
🌹HAPPY READING🌹
"Maaf jika pertanyaan saya membuat kamu sedih, Nana. Lalu bagaimana dengan Ayah mu, Nak?" tanya Meisya lagi. Ada sebuah dorongan dalam dirinya untuk mengetahui lebih banyak tentang gadis ini.
Nana bungkam, matanya sudah berkaca-kaca jika di tanyai mengenai bagaimana keadaan Ayahnya. Semua mata tertuju pada Nana. Termasuk gadis kecil yang sedang tiduran di pangkuan Nana, Freya.
Sadar jika semua orang tengah melihatnya, Nana menggeleng menjawab pertanyaan Meisya sambil tersenyum.
"Oh, maaf Na, saya tidak bermaksud membuat kamu sedih," ucap Meisya tak enak hati.
"Tidak apa-apa Tante," ucap Nana.
Papa ku gila karena kamu tinggalkan, Ma. Batin Nana menjerit memandangi Meisya yang sudah mengobrol dengan Mita di sebelahnya.
.....
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Nana pamit pulang kepada Mita yang sedang mematikan televisi.
"Mama Mita, Nana pulang dulu, ya?" pamit Nana pada Mita.
"Kamu tidak nginap disini saja, Nak?" tanya Mita.
Nana menggeleng. "Nggak usah Ma, Nana pulang aja. Lagi pula besok harus kerja, dan Nana nggak bawa baju ganti," ucap Nana lembut.
"Kamu pulang diantar Arya, kan?" tanya Mita memastikan. Dia tidak mau calon mantunya itu pulang sendirian dalam keadaan malam seperti ini.
"Nana pulang sendiri aja, Ma. Arya kayaknya capek banget, biar dia istirahat aja," ucap Nana.
"Kalau gitu diantar sopir, ya," ucap Mita.
Nana lagi-lagi menggeleng. "Nggak usah, Ma. Nana udah pesan taksi," ucap Mita.
"Enggak ada penolakan, Nak. Kamu harus diantar sopir. Ayo ikut Mama keluar," ucap Mita menggandeng tangan Nana berjalan keluar rumah.
Sampainya di laut rumah, Mita memanggil sopir untuk mengantarkan Nana pulang. Setelah memastikan Nana pulang dengan selamat, Mita kembali masuk ke rumah.
Sedangkan di dalam mobil, Nana memandang jauh ke luar jendela.
Kenapa harus sesakit ini hidup Nana Ya Allah. Kenapa harus sesesak ini. Batin Nana sendu ketika mengingat apa yang di lalui ya tadi.
*Flashback*
Setelah berbincang-bincang di ruang keluarga, mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Freya yang tidur di pangkuan Nana segera di ambil alih oleh Atlantik untuk menidurkannya di kamar gadis kecil itu. Saat Atlantik mengangkat Freya, tiba-tiba gadis kecil itu terbangun.
"Mau sama Aunty Balbi," ucapnya memberontak dalam gendongan Atlantik.
__ADS_1
"Aunty Balbi harus istirahat juga, Sayang," bujuk Atlantik.
"Nggak mau, hiks, maunya Aunty Balbi," ucap Freya menangis dan terus memberontak dalam gendongan Atlantik.
Nana yang tidak tega melihat gadis kecilnya seperti itu kembali mengambil Freya dalam gendongan Atlantik.
"Biar sama Nana aja, Bang," ucap Nana.
"Tapi Na-"
"Tidak apa-apa, Bang. Biar Nana bawa Freya ke kamarnya," ucap Nana memotong perkataan Atlantik.
"Terimakasih, Na," ucap Atlantik.
Nana hanya mengangguk. Setelah itu dia menggendong Freya dan membawa gadis itu ke kamarnya.
Melihat Nana yang sudah pergi Atlantik segera pergi ke kamar untuk menyusul Dinda yang sudah duluan ke kamar.
Setelah menidurkan Freya, Nana keluar kamar untuk menemui Arya. Karena ini sudah malam dan dia ingin Arya yang mengantarnya.
Nana berjalan ke kamar Arya. Nana mengetok pintu beberapa kali, tapi tidak mendapat jawaban. Tanpa pikir panjang, Nana masuk ke kamar Arya.
Mata Nana memanas melihat apa yang ada didepan matanya. Acha yang tidur bertiga bersama Gilang dan Arya. Padahal mereka sudah besar bukan? Mereka sudah memiliki nafsu satu sama lain. Lantas mengapa bisa mereka seperti ini. Nana tidak mempermasalahkan itu, Dia tahu mereka sudah bersahabat dari kecil. Yang membuat hatinya sakit adalah Arya tidur memeluk Acha dari belakang. Sedangkan Acha menghadap kepada Gilang. Dan Gilang yang tidur membelakangi Acha dan Arya.
Ya Allah, kenapa harus Acha yang mendapat segalanya? Kasih sayang Mama, sekarang perhatian kekasihku sendiri. Beri aku kekuatan Tuhan. Batin Nana menjerit sakit.
Tidak tahan dengan semua ini, Nana keluar dari kamar Arya dan segera berjalan menuruni tangga.
*Flashback End*
Nana menghapus cepat air matanya saat dia sadar dari lamunannya. Pak Agus yang merupakan sopir keluarga Arya memandang sendu pacar Tuan nya tersebut.
"Apakah anda menangis, Nona?" tanya Pak Agus.
Nana menolehkan kepalanya kepada Pak Agus. "Kelilipan, Pak," ucap Nana bohong.
Pak Agus hanya tersenyum, dia tahu bahwa Nana sedang berbohong.
"Pak, bolehkah saya bertanya?" ucap Nana.
"Silahkan, Nona," jawab Pak Agus ramah.
"Apa Bapak sudah lama menjadi sopir keluarganya Papa Bumi?" tanya Nana.
"Sangat lama, Nona. Sebelum Den Arya lahir, saya sudah mengabdi pada keluarga Tuan Bumi," jawab Pak Agus.
__ADS_1
"Jadi Bapak tahu mengenai Acha?" tanya Nana.
Pak Agus tersenyum. "Non Acha sudah seperti adik bagi Den Arya dan Non Dinda. Tuan Bumi dan Nyonya Mita juga sudah menganggap Non Acha sebagai anak mereka. Apalagi Tuan Bumi dan Ayahnya Non Acha itu bersahabat baik, Non," jawab Pak Agus menjelaskan kepada Nana.
Tapi kekasihku menganggapnya lebih dari adik, Pak. Batin Nana.
Nana hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban Pak Agus. Dia sudah tidak lagi bertanya. Bagaimanpun nanti, dia akan tetap mempertahankan hubungannya dengan Arya. Hingga Arya sendiri yang menyuruhnya pergi dan memutuskan hubungan mereka.
Tak terasa kini mobil yang membawa Nana sudah sampai di depan rumahnya. dari dalam mobil Nana tersenyum melihat Bi Mirna yang menunggunya di teras rumah. Setidaknya masih ada orang yang mempedulikannya.
"Pak, terimakasih sudah mengantar saya, Pak," ucap Nana sebelum turun mobil.
"Sama-sama, Non," jawab Pak Agus.
Nana turun dari mobil. Pak Agus membunyikan klakson mobilnya saat meninggalkan pekarangan rumah Nana. Setelah memastikan mobil Pak Agus pergi, Nana berjalan memasuki rumahnya.
"Kenapa pulangnya lama sekali, Nak?" tanya Bi Mirna khawatir.
Nana tersenyum. "Maaf, ya, Bi. Tadi keasikan ngobrol di rumah Arya," jawab Nana.
Bi Mirna mengangguk. "Ya sudah, sekarang Nana istirahat, ya. Pasti capek banget," ucap Bi Mirna.
Nana tak lantas pergi, dia memeluk Bi Mirna erat. Menyalurkan kasih sayang dan rasa terimakasih yang begitu besar untuk wanita paruh baya itu.
"Nana sayang Bi Mirna," ucap Nana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bibi juga sayang sama Nana," ucap Bi Mirna mengelus lembut punggung Nana.
"Kalau gitu Nana ke kamar, ya Bi," ucap Nana setelah melepas pelukannya.
Bi Mirna mengangguk. "Iya, Na," ucap Bi Mirna.
Setelah itu Nana pergi memasuki rumah dan menuju kamarnya. Bi Mirna memandang sendu punggung Nana. "Apapun yang membuat kamu sedih, semoga segera terbalas dengan segala kebahagian, Nak. Terlalu banyak penderitaan dan beban yang kamu tanggung sejak kecil. Bagaimanapun keadaanmu, Bibi akan selalu bersama Nana," gumam Bi Mirna. Tanpa sadar air mata Bi Mirna menetes. Dengan segera dia menghapusnya. Bi Mirna tahu, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nana. Tapi dia tidak ingin memaksa Nana untuk mengatakannya.
......................
Maaf sudah membuat kalian semua menunggu, nantikan selalu updatenya ya 😘
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz
Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘
__ADS_1