Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 38


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Kita akan kemana?" tanya Nana bingung, karena jalan yang mereka lewati bukan arah menuju rumah Nana.


"Kita menikah malam ini!" ucap Arya tegas.


Sontak mata Nana membulat mendengar perkataan Arya. "Jangan gila, Arya! Kamu pikir menikah itu mudah? Kamu pikir menikah tidak butuh persiapan?" ucap Nana tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arya.


Arya kembali menepikan mobilnya mendengar perkataan Nana. Tanpa menghiraukan Nana, Arya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Ar," jawab Gilang dari seberang sana.


"Halo, Lang. Siapkan pernikahan gue dan Nana malam ini di apartemen. Jangan sampai ada yang tertinggal!" ucap Arya langsung memutus sambungan teleponnya.


Sedangkan Gilang diseberang sana langsung melakukan apa yang diperintahkan Arya. Walau mendadak, tapi dia tahu apa yang membuat Arya bertindak seperti itu.


"Arya, menikah tidak semudah itu. Ayah-"


"Sayang, dengar aku. Kita bisa menggunakan wali hakim, Sayang. Pernikahan kita akan tetap sah. Kamu mau nikah sama aku, ya," ucap Arya lembut.


"Tapi keluarga kamu," ucap Nana ragu.


"Tenang, Sayang. Tidak ada yang bisa mengatur hidup kita selain diri kita sendiri. Kita yang tahu mana yang baik dan tidak untuk diri kita," ucap Arya.


Nana hanya diam. Dia sangat ragu dengan semua ini. Dia masih sangat mengharapkan Sang Ayah yang akan menikahkannya saat sembuh nanti.


"Sayang, bukankah aku salah satu sumber bahagia kamu?" tanya Arya.


Nana mengangguk.


"Lalu kenapa kamu ragu? Kita menikah karena cinta, Sayang, bukan paksaan. Hanya ini jalan agar tidak ada yang memisahkan kamu dan aku," ucap Arya menjelaskan dengan lembut.


Tangis Nana kembali pecah. Tanpa aba-aba, Nana langsung memeluk erat Arya.


"Apa orang lain juga diberi ujian cinta yang seberat ini, hiks? Kenapa rasanya rumit sekali," ucap Nana lirih.


Arya mengelus rambut Nana dengan sayang. "Tidak ada yang rumit jika kita hadapi bersama. Kita akan meraih bahagia itu bersama, Sayang," ucap Arya.


"Kita menikah, ya," ucap Arya memastikan jawaban Nana.

__ADS_1


Nana mengangguk dalam pelukan Arya. Hal itu tentu saja membuat Arya senang bukan main. Arya mengecup pucuk kepala Nana beberapa kali menyalurkan rasa cinta dan sayangnya.


.....


Sepuluh menit kemudian, mobil Arya sampai di parkiran apartemennya. Arya menggandeng tangan Nana keluar dari mobil dan berjalan beriringan.


Ceklek.


Arya membuka pintu apartemennya. Di dalam apartemen sudah sangat ramai. Di sana juga ada Bumi, Atlantik dan Bi Mirna. Gilang benar-benar melakukan semuanya dengan baik.


Nana yang melihat keberadaan Bi Mirna langsung berlari memeluknya. "Bibi," ucap Nana lirih.


Air mata Bi Mirna jatuh mengingat bahwa sebentar lagi gadis yang dia anggap seperti cucu sendiri akan menikah.


"Bi, restui Nana, ya," ucap Nana memandang Bi Mirna.


"Restu Bibi selalu bersama Nana. Semoga ini yang terbaik untuk kebahagiaan Nana," ucap Bi Mirna mengusap lembut pipi Nana.


"Ar, perias pengantin ada di kamar tamu," ucap Gilang memberitahu Arya.


"Ada perias juga Pak Gilang?" tanya Nana terkejut. Pasalnya, ini sudah malam dan mendadak.


Gilang mengangguk dan tersenyum. "Tidak ada yang sulit untuk Arya, Na," jawab Gilang.


Setelah itu Nana beralih kepada Bumi. "Pa, restui Nana dan Anak Papa," ucap Nana menunduk takut.


Bumi tersenyum. Satu tangannya terangkat memegang pundak Nana. "Restu Papa selalu bersama kalian, Nak," ucap Bumi lembut.


Nana ikut tersenyum lega mendengar jawaban Bumi. Dia takut Bumi akan menghalangi niat baiknya bersama Arya.


"Yasudah, Sayang. Kamu siap-siap dulu di kamar tamu," ucap Arya.


"Kamar tamunya dimana?" tanya Nana bingung. Karena ini pertama kali dia ke apartemen Arya.


"Ayo aku antar," ucap Arya menggandeng tangan Nana. Nana langsung menarik tangan Bi Mirna agar ikut bersama mereka ke kamar Tamu.


Arya dan Nana melangkah menaiki tangga. Hingga langkah mereka terhenti di depan kamar dengan pintu berwarna abu-abu. Apartemen Arya memang sangat luas, terdiri dari dua lantai dan memiliki tiga kamar. Sangat elegan dan nyaman.


"Kamu siap-siap, ya. Yang cantik," ucap Arya tersenyum.

__ADS_1


Nana tersenyum malu mendengar perkataan Arya. Tanpa menjawab perkataan Arya, Nana langsung masuk bersama Bi Mirna dan menutup pintu. Setelah melihat Nana masuk, Arya pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


.....


"SAH."


Kata itu keluar dari mulut semua orang yang menghadiri pernikahan Arya dan Nana begitu ijab Qabul diucapkan Arya dengan sangat lantang. Karena Nana tidak memiliki saudara lain, dan Ayahnya yang sudah pasti tidak bisa menikahkannya, Arya meminta wali hakim menjadi wali Nana.


Nana mencium tangan Arya. Tidak terasa air mata Nana jatuh mengenai punggung tangan Arya. Arya mencium dahi Nana setelah Nana selesai mencium tangannya.


Walaupun pernikahan ini mendadak, tapi Nana tetap nampak cantik dengan balutan kebaya indah yang sudah dipesan Arya melalui Gilang. Arya juga nampak sangat tampan dengan balutan kemeja putih dan jas hitamnya, serta peci hitam di kepalanya.


.....


Kini di apartemen Arya hanya menyisakan keluarga mereka, penghulu dan yang lainnya sudah kembali diantar oleh sopir Bumi. Mereka semua duduk bersama di ruang tamu apartemen Arya.


"Arya, sekarang kamu sudah punya tanggung jawab besar. Tidak hanya diri kamu, ada istri yang harus kamu bahagiakan, Arya," ucap Bumi.


"Iya, Pa," jawab Arya.


"Perlakukan istri kamu bagai seorang ratu, Arya. Bahagiakan dia dengan ikhlas lahir bathin. Karena keberhasilan seorang suami dilihat dari kebahagiaan istrinya," ucap Bumi menasehati Arya.


Dengan pasti Arya mengangguk. "Arya akan berikan yang terbaik untuk istri Arya, Pa," ucap Arya memandang lembut Nana yang duduk disebelahnya.


Nana tersenyum senang. Cinta yang selama ini dia perjuangkan akhirnya berbalas. Tuhan memang memiliki caranya sendiri dalam memberi kebahagiaan untuk setiap hambanya.


"Sayang, kamu keatas dulu sama Bi Mirna, ya. Aku mau ngomong sebentar sama Papa dan yang lainnya," ucap Arya pada Nana.


Nana mengangguk. Setelah pamit pada semuanya, Nana pergi keatas bersama dengan Bi Mirna. Kini diruang tamu itu tinggal Arya, Bumi, Gilang dan Atlantik.


"Kamu tidak berniat memberitahu Mama mu, Arya?" tanya Bumi setelah memastikan Nana benar-benar pergi.


"Arya pasti akan memberitahu Mama, Pa," jawab Arya.


"Lebih cepat itu akan lebih baik, Arya," ucap Bumi.


Arya mengangguk.


"Dimana Ayahnya Nana? Bukankah Ayahnya masih hidup?" pertanyaan yang sejak tadi ingin keluar dari mulut Bumi akhirnya dia ucapkan juga.

__ADS_1


Arya saling pandang dengan Gilang. Mereka seolah berbicara lewat pandangan. "Akan lebih baik kalau Nana yang memberitahu Papa," ucap Arya. Dia takut, jika dia yang mengatakan semuanya pada Arya, itu akan membuat Nana marah. Dia lebih baik menunggu persetujuan istrinya lebih dulu.


......................


__ADS_2