Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 66


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Hiks, maafkan Mama, Nak," ucap Meisya menyesal menangkup kedua tangannya di dada.


Meisya merasakan pelukan hangat dari belakangnya. Dia menengok dan melihat Acha yang sedang memeluknya.


"Jangan hakimi Mama kita, Na. Semuanya salah paham dimasa lalu. Tidak sepenuhnya Mama bersalah dalam hal ini," ucap Acha memeluk Meisya.


Meisya memandangi Nana yang menangis menunduk dihadapannya. "Maafkan Mama, Nak," ucap Meisya tulus.


Nana mengangkat kepalanya menatap Meisya. "Bisakah berjanji untuk tidak pernah pergi lagi?" tanya Nana dengan suara bergetar.


Nana mengangguk semangat mengiyakan perkataan Meisya. Nana langsung memeluk Meisya. Melepaskan segala rindu yang sudah sangat lama bersarang dihatinya. Pelukan yang selalu dia harapkan setelah bangun dari tidurnya.


Nana memandangi Acha yang tersenyum dibelakang Meisya. "Kakak," panggil Nana lembut.


Tangis Acha semakin pecah. Dia mengangguk mengiyakan panggilan Nana. Acha memang lebih besar satu tahun dari Nana.


Meisya melepaskan pelukannya pada Nana. Setelah itu dia membawa kedua putri yang sangat dia sayangi itu kedalam pelukannya. Mereka semua yang melihat itu ikut tersenyum haru karena bahagia. Penantian seorang anak kecil yang besar penuh perjuangan itu akhirnya terbalaskan.


Setelah puas berpelukan, Meisya beralih menatap Akmal. Mereka semua memandangi Akmal dan Meisya dengan pandangan sendu.


"Mas," ucap Meisya lembut memanggil Akmal.


Akmal hanya diam dengan pandangan kosong ke depan. Melihat Akmal yang tidak meresponnya, Meisya memajukan wajahnya, cup. Satu kecupan itu mendarat di pipi kanan Akmal.


Akmal menoleh ke kanannya. Air bening keluar begitu saja ketika melihat wajah seorang wanita yang sangat dia rindukan berada sangat dekat dengannya.


"Istriku kembali," ucap Akmal kaku.


Meisya mengangguk dalam tangisnya. "Meisyamu telah kembali," ucap Meisya.


"Meisyaku?" tanya Akmal seperti orang linglung.


Meisya mengangguk. Dia mengambil tangan Akmal dan meletakkan tangan tersebut ke wajahnya. "Rasakan keberadaan aku, Mas," ucap Meisya.


Tangan Akmal meraba-raba lembut wajah Meisya. Air mata itu mengalir semakin deras ketika tangannya menyentuh bibir Meisya. Bibir kesukaan Akmal saat dulu mereka masih bersama.


"Ini Meisyaku," gumam Akmal dengan senyum dalam tangisnya.


Meisya mengangguk pelan. Dia sangat yakin dengan cintanya. Keberadaan Meisya sangat berpengaruh untuk Akmal.


"Bunuh aku," ucap Akmal lagi.


Mereka semua yang ada di sana menegang mendengar perkataan Akmal. Termasuk Meisya yang sudah menegang ditempatnya.


Akmal menatap Meisya dengan pandangan yang sangat terluka. Meisya yang membalas pandangan Akmal tidak kalah sesak. Lelaki yang selama ini dia tinggalkan demi kebahagiaan mereka semua, ternyata sangat menderita seperti ini.

__ADS_1


"Daripada meninggalkan aku, lebih baik bunuh saja aku. Kematian bahkan lebih baik dari semua ini," ucap Akmal panjang untuk pertama kalinya.


Nana yang mendengar begitu banyak kata yang keluar dari mulut Ayahnya sedikit senang. Tapi mengapa harus kata menyakitkan yang harus dia dengar. Nana langsung berbalik dan memeluk erat Arya. Dia tidak sanggup melihat Ayah dan Mamanya yang seperti ini. Sedangkan Acha yang mendengar setiap perkataan Akmal ikut merasakan betapa sedihnya lelaki itu. Andai saja dia tahu lebih cepat mengenai Meisya dan Akmal, mungkin sudah sejak lama dia mempertemukan keduanya.


Meisya menggeleng kuat mendengar perkataan Akmal. "Jangan bicara seperti itu," ucap Meisya dengan suara bergetarnya.


"Bunuh aku jika itu membuatmu bahagia," ucap Akmal lagi.


"Tidak, tidak. Aku mohon jangan ucapkan itu lagi. Itu sungguh menyakitkan," ucap Meisya menggeleng kuat dalam tangisnya.


"Bunuh aku," gumam Akmal lagi.


Nana yang melihat kondisi Akmal segera melepaskan diri dari Arya dan memeluk Ayahnya. Berharap pelukan yang dia berikan dapat menenangkan Akmal.


"Ayah, udah ya. Jangan ngomong gitu lagi. Nana nggak suka dengarnya," ucap Nana mengusap lembut rambut Akmal yang ada dalam pelukannya.


"Bunuh aku," gumam Akmal lagi dan lagi dalam pelukan Nana. Nana dengan setia membujuk Akmal dan membisikkan segala kata yang membuat Akmal tenang dengan terus mengusap kepala Akmal.


Door.


Terdengar suara tembakan dari pintu rumah Arya. Mereka semua terkejut melihat Monika yang sudah berdiri di ambang pintu dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Darah kering yang melekat di baju dan juga kulitnya. Setelah itu nampak beberapa bodyguard Arya dan Gilang mengejar datang dari belakang dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"Maaf, Bos. Wanita ini terus memberontak. Bahkan dia kembali melenyapkan lima rekan lainnya," ucap salah satu bodyguard tersebut.


Nana memeluk Akmal erat. Melindungi lelaki kesayangannya yang bergetar ketakutan karena suara tembakan tadi. Begitu juga dengan yang lainya. Bumi yang melihat kedatangan Monika langsung mendekati wanita gula itu tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Bumi dengan berdiri gagah tepat didepan Monika.


Nana semakin memeluk Akmal erat. Bahkan tubuh Nana ikut bergetar karena Akmal. "Ayah tenang, ya. Semua baik-baik saja," ucap Nana menenangkan Akmal.


Arya dan Gilang yang melihat keadaan sudah sedikit tidak terkendali ikut mendekati Monika. "Jalang murahan," ucap Arya sinis.


"Benar-benar wanita tidak tahu diri," gumam Gilang yang sudah kesal setengah mati dengan Monika.


Monika tergelak mendengar kata-kata hinaan yang keluar dari mulut Arya. "Begini-begini aku mertuamu, Arya," ucap Meisya.


"Kau bukan besanku, MONIKA!" ucap Bumi menegaskan nama Monika pada ujung kalimatnya.


Monika menegang ketika mendengar Bumi menyebut nama aslinya. Dia memang belum melihat dan mengetahui keberadaan Meisya saat ini.


Meisya yang melihat Kakak kandungnya itu langsung menampakkan diri dan berjalan mendekatinya. Berdiri dengan wajah tanpa takutnya. "Apa kabar, Kakak?" tanya Meisya.


"Kau? Bagaimana bisa Kau-"


"Terkejut? Tentu. Kau pasti terkejut bukan?"ucap Meisya tegas.


Meisya semakin mendekatkan dirinya kepada Monika.

__ADS_1


Plak.


"Itu untukmu yang sudah mempermainkan rumah tanggaku!"


Plak.


"Itu untukmu yang sudah menghina anakku!"


Plak.


"Itu untukmu yang sudah berani menyukai lelakiku," ucap Meisya menampar Monika keras dengan tangannya sendiri.


Monika memegang pipinya yang terasa sakit. Dia menatap Meisya dengan tatapan penuh dengan kebencian.


Tanpa aba-aba dia langsung menarik tangan Meisya dan menodongkan pistol ke kepala Meisya.


Mereka semua yang melihat itu dibuat syok dengan kelihaian Monika. Dia seperti sudah terbiasa melakukan tindakan kriminal.


"Lepaskan dia, Monika!" ucap Bumi tegas.


"Lepaskan Tante Meisya, Monika!" ucap Arya mencoba maju menyelamatkan Meisya.


Meisya mencoba melepaskan tangan Monika dari lehernya. Sedangkan Monika semakin mengeratkan lingkaran tangannya. "Berani kau memberontak, nyawamu melayang saat ini juga!" ucap Monika tak main-main. Dia menekan pelatuk pistolnya. Sekali tembakan, makan nyawa Meisya bisa melayang.


Acha yang melihat Meisya seperti itu menangis tersebut dalam pelukan Mita. Sedangkan Bi Mirna mencoba membantu Nana untuk menenangkan Akmal.


Arya dan Gilang yang mengamati setiap pergerakan Monika saling pandang. Mereka nampak mengangguk mengerti akan pikiran masing-masing. Gilang berjalan kearah belakang Monika dengan diam-diam.


Gilang mengangkat tangan Meisya yang memegang pistol dan mengarahkannya ke atas. Arya yang melihat itu langsung menarik Meisya dari cekalan Monika. Acha yang melihat Mamanya sudah terlepas segara memeluk Meisya.


Gilang dan Monika nampak saling berontak.


Dor.


Satu tembakan lepas ke sembarang arah. Setelah itu pistol terjatuh ke lantai dan Arya segera meminta para bodyguardnya untuk memegang Monika.


Monika terus memberontak kepada Bodyguard Arya. Saat melihat pistol yang dekat dengan kakinya, Monika menendang dan menyikut bodyguard Arya. Dengan gerakan cepat dia mengambil kembali pistol tersebut.


Nana yang tidak sengaja melihat Monika mengarahkan pistolnya kembali kepada Meisya yang kini tengah berada dalam pelukan Acha langsung melepaskan Akmal dan berlari.


DOOR.


"Akkhh!"


......................


Segitu dulu yaaa, nanti kita sambung lagi sedihnyaaaaa🤗🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2