Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 76


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"APA?" teriak seseorang dari belakang mereka.


Mereka semua menoleh dan melihat Arya yang berdiri dengan pakaian yang masih lusuh. Tadi, Arya melupakan ponsel yang dia lempar di sofa ruang keluarga, saat dia ingin kembali mengambil ponselnya, dia mendengar perkataan Atlantik dan Dinda bersama Bi Mirna yang ingin bertemu Nana. Tanpa memikirkan penampilannya, Arya langsung mengikuti mobil Atlantik. Dengan kelihaiannya, Arya mengikuti mereka tanpa ketahuan.


Arya berjalan mendekati Bu Inah dan memegang kedua bahu Bu Inah. "Tolong katakan itu semua tidak benar. Tolong katakan bahwa anak saya masih ada kan?" tanya Arya mencengkram bahu Bu Inah.


"Ar, Lo bisa nyakitin Bu Inah," peringat Gilang melepaskan tangan Arya dari Bu Inah.


"Maafkan saya," ucap Bu Inah menyesal menatap semuanya. "Memang itu yang terjadi, akibat kelelahan dan kandungan yang masih lemah, dan juga karena terlambat membawa Nana ke rumah sakit, dia kehilangan bayinya. Dia pingsan dari semalam, Pak. Saat saya sampai disini, Saya sudah menemukan Nana pingsan dengan darah yang sudah mengering di kakinya. Saat saya ingin mengabarkan Tuan Atlantik, Nana meminta saya untuk tidak menghubungi Tuan. Dia bilang, dia sendiri yang akan memberitahu keluarganya," lanjut Bu Inah menceritakan semuanya.


"Rumah sakit mana?" tanya Arya kalut. Lalu Bu Inah menunjukan nama rumah sakit tempat dia membawa Nana.


Mereka semua tahu, karena itu merupakan rumah sakit yang sama tempat Acha dirawat.


Tanpa aba-aba lagi, Arya langsung berlari keluar apartemen dan segera menuju rumah sakit. Mereka semua yang melihat itu langsung mengikuti Arya.


.....


Dirumah sakit, Nana sedang duduk di ruangan Dokter yang bertugas menangani Acha. Nana menyampaikan kepada Dokter wanita tersebut bahwa dia yang akan mendonorkan jantungnya untuk Acha. Dokter sudah mencegah Nana, tapi sekuat Dokter tersebut mencegah Nana, lebih kuat Nana meyakinkan Dokter tersebut.


"Bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Nana yakin. Nana memang langsung meminta Dokter untuk memeriksa kecocokan jantungnya dengan Acha, dia tidak ingin berlama-lama dan membuat keadaan Acha semakin buruk.


Dokter menghela nafas berat dengan memandangi amplop di tangannya. Tangannya dengan perlahan membuka amplop tersebut. Dokter Miranda, nama yang tertulis di name tag yang ada di bajunya itu mengeluarkan kertas putih. Itu merupakan hasil kecocokan jantung Nana dan Acha.


Dokter memandang Nana setelah melihat hasilnya. "Jantung kamu memiliki kecocokan dengan jantung pasien," ucap Dokter Miranda dengan raut wajah sedih sekaligus tak relanya. Karena bagaimanapun juga, yang mendonorkan jantung biasanya adalah orang yang sudah meninggal, tapi Nana? Bahkan dia terlihat sehat walau baru saja mengalami keguguran.


Tapi berbeda dengan Dokter Miranda, Nana nampak berbinar mendengar hasilnya. Meskipun dihatinya ada rasa takut, tapi ini sudah menjadi keputusannya. Setelah ini dia bisa berkumpul dengan Anak dan Ayahnya di Surga.


Nak, tunggu Mama, ya. Ayah, Nana akan datang untuk melepas rindu. Setelah ini kita akan selalu bersama. Jauh dari orang-orang yang menyakiti kita. Dan semoga kamu bisa bahagia dengan cinta pertama kamu setelah aku pergi, Mas. Batin Nana mengingat Anak, Ayah dan Suaminya.


"Kalau begitu kita lakukan operasinya, Dokter," ucap Nana.


"Nana, saya ini seorang Dokter, jangan merubah profesi saya menjadi seorang pembunuh dengan mendonorkan jantung kamu kepada pasien saya," ucap Dokter Miranda mencoba membujuk Arya.

__ADS_1


Nana, wanita didepannya itu masih memiliki masa depan yang panjang. Dia tidak tega jika harus mengorbankan Nana untuk kesembuhan pasiennya. Walaupun Nana sendiri yang menawarkan jantungnya, tapi dia hanya manusia, bagaimana mungkin dia melakukan pada orang yang harusnya masih hidup.


Nana tersenyum mendengar perkataan Dokter Miranda. Nana mengangkat tangannya ke atas meja dan menggenggam lembut tangan Dokter Miranda.


"Dokter, Acha itu Kakak saya. Saya hanya ingin memberi kebahagiaan untuknya. Kebahagiaan saya bukan di dunia, Dokter. Ada Anak dan Ayah saya yang menunggu kedatangan saya di alam berbeda," ucap Nana lembut.


Dokter Miranda tertegun mendengar perkataan Nana. "Jangan membuat saya menjadi pembunuh, Na," ucap Dokter Miranda.


"Dokter tidak membunuh. Dokter hanya melakukan apa yang seharusnya seorang Dokter lakukan untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien. Bukankah kesembuhan pasien adalah segalanya bagi seorang Dokter?" tanya Nana.


Dokter Miranda mengangguk menjawab pertanyaan Nana.


"Lakukan operasinya, Dokter. Saya sudah sangat siap," ucap Nana.


"Tapi-"


"Dokter, saya mohon," ucap Nana memohon dengan suara lirihnya. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayah dan Anaknya.


Dokter Miranda diam dan memandang Nana lekat. "Apa ini pilihan kamu?" tanya Dokter Miranda.


"Terimakasih, Dokter," ucap Nana senang.


"Em ... Dokter, boleh saya minta sesuatu?" tanya Nana ragu.


Dokter Miranda tersenyum melihat Nana yang takut-takut. "Katakanlah," jawab Dokter Miranda.


"Jangan beritahu identitas saya sebelum operasi ini berhasil. Jika nanti operasinya selesai, Dokter boleh beritahu mereka. Dan tolong, Dokter, berikan surat ini kepada keluarga pasien," ucap Nana memberikan sebuah amplop coklat kepada Dokter Miranda.


Dokter Miranda menerima amplop yang diberikan Nana. "Kamu yakin, Na?" ucap Dokter Miranda bertanya sekali lagi.


"Jangan mengajukan pertanyaan yang jawabannya akan tetap sama, Dokter," jawab Nana dengan senyum manisnya.


Dokter Miranda hanya mengangguk pasrah mendengar perkataan Nana. Setelah itu, Dokter Miranda mengajak Nana untuk keluar dan mempersiapkan segalanya.


Saat Nana sedang mempersiapkan dirinya, Dokter Miranda pergi ke ruangan Acha untuk mengatakan bahwa akan dilakukan operasi untuk transplantasi jantung Acha.

__ADS_1


.....


Arya dan sampai di rumah sakit setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dengan tergesa-gesa Arya berjalan menuju resepsionis.


"Pasien atas Nama Khadijah Nasytiti diruangan mana?" tanya Arya langsung tanpa menghiraukan sapaan resepsionis tersebut.


Resepsionis tersebut langsung mencari data Nana. "Ruangan Utara nomor dua puluh satu, Pak," jawab Resepsionis tersebut setelah menemukan nama yang dimaksud Arya.


Arya langsung berlari tanpa menghiraukan Dinda yang memanggil-manggil namanya.


Dinda, Atlantik, Gilang dan Bi Mirna yang melihat Arya berlari langsung mengejarnya. Freya yang berada dalam gendongan Atlantik hanya bisa menangis. Sebanyak yang dia tahu, rumah sakit adalah tempat orang sakit, dan dia tidak rela jika Auntynya sampai sakit. Apa yang akan dilakukan oleh anak malang itu, jika tahu Aunty kesayangannya memilih untuk menyelesaikan semuanya? Entahlah, hanya takdir yang bisa menjawab semuanya.


Arya sampai di depan ruangan Utara nomor dua puluh satu. Dengan perlahan Arya memegang gagang pintu.


Ceklek. Pintu ruangan terbuka.


Kosong. Itulah hal pertama yang ditangkap Arya saat melihat ruangan tersebut. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Nana disini.


"Gimana, Ar?" tanya Gilang mewakili mereka semua yang sudah berdiri di belakang Arya.


Badan Arya luruh ke lantai. Air matanya menetes tanpa bisa dia cegah.


"Uncle, Aunty Balbi mana?" tanya Freya dengan syara bergetar.


Arya hanya diam. Pandangannya kosong menatap ranjang rumah sakit. Saat mereka semua sama-sama terdiam, ponsel Gilang bergetar. Dia mendapat notifikasi pesan masuk dari Bumi.


Setelah membaca pesan tersebut, Gilang mendekat dan menepuk pelan pundak Arya. "Ada kabar baik, Ar," ucap Gilang.


Arya langsung mendongak dan menoleh kepada Gilang. "Sudah ada pendonor jantung untuk Acha."


......................


Selamat sahur teman-teman semua. Semoga puasanya lebih lancar, selancar rezeki kita yaa, Aamiin.


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2