
🌹HAPPY READING🌹
"Aku nggak mau hidup, Arya. Aku mau susul Zein, Arya. Aku nggak mau anak dalam kandungan aku lahir tanpa Ayahnya, hiks."
DEG
Mata mereka semua membola mendengar pengakuan Acha. Raut keterkejutan nampak jelas di wajah mereka semua. Meisya yang mendengarnya langsung berjalan mendekati Acha secara perlahan. Acha sudah terduduk dengan tangis yang tak ada hentinya.
"Hiks, Acha nggak mau anak Acha nanti nggak punya Ayah, Ma," ucap Acha sendu.
Meisya dengan perlahan memeluk tubuh bergetar Acha. "Ada kami semua, Nak. Kamu tidak sendiri," ucap Meisya mengusap kepala Acha dengan penuh kasih sayang.
"Ma, Acha nggak mau anak Acha jadi yatim, Ma. Tolong temukan Zein, Ma. Anak Acha nggak boleh yatim, Ma, hiks," ucap Acha sendu.
"Kita semua masih mengusahakannya, Sayang. Zein butuh doa kamu, Nak. Bukan putus asa seperti ini," ucap Meisya sendu.
Mita yang melihat bagaimana terpukulnya Acha berjalan mendekat. "Acha, kenapa melakukan dosa, Nak?" tanya Mitha lembut.
"Hiks, maafin Acha udah jadi beban buat kalian semua. Maafin Acha," ucap Acha menyesal.
"Cha, kamu tahu itu dosa dalam agama kita, Cha. Kenapa kamu melakukannya?" tanya Dinda tak habis pikir. Bisa-bisanya gadis yang dia anggap polos sudah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan calon suaminya sendiri.
"Hiks, maafin Acha," ucap Acha.
"Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi, Cha. Kamu jangan seperti ini. Ingat! Didalam tubuh kamu ada nyawa yang harus kamu jaga," ucap Bumi yang sedari tadi hanya diam.
Semua mengangguk menyetujui perkataan Bumi. Arya yang melihat Acha sudah mulai tenang mengambil gunting tersebut dan menjauhkannya dari jangkauan Acha.
.....
Kini mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan Acha tertidur di kamar bersama Dinda, karena tenaganya yang terkuras habis akibat pikiran dan tangisnya. Dinda harus menemani Acha, karena takutnya Acha akan kembali seperti tadi.
"Pa, bagaimana orang suruhan Papa?" tanya Mita pada Bumi. Bumi memang menyuruh orang suruhannya untuk ikut dalam pencarian Zein.
Bumi menggeleng. "Sampai sekarang jasad Zein belum ditemukan, Ma," jawab Bumi.
"Mas Bumi, tolong lakukan yang terbaik, Mas," ucap Meisya sendu.
Bumi mengangguk. "Kita semua selalu melakukan yang terbaik, Meisya. Atlantik dan Bumi juga mengerahkan bantuan dari orang-orang mereka," jawab Bumi.
Meisya mengangguk mendengar perkataan Bumi. Sedangkan Nana yang sedari tadi melihat kesedihan Meisya karena Acha merasa miris pada nasibnya sendiri. Entah kenapa air matanya ikut menetes melihat kesedihan di wajah wanita yang sudah melahirkannya.
Mama sesedih ini hanya karena seorang anak tiri. Apa jika Nana yang mengalami ini, Mama juga akan seperti ini? Batin Nana sendu.
Bagaimana lekatnya Nana memandang Meisya, begitu juga Arya yang sedari tadi memperhatikan Nana.
Sebenarnya ada apa dengan Tante Meisya? Kenapa Nana tidak melepas pandanganya dari Tante Meisya? Batin Arya bertanya-tanya. Sungguh, jiwa penasarannya sangat besar sekarang.
"Arya," panggil Mita yang mengalihkan pandangan Arya dari Nana.
"Iya, Ma," jawab Arya.
"Mama sungguh tidak tega melihat keadaan Acha, Nak," ucap Mita.
"Ma!" ucap Arya tegas yang sudah tahu arah pembicaraan Mamanya.
__ADS_1
"Mama mohon, Arya," ucap Mita.
"Ma, jangan berbicara yang tidak-tidak, Ma," ucap Bumi memperingati Mita.
Mita diam. Dia tahu, Arya dan Bumi akan menolak permintaannya. Hingga akhirnya Meisya memilih angkat bicara. "Arya, kecil kemungkinan Zein akan selamat. Bahkan jasadnya saja belum ditemukan. Tante mohon, demi Acha," ucap Meisya menangkup kedua tangannya di dada memohon kepada Arya.
Arya memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa melihat Meisya memohon kepadanya seperti ini.
Nana yang sedari tadi mendengarkan hanya diam, tidak tahu apa yang mereka semua bicarakan.
Meisya yang melihat Arya hanya diam, memilih berdiri dan berjalan mendekat kearah Nana. Meisya bersimpuh didepan Nana dengan lutut sebagai tumpuan.
"Eh, Ta-Tante," ucap Nana tak enak memegang bahu Meisya, berniat meminta wanita itu untuk berdiri. Tapi Meisya tetap pada pendiriannya. Dia tetap bersimpuh didepan Nana. Mereka semua yang melihat itu sudah merasa was-was. Terutama Arya. Dia takut Nana akan mengabulkan permintaan Meisya.
"Nana, sekarang hanya kamu yang bisa menyelamatkan masa depan anak saya, Na," ucap Meisya sendu.
Sungguh, Nana tidak sanggup melihat air bening yang mengalir dari mata Meisya. Tangan Meisya terulur memegang kedua tangan Nana.
"Nana, saya mohon. Berikan sedikit kebahagiaan kamu untuk anak saya, Na," ucap Meisya memohon.
Hati Nana sakit, sangat sakit. Ibu yang sejak dulu dia rindukan memohon demi anak tirinya.
"Saya harus melakukan apa, Tante?" tanya Nana berusaha kuat.
Meisya mendongak menatap mata Nana. "Nana, Acha sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang yatim, hanya saya yang dia punya. Jangan sampai anaknya juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sebagai seorang yatim, itu sungguh sangat tidak enak," ucap Meisya. Air mata kembali mengalir mengingat mendiang Ayah Acha sekaligus suaminya yang sudah meninggal.
"Tante!"
"Meisya!"
"Nana, saya mohon, berikan Arya sebagai Ayah dari cucu saya," ucap Meisya menangis kepada Nana.
DEG
Jantung Nana dan Arya berdetak cepat mendengar permintaan yang keluar dari mulut Meisya. Air mata yang sejak tadi keluar sudah tidak sanggup lagi untuk dia tahan.
Kuatkan Nana, Tuhan. Batin Nana.
Hati anak mana yang tidak sakit mendengar orang tua kandungnya sendiri meminta dan memohon kepadanya hanya demi seorang anak tiri.
Nana memandangi Arya. Arya menggeleng meminta Nana untuk menolak permintaan Meisya. Setelah itu Nana kembali menatap Meisya.
"Tapi Arya juga sumber kebahagiaan saya, Tante," ucap Nana sendu.
"Saya tahu, Na. Kamu pasti bisa dengan mudah melupakan Arya, hubungan kalian baru terjalin. Sedangkan Acha dan Arya sudah lebih dulu saling mengenal, bahkan sejak mereka kecil. Sebelum mencintai kamu, Arya juga mencintai Acha. Nana, saya mohon," ucap Meisya.
"Tante, apa yang Tante bicarakan? Jangan berbuat diluar batas, Tante!" ucap Arya tegas.
Hati aku seribu kali lebih sakit dari anak tiri Mama. Batin Nana menangis pedih.
"Setidaknya lakukan demi anak Acha yang belum lahir, Na," lanjut Meisya tanpa menghiraukan Arya.
Dengan deras air mata Nana mengalir di pipinya. Ini bahkan lebih sakit daripada ditusuk ribuan Pedang dan bilah bambu. Sangat sakit!
Arya yang sudah tidak tahan berdiri dari duduknya. Dengan langkah pasti Arya menghampiri Nana.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa memisahkan aku dan dia!" ucap Arya tegas menarik tangan Nana hingga berdiri.
"Ingat ini baik-baik, Tante! Acha memang sahabat saya, saya akan melakukan yang terbaik untuknya, tapi tidak dengan menikahinya. Wanita yang memberi saya cinta lebih berharga dari apapun!" ucap Arya tegas.
"Arya, bicara yang lembut, Nak," ucap Mita memperingati Arya.
"Ma, bahkan Mama juga meminta Arya untuk menikahi Acha. Maaf, Ma, Arya nggak bisa," ucap Arya.
Nana hanya menunduk dan terus menggenggam tangan Arya dengan kuat.
"Tapi Arya-"
"Ma, Arya tidak bisa mempertanggungjawabkan dosa yang bahkan tidak Arya lakukan. Maaf, Arya harus pergi," ucap Arya dan langsung berjalan keluar rumah sambil menggandeng tangan Nana. Bahkan dia menghiraukan teriakan Mita yang memanggil namanya.
Good job, Boy. Batin Bumi salut dengan tindakan Arya.
Tindakan yang tepat, Adik Ipar. Batin Atlantik yang ikut senang melihat tindakan Arya.
.....
Kini Arya dan Nana sudah berada di dalam mobil.
"Arya, pelankan mobilnya," ucap Nana lirih. Dia takut melihat Arya yang masih emosi dan membawa mobil dengan kecepatan penuh.
Arya yang sadar dengan tindakannya langsung mengurangi laju mobil dan segera menepikan mobilnya.
Arya membawa tubuh Nana ke dalam dekapannya. Tangis yang sudah sejak tadi Nana tahan pecah dalam pelukan Arya.
"Hiks, aku nggak kuat," ucap Nana memukul-mukul dada Arya.
Arya hanya diam membiarkan Nana melampiaskan kesedihannya.
"Aku nggak kuat. Sangat sakit, hiks. Dada aku sakit, hiks," ucap Nana.
"Sayang, tenang ya. Bagaimanapun keadaannya, kita akan tetap bersama,"
Nana terus menangis dalam pelukan Arya. Hingga saat dirasa dirinya sudah mulai sedikit tenang, Nana melepaskan pelukannya dan menatap mata Arya.
"Jika memang anak Acha lebih membutuhkan kamu, Aku rela," ucap Nana dengan mata penuh air.
"Anak Acha lebih membutuhkan Bapaknya, bukan Aku!" ucap Arya tegas.
Arya kembali menjalankan mobilnya saat mereka sudah sedikit tenang.
"Kita akan kemana?" tanya Nana bingung, karena jalan yang mereka lewati bukan arah menuju rumah Nana.
"Kita menikah malam ini!"
......................
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz
Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘
__ADS_1