalanya di bahu Meisya. "Ma," panggil Acha lembut.
"Iya, Nak," jawab Meisya lembut mengusap kepala Acha.
"Setelah Mama bertemu dengan Nana dan Om Akmal, apa Mama akan lupain Acha?" tanya Acha menengadah memandang Meisya sendu.
"Nak, kamu juga anak Mama. Sampai kapanpun kamu tetap jadi anak Mama. Dan Nana adalah saudara kamu. Om Akmal adalah Ayah kamu juga. Semoga kedatangan kita mendapat sambutan baik, Nak," ucap Meisya berharap.
Acha mengangguk yakin. "Mereka semua orang baik, Ma. Mungkin awalnya kita harus menjelaskan semua, tapi Nana pasti bisa memahaminya, Ma," ucap Acha.
"Bisa ceritakan bagaimana Nana, Nak," pinta Meisya ragu kepada Acha. Sebenarnya ini sudah dari kemarin ingin dia sampaikan. Tapi dia tidak ingin melukai hati Acha.
Acha tersenyum lembut. "Mama tahu, Nana adalah wanita kuat. Dia sama seperti Mama, wanita tangguh. Mama tahu, seorang wanita yang besar karena luka dan perjuangan akan lebih berharga dari seorang wanita yang selalu mendapatkan kemudahan, Ma. Nana sangat spesial. Acha sangat beruntung memiliki Nana sebagai saudara Acha," ucap Acha antusias menceritakan Nana.
"Apa dia cantik, Nak?" tanya Meisya.
Acha mengangguk yakin. "Sangat cantik. Nana itu Om Akmal versi wanitanya, Ma," jawab Acha membayangkan wajah Akmal dan Nana yang begitu mirip.
Meisya tersenyum senang mendengar segala ucapan Acha. Kamu merawat anak kita dengan sangat baik. Batin Meisya berucap dengan segala ketidaktahuannya mengenai keadaan Akmal.
Sedangkan Arya yang mendengar cerita Acha dan Meisya tersenyum senang. Istriku memang sangat spesial. Batin Arya.
.....
Melewati penerbangan yang sangat lama, kini Arya, Acha dan Meisya sudah berada di mobil menuju rumah Arya. Arya mendapat kabar dari Gilang bahwa mereka semua kini sedang berada dirumahnya. Kecuali keluarga kecil Dinda dan Atlantik yang sedang berlibur ke Singapura.
"Apa masih jauh, Arya?" tanya Meisya tak sabaran.
"Lima belas menit lagi, Tante," jawab Arya menengok ke kursi belakang. Karena sekarang dia duduk di kursi sebelah kemudi.
"Sabar Ma," ucap Acha. Dia tahu, saat ini Meisya sangat gugup dengan apa yang akan terjadi.
Meisya hanya mengangguk dan tersenyum. Menormalkan detak jantungnya. Segala macam bayangan apa yang akan terjadi ada dalam bayangannya.
Semoga semua terjadi sesuai harapanku. Batin Meisya berharap. Dia memalingkan wajah keluar memandangi jalanan kota yang sudah lama tidak dia datangi.
Sedangkan dirumah Arya, Nana, Mita, Bi Mirna dan Akmal sedang duduk bersama di taman belakang. Tapi tidak dengan Gilang dan Bumi yang berada di ruang kerja Arya. Nana menyuapi Akmal buah yang sudah dikupas dan potong-potong.
Sepeti biasa, Akmal hanya diam dan menerima setiap potongan buah yang diberikan oleh Nana. Memandangi bunga indah di hadapannya dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Mita, Bi Mirna bercerita dan sesekali tertawa. Sedangkan Nana hanya mendengarkan dan ikut tersenyum ketika mendengar cerita yang lucu.
"Bunga kesukaan Ibu dari anakku," celetuk Akmal tiba-tiba yang menghentikan pergerakan Nana, Mita dan Bi Mirna.
Mata Akmal tetap menyorot kosong ke depan tanpa menoleh sedikitpun.
"Ayah merindukannya?" tanya Nana. Mita dan Bi Mirna ikut memandangi Akmal lekat.
Diam. Itulah yang dilakukan Akmal. Tidak ada lagi suara yang dia keluarkan untuk menjawab pertanyaan Nana.
Nana, Bi Mirna dan Mita saling pandang. Mita menggeleng kepada Nana. Bermaksud memberi kode agar Nana tidak bertanya lagi atau memaksa Akmal. Karena takut itu akan kembali mempengaruhi kesehatan Akmal.
Nana mengangguk mengerti akan maksud Mita. Dia kembali memandang Akmal dengan pandangan yang sangat tulus. Sungguh, dia sangat menyayangi Ayahnya.
"Ayah, Dia begitu berharga sampai-sampai Ayah selalu mengingat dia. Cinta Ayah kepadanya tulus. Nana berharap semoga Ayah dapat menerima semua yang terjadi dan keluar dari pikiran yang membuat Ayah seperti ini," ucap Nana lembut mengusap rambut Akmal.
Akmal hanya diam. Tidak ada respon apapun yang dia berikan. Sedangkan Mita dan Bi Mirna memandangi Nana dengan tatapan Iba. Wanita yang tumbuh dengan begitu banyak perjuangan.
Disela-sela kegiatan mereka, sebuah suara yang Nana rindukan terdengar ditelinganya.
"Sayang."
Mereka semua menoleh ke pintu taman, senyum lebar terbit di bibir Nana. "Mas Arya," pekik Nana senang.
Arya berjalan kencang mendekati Nana. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Nana yang sedang duduk di kursi bersama Akmal. Bahkan badan mereka bergerak ke kiri dan ke kanan karena saking eratnya pelukan itu.
"Aku juga," jawab Nana lembut.
"Ekhem," dehem Mita keras menyadarkan Arya dan Nana dari dunia mereka berdua.
Nana yang malu segera melepas pelukannya dan menatap mereka semua dengan senyum tanpa dosanya. Arya? Bahkan dia bersikap cuek seolah itu biasa untuknya.
Arya beralih menatap Akmal yang hanya diam. Dia bersimpuh didepan kursi Akmal dengan kedua lututnya sebagai tumpuan.
"Apa kabar Ayah mertua?" tanya Arya. Walaupun tahu tidak akan mendapat respon, tapi Arya tetap mengajak Akmal bicara.
"Semoga setelah ini kebahagiaan datang, Ayah," lanjut Arya menyalami dan mencium punggung tangan Akmal.
"Maksudnya Mas?" tanya Nana.
"Sekarang kita ke ruang tamu, ya. Ada kejutan buat kalian semua," jawab Arya.
"Kejutan?" tanya Bi Mirna heran.
Arya mengangguk yakin. "Biar aku yang dorong Ayah," ucap Arya mendorong kursi roda.
Mereka semua memasuki rumah dan berjalan menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Mas sebenarnya ada apa sih?" tanya Nana penasaran.
"Tunggu aja, Sayang," jawab Arya.
"Kamu pulang-pulang bikin penasaran deh, Arya," ucap Mita ikut kesal dengan anaknya itu.
Arya hanya tersenyum dan terus melanjutkan langkahnya sambil mendorong kursi roda Akmal.
Tubuh Nana seketika menegang melihat siapa yang duduk di ruang tamu bersama Acha, Gilang dan Bumi. Langkahnya terhenti begitu saja. Nana memandangi Akmal yang terus menatap dengan pandangan kosong entah kemana. Ketakutan kini menguasai diri Nana. Dia takut semua ini akan memperburuk kondisi kejiwaan Akmal.
"Mas berhenti!" teriak Nana.
Nana langsung mengambil alih memegang kursi roda Akmal dari Arya. "Kamu mau ngapain, Sayang?" tanya Arya kaget.
"Aku nggak mau Ayah ketemu dengan wanita kejam itu. Nanti Ayah bisa down lagi Mas. Aku harus bawa Ayah ke kamar," ucap Nana mengarahkan kursi roda Akmal ke lift rumah mereka.
Mereka semua yang ada diruang tamu seketika berdiri begitu mendengar suara keras Nana. Berjalan perlahan mendekati Arya, Nana, Mita, Bi Mirna dan Akmal. Air mata Meisya mengalir tanpa bisa dia minta melihat Akmal yang duduk di kursi roda.
"Sayang, dengar du-"
"Enggak! Ayah harus kembali ke kamar," ucap Nana kekeuh.
"Sayang dengar dulu. Kamu harus tahu Yang sebenarnya," ucap Arya mencoba membujuk Nana dan menahan kursi roda Akmal.
"Tahu apa, Mas? Aku udah tahu kalau dia wanita jahat. Dia bisa buat Ayah tambah down lagi," ucap Nana kekeuh. Dia mengingat saat Akmal bertemu dengan Meisya saat Acha keguguran di rumah sakit, dia tidak ingin itu terulang lagi.
"Sayang, semua ini salah paham."
"Enggak, Mas. Dia memang wanita jahat," ucap Nana.
"Sayang, dia-"
"Enggak Mas. Lepasin kursi roda Ayah," ucap Nana mencoba melepaskan tangan Arya dari kursi roda Akmal.
"Kamu harus dengar dulu," ucap Arya.
"Enggak, Mas. Dia wanita jahat, aku sama Ayah nggak mau ketemu dia."
"Sayang-"
"Tidak, Mas!"
"DENGAR DULU, SAYANG!"
......................
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
__ADS_1
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹