Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 29


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Sesuai dengan permintaan Arya, kini ditangan Gilang sudah ada sebuah map yang berisi segala informasi dan data mengenai Nana.


Gilang keluar dari ruangannya dan pergi ke ruangan Arya. Saat didepan ruangan Arya, Gilang mendapati Nana yang tengah melamun dengan tangan menyangga dagunya. Nampak mata gadis itu berkaca-kaca memandang ke depannya.


Gilang menghampiri Nana yang sedang melamun. "Na," panggil Gilang.


Namun Nana hanya diam.


"Nana!" panggil Gilang dengan suara yang lebih keras.


"Eh, iya Pak," ucap Nana kaget.


"Pagi-pagi jangan melamun, Na," ucap Gilang.


Nana tersenyum kecil menanggapi perkataan Gilang. "Nggak apa, Pak," ucap Nana.


Gilang hanya ikut tersenyum, dalam hatinya dia tahu apa yang dipikirkan gadis itu.


"Apa Arya ada di dalam, Na?" tanya Gilang basa-basi, padahal tanpa bertanya pun dia tahu bahwa Arya ada di dalam.


Nana mengangguk. "Ada, Pak," jawab Nana.


"Kalau begitu saya keruangan Arya dulu," ucap Gilang.


"Iya, Pak. Silahkan," ucap Nana sopan mempersilahkan Gilang pergi.


Setelah kepergian Gilang, setitik air mata jatuh di pipi Nana. "Hiks, Ayah," ucap Nana lirih dengan isakan kecilnya.


*Flashback*


Setelah bangun dari tidur nya bersama Freya kemaren, Nana kembali ke meja kerja nya dan meninggalkan Freya yang masih tertidur.


Belum lima menit Nana duduk, ponsel yang ada di tas nya sudah berbunyi. Nana merogoh tas nya dan mengambil Ponsel. Tertera nama Dokter Rina di layar. Tanpa pikir panjang, Nana langsung mengangkatnya.


"Halo Dokter," ucap Nana ketika panggilan sudah tersambung.


"Halo, Na. Ke rumah sakit sekarang, Na. Pak Akmal kambuh lagi," ucap Dokter Rina di seberang sana dengan nada cemasnya.


"Ba-baik, Dokter," ucap Nana terbata-bata. Pikirannya sudah kemana-mana membayangkan Akmal. Tanpa pamit kepada Arya, Nana langsung pergi ke Rumah Sakit.


Dua puluh menit Nana sampai di rumah sakit dengan menggunakan taksi. Nana berlari di sepanjang koridor tanpa menghiraukan orang-orang yang tersenyum kepadanya. Pikirannya saat ini hanyalah Sang Ayah.


Sampai di kamar Akmal, Nana melihat Akmal yang memberontak kepada perawat yang menanganinya. Tangis Nana pecah melihat Tangan Akmal yang sudah berdarah. Akmal memegang pisau buah tersebut dengan terbalik, mata pisau tersebut berada dalam genggamannya sehingga membuat tangannya terluka.


"Perawat, jangan terus tarik pisaunya, nanti Ayah saya semakin terluka," ucap Nana sendu kepada perawat lelaki yang ada di sana.

__ADS_1


"Tapi ini bisa membahayakan pasien," ucap Perawat tersebut.


"Biar Nana yang bujuk Ayah," ucap Nana.


Perawat tersebut mengalah dan berjalan mundur. Membiarkan Nana mencoba untuk membujuk Akmal. Dengan air mata yang sudah mengalir, Nana mencoba menguatkan dirinya.


"A-Ayah, kasi pisaunya sama Nana, ya. Nanti Ayah semakin terluka, sini pisaunya, Ayah," ucap Nana lembut.


Akmal mengalihkan pandangannya kepada Nana. Pandangan yang tadinya menyiratkan kemarahan kini berubah sendu. Air mata mengalir di pipi Akmal.


"Hatiku sakit, aku mau mati," ucap Akmal lirih menatap Nana.


Nana menggeleng mendengar perkataan Ayahnya. "Jangan seperti ini Ayah, Nana mohon. Ayah, pisaunya kasih Nana, ya. Jangan seperti ini lagi. Tangan Ayah udah berdarah, Ayah. Kasi Nana, ya, hiks," ucap Nana dengan suara bergetar. Tangannya mencoba melepaskan tangan Akmal dari pisau tersebut. Dokter dan beberapa perawat di sana memandang Nana dan Akmal dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mereka sangat tahu bagaimana perjuangan gadis ini untuk Ayahnya.


"Aws," ringis Nana ketika Akmal melepaskan pisau tersebut dengan kasar sehingga mengenai tangan Nana.


Sayatan yang cukup besar mengenai telapak tangan Nana.


"Dokter, bisa obati tangan Ayah Nana?" ucap Nana kepada Dokter Rina setelah selesai menyuntikkan obat penenang.


Dokter Rina mengangguk dan melakukan penanganan terhadap Akmal.


"Nana, obati lukamu," ucap salah satu perawat wanita kepada Nana.


Nana mengangguk dan membiarkan perawat tersebut mengobati tangannya.


"Em ... Suster, kenapa Ayah bisa seperti ini lagi? Bahkan ini lebih parah, Suster," tanya Nana sendu kepada Suster tersebut.


"Wanita yang kemarin datang menjenguk Pak Akmal, tadi dia datang lagi. Dan setelah dia pergi, Pak Akmal kembali seperti ini," ucap Suster memberitahu.


"Suster, Nana mohon, selain Nana jangan biarkan orang lain menemui Ayah, Suster," ucap Nana.


Suster mengangguk, setelah itu dia melanjutkan kegiatan membersihkan luka Nana.


*Flashback Off*


"Nana mohon, sembuh lah Ayah," ucap Nana dengan suara bergetar.


.....


Sedangkan di dalam ruangannya, kini Arya sudah memegang map yang diberikan oleh Gilang.


"Lo yakin sama isi map ini, Lang?" tanya Arya.


Gilang mengangguk pasti. "Sangat yakin, Ar," ucap Gilang.


Tangan Arya bekerja membuka map yang ada di pegangannya. Dengan perlahan, Arya mengeluarkan isi map tersebut dan mulai membacanya.

__ADS_1


Berbagai ekspresi terbit di wajah Arya saat membaca kertas tersebut.


Sebesar ini beban yang kamu tanggung, Sayang. Batin Arya secara tidak sadar memanggil Nana dengan panggilan Sayang.


"Lang," panggil Arya menatap Gilang dengan tatapan tak percaya.


Gilang mengangguk. "Iya Ar, semua yang ada di sana adalah benar," ucap Gilang.


"Dan kemarin gue menyaksikannya sendiri, Ar," ucap Gilang.


Arya memandang Gilang dengan tatapan bertanya nya. "Kemaren saat detektif kita mengabari kalau keadaan Ayah Nana seperti itu, gue langsung memastikan ke Rumah Sakit Jiwa itu, Ar. Dan ternyata benar, memang Ayah Nana dirawat di sana selama lebih kurang sudah dua puluh tahun. Dan kemaren saat gue datang, Ayah Nana kambuh, dan Nana ada di sana," lanjut Gilang menceritakan. Kemarin Gilang melihat semua yang terjadi di sana. Tapi Gilang bersembunyi agar Nana tidak mengetahui keberadaannya.


"Pantas saja kemarin Nana pergi tanpa pamit sama gue," gumam Arya.


"Lalu apa yang terjadi, Lang?" lanjut Arya bertanya.


"Lo liat sendiri, Ib," ucap Gilang memberikan rekaman yang ada di ponselnya kepada Arya.


Arya menerima ponsel tersebut dan melihat dengan serius video tersebut. Wajah Arya berubah khawatir ketika melihat tangan Nana terluka.


"Panggil Nana ke ruangan gue, Lang," ucap Arya setelah selesai menonton video tersebut.


"Lo mau ngapain? Jangan kasih tahu Nana kalau Lo tahu semuanya, Ar. Dia akan merasa malu dan bisa-bisa dia menghindar dari Lo," ucap Gilang.


"Gue cuma mau Lo panggil Nana kesini, Lang!" ucap Arya dengan suara tegasnya.


"Oke," putus Gilang pasrah keluar dari ruangan Arya.


Tidak berselang lama, pintu ruangan Arya kembali terbuka. Nana masuk ke ruangan Arya dengan senyum mengembangnya. Sedangkan Gilang kembali ke ruangannya sendiri. Dia ingin memberi waktu kepada Nana dan Arya untuk berdua.


Arya langsung berjalan menghampiri Nana dan mendudukkan wanita itu di sofa.


"Ada apa, Pak?" tanya Nana bingung.


Arya memandang dalam mata Nana. "Sekarang kamu sebagai pacar saya, Na," ucap Arya.


Dengan cerianya Nana mengangguk. "Ada apa, Sayang?" tanya Nana lembut.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"


......................


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz


Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘

__ADS_1


__ADS_2