
🌹HAPPY READING🌹
"Nana, apa yang kamu lakukan?" teriak Meisya melihat Nana marah.
Gilang langsung mengangkat Acha dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Sampai terjadi apa-apa dengan anak dan cucu saya, kamu harus tanggung jawab," ucap Meisya sebelum benar-benar berjalan keluar dari rumah Arya. Mereka semua pergi ke rumah sakit. Meninggalkan Arya yang kini memandangi Nana dari tangga bawah.
Arya dengan perlahan berjalan menaiki tangga mendekati Nana. Arya melihat badan Nana yang masih gemetar ketakutan.
"Kita ke rumah sakit," ucap Arya langsung menyeret Nana untuk ikut dengannya menyusul yang lain ke rumah sakit.
"Mas, bukan aku, Mas," ucap Nana kepada Arya.
Arya hanya diam dengan terus menyeret Nana sampai ke mobil. Dengan kecepatan penuh, Arya melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat tempat mereka membawa Acha.
"Turun," ucap Arya dingin.
Dengan gemetar, Nana membuka pintu mobil dan segara turun. Arya kembali menggenggam tangan Nana dan terus menariknya untuk mengikuti langkah Arya.
Sampai di depan UGD, semua mata memandang Nana dengan tatapan yang sulit diartikan. Nana hanya menunduk takut dengan jari yang saling bertautan. Sedangkan Arya berjalan menghampiri Gilang. Arya mendekatkan mulutnya dan membisikkan sesuatu kepada Gilang.
Gilang mengangguk mengerti mendengar bisikan Arya. Setelah itu Gilang bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
Meisya yang melihat kedatangan Nana langsung berjalan menghampirinya.
PLAK.
Satu tamparan mendarat di pipi Nana. Air mata Nana luruh begitu mendapat tamparan dari wanita yang telah melahirkannya.
"Tan-Tante," ucap Nana lirih memegang pipinya yang terasa nyeri.
Nana mengalihkan pandangannya kepada Arya hanya menatapnya diam.
"Tante, jangan keterlaluan," ucap Dinda membela Nana.
"Jangan emosi berlebihan, Meisya. Yang kamu tampar itu menantu saya," ucap Bumi. Sedangkan Mita dan yang lainnya hanya diam. Bahkan Freya kini hanya diam dalam gendongan Atlantik.
"Menantu kamu sudah mencelakai anak dan cucu aku, Mas Bumi," ucap Meisya.
__ADS_1
"Dokter masih memeriksa Acha dan kandungannya. Jangan terlalu cepat menuduh," ucap Bumi.
Mita mengusap lengan Bumi. Mencoba menenangkan Bumi yang sudah tersulut emosi.
Sedangkan Nana hanya bisa menangis melihat semuanya. Hatinya berdenyut sakit. Bahkan Arya, lelaki yang selalu menjadi pelindungnya hanya diam melihat semuanya.
Selang beberapa menit, Dokter keluar dari UGD.
"Bagaimana keadaan anak dan cucu saya, Dokter?" tanya Meisya cepat.
Dokter tersebut menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Meisya.
"Siapa suaminya?" tanya Dokter tersebut.
Mereka semua terdiam mendengar pertanyaan Dokter. "Bisa langsung jawab pertanyaannya saja, Dokter?" ucap Arya tegas.
Dokter tersebut akhirnya mengangguk. "Ibunya baik-baik saja. Tapi maaf, kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya," jawab Dokter tersebut.
Semua menutup mulut tak percaya. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa bisa mereka cegah.
"Terjadi benturan yang sangat kuat hingga menyebabkan janin tidak dapat kami selamatkan. Apalagi keadaan janin yang masih muda dan rentan. Apalagi kesehatan kandungannya sangat lemah. Dengan berat hati kami mengatakan bahwa janinnya tidak dapat diselamatkan," ucap Dokter tersebut.
"Kami bisa menemui pasien, Dokter?" tanya Arya.
Emosi Meisya semakin memuncak melihat Nana ketika mengetahui keadaan anaknya.
PLAK.
PLAK.
Dua tamparan mendarat di pipi Nana. Lagi-lagi tamparan itu berasal dari orang yang sama.
"Kamu pembunuh. Kamu benar-benar menghancurkan hidup anak saya, Nana," ucap Meisya emosi.
Nana menggeleng mendengar perkataan Meisya. Sungguh, hatinya sangat sakit sekali. Dia sangat membutuhkan sosok Ayahnya disini. Meskipun tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya sentuhan tangan Akmal akan memberikannya kehangatan dan kekuatan.
"Bukan Nana Tante. Demi Tuhan bukan Nana, hiks," ucap Nana memohon mengatupkan kedua tangannya di dada.
Freya yang melihat Tante kesayangannya diperlakukan seperti itu menjerit histeris. Atlantis membawa Freya menjauh dan menenangkan anaknya. Tidak baik untuk Freya melihat semua yang terjadi di sana.
__ADS_1
"Kita tidak bisa menuduh tanpa bukti, Tante," ucap Dinda.
"Kejahatannya tidak perlu bukti karena semuanya sudah terbukti dengan mata kepala kita semua bahwa dia memang bersalah," ucap Meisya kekeuh.
"Jangan menuduh, Meisya!" ucap Bumi tegas. Dia sangat yakin bahwa Nana tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Mita hanya diam, dia bingung tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Meisya kembali menatap Nana dengan pandangan tajam dan mata yang sudah berair.
"Kamu memang tidak tahu diri. Kamu takut posisi kamu akan digantikan oleh anak saya dan kamu mencelakainya, Nana. Kamu benar-benar wanita kejam!" teriak Meisya.
"Bukan saya, Tante. Saya tidak tahu kenapa Acha tiba-tiba jatuh. Saya berani bersumpah, hiks," ucap Nana menangis memohon agar Meisya percaya.
"Kamu memang wanita jahat, Nana. Pantas saja ibu kamu pergi meninggalkan kamu dan memilih hidup dengan keluarga barunya. Mungkin dia memang malu memiliki anak yang kejam seperti kamu. Kamu tidak lebih baik dari seekor binatang, Nana!" teriak Meisya marah.
"Bahkan kamu tidak lebih dari sampah yang beruntung dan dipungut Arya, hingga derajat kamu bisa sedikit terangkat. Benar-benar tidak tahu diri!" lanjut Meisya. Dia benar-benar emosi melihat Nana. Apalagi dia mengetahui bahwa cucunya tidak selamat. Entah bagaimana nanti dia akan menjelaskan pada Acha jika dia bangun.
"Saya sangat berharap agar kamu tidak pernah menjadi seorang Ibu, Nana!"
"CUKUP TANTE!" teriak Arya tak terima.
Arya berjalan mendekat dan berdiri di depan Meisya. Menyembunyikan Nana di belakang punggungnya.
"Dari tadi saya diam dan membiarkan Tante melakukan semuanya sesuka hati terhadap istri saya. Tapi kali ini Tante sangat keterlaluan!" ucap Arya tegas.
"Tapi dia benar-benar keterlaluan, Arya!" kekeuh Meisya.
"Tante yang keterlaluan!" ucap Arya tajam.
"Semua perkataan kasar yang terlontar dari mulut busuk Tante lebih tepat untuk diri Tante sendiri. Saya dari tadi diam karena ingin melihat, sejauh mana Tante bisa menghakimi istri saya. Tapi kali ini Tante bemar-benar keterlaluan!" ucap Arya.
"Arya, kecilkan suara kamu kepada orang tua, Nak," ucap Mita mencoba menenangkan Arya.
"Kamu membela wanita yang sudah membuat Acha celaka, Arya. Kamu membela wanita tidak jelas ini daripada sahabat dan cinta pertama kamu. Wah, selamat Nana, wanita tidak tahu diri seperti kamu telah berhasil membuat Arya melupakan cinta pertamanya," ucap Meisya.
"CUKUP TANTE! WANITA YANG TANTE BILANG TIDAK TAHU DIRI DAN TIDAK JELAS ADALAH ANAK YANG TANTE TINGGALKAN DUA PULUH TAHUN LALU!"
......................
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.
__ADS_1
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹
Jangan lupa, ikuti juga kisah di novel aku yang lain dengan judul "Derajat Rumah Tanggaku" dijamin nggak kalah seru.