Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 55


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Sesuai permintaan Nana, Arya mengurus segala sesuatu untuk membawa Akmal pulang bersama mereka. Dengan segala kekuasaannya, Arya dengan mudah melakukannya. Arya juga meminta salah satu perawat pria untuk merawat Akmal dirumahnya. Sesekali, Dokter yang menangani Akmal akan datang untuk melakukan terapi agar lelaki paruh baya itu sembuh dari gangguan jiwanya.


"Sudah selesai, Sayang?" tanya Arya memasuki ruangan Akmal.


Nana yang sedang membantu Akmal mengganti bajunya menoleh. "Udah, Mas," jawab Nana.


"Ayah, kita pulang, ya. Ayah nggak perlu di rantai lagi deh," ucap Nana senang membantu Akmal berdiri.


Arya yang melihat raut bahagia di wajah istrinya ikut tersenyum senang.


Merek berjalan keluar ruangan Akmal. Naina menggandeng Akmal disebelah kanan dan seorang perawat di sebelah kirinya. Bi Mirna membantu membawa tas yang berisi keperluan Akmal begitu juga Arya.


"Kamu bawa ini," ucap Arya kepada perawat tersebut. Dia tidak rela istrinya berjalan sejajar dengan lelaki lain, kecuali dia dan keluarganya.


Perawat tersebut mengangguk patuh dan mengambil tas yang diberikan oleh Arya. Nana hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah suaminya yang kelewat bucin itu. Setelah itu Arya menggantikan posisi perawat tadi dan menggandeng tangan Akmal.


.....


Kini Arya dan yang lainnya sudah berada di kamar yang disediakan untuk Akmal. Nana sengaja meminta kamar yang ada di sebelah kamarnya dijadikan kamar Akmal. Toh merek juga belum punya anak, dan Arya menyetujui permintaan istrinya itu.


"Kamu boleh kembali ke rumah sakit, datang lagi besok jam sepuluh pagi, ya. Kamu hanya akan menemani Ayah saya sampai jam tiga sore. Sisanya biar saya yang merawat Ayah sendiri," ucap Nana pada perawat yang ikut mereka.


Perawat tersebut tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu saya permisi. Mari," ucap perawat tersebut dan keluar dari kamar.


"Sayang, aku ke kamar dulu, ya," ucap Arya.


"Iya, Mas. Aku mau sama Ayah dulu," jawab Nana.


Arya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia pergi keluar dan meninggalkan Nana berdua dengan Arya.


Sampainya di kamar, Arya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Gilang.


"Halo, Lang," ucap Arya ketika panggilan tersambung.


"Iya, Ar," jawab Gilang.


"Gimana keadaan Acha?" tanya Arya. Bagaimanapun juga, Acha adalah sahabatnya.


"Sudah lebih baik, Ar. Acha juga udah bisa menerima semuanya," jawab Gilang.


"Om Akmal gimana?" lanjut Gilang menanyakan keadaan Akmal.


"Ayah dibawa ke rumah, Lang," jawab Arya.


"Maksud Lo?" tanya Gilang bingung.


"Nana minta untuk merawat Ayahnya sendiri," ucap Arya.

__ADS_1


Diseberang sana Gilang mengangguk walaupun Arya tidak melihatnya. "Yasudah, nanti gue kasih tahu yang lainnya," ucap Gilang.


"Iya. Gue tutup dulu, Lang," ucap Arya memutus sambungan telepon mereka.


Arya menghela nafas kasar setelah panggilan terputus. Arya memeriksa sambungan rekaman CCTV rumah dari ponselnya.


Arya mencari rekaman khusus saat Acha jatuh dari tangga. Dengan teliti mata Arya menonton rekaman tersebut.


Arya menekan tombol pause ketika melihat sesuatu yang aneh dengan gerak-gerik salah satu pelayannya. Tangan Arya mengepal dengan rahang mengeras melihat pelayan tersebut menaruh minyak di tangga paling atas.


"Bangsat!" umpat Arya setelah mematikan rekaman tersebut.


Arya berjalan keluar kamar dengan wajah yang datar dan dingin untuk mengumpulkan semua pelayannya.


"Pelayan," panggil Arya pada salah seorang pelayan wanita yang sedang membersihkan meja ruang keluarga.


Pelayan tersebut berbalik dan menatap Arya dengan gugup.


"I-iya, Tuan," jawab Pelayan tersebut gugup melihat wajah majikannya yang datar dan suara dingin.


"Suruh semua pelayan untuk berkumpul diruang kerja saya. Lima menit lagi saya ke sana!" ucap Arya dan langsung berbalik meninggalkan Pelayan tersebut.


Arya menaiki anak tangga satu persatu. Sampai di tangga paling atas, benar saja, ada minyak goreng yang berserakan di lantai. Dengan hati-hati Arya berjalan menuju kamar Akmal untuk memanggil istrinya.


Arya memasuki kamar Akmal. Dia melihat Bi Nini yang tengah merapikan pakaian Akmal dan Nana yang tidur disebelah Akmal.


"Iya, Nak Arya," jawab Bi Mirna.


"Jangan Bibi yang rapikan semuanya. Biar pelayan aja, Bi. Bibi istirahat aja di kamar," ucap Arya.


"Tapi ini tinggal sedikit lagi," ucap Bi Mirna.


Arya mengambil pakaian yang ada ditangan Bi Mirna dan meletakkannya kembali di koper. "Bibi istirahat, ya. Biar nanti Arya yang minta pelayan untuk mengurus semuanya," ucap Arya.


"Baiklah. Kalau begitu Bibi ke bawah dulu, kalau ada apa-apa panggil Bibi saja, Nak Arya," ucap Bi Mirna.


Arya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Bi Mirna keluar dari kamar Akmal dan menuju kamarnya yang ada dilantai satu.


Arya berjalan menuju ranjang untuk melihat Nana. Nampak wajah tenang Nana yang tertidur dengan damai. Arya memperhatikan wajah Nana dan Akmal yang tertidur secara bergantian.


"Benar-benar seperti pinang dibelah dua, mirip banget," gumam Arya.


Arya membungkuk dan mengecup singkat bibir Nana. Setelah itu dia menyelimuti Nana dan Akmal sampai batas leher mereka. Arya memberikan waktu Nana berdua dengan Ayahnya. Setelah itu, Arya keluar dari kamar Akmal dan melaksanakan tugasnya untuk memberi pelajaran bagi orang yang sudah membuat kekacauan di rumahnya.


.....


Kini semua Pelayan sudah berdiri dengan berjejer di ruang kerja Arya. Mereka semua menunduk takut melihat wajah majikannya yang menahan marah.


"Apa ada diantara kalian yang ingin mengakui sesuatu?" tanya Arya tegas.

__ADS_1


Mereka semua diam dan tidak menjawab. Hanya bisa menunduk dan tidak berani melihat wajah majikannya.


"Baiklah. Mari kita lihat ini," ucap Arya santai dan menghidupkan rekaman CCTV melalui layar besar di ruang kerjanya.


"ANGKAT KEPALA KALIAN!" teriak Arya marah. Sontak semua Pelayan mengangkat kepalanya dan melihat video tersebut.


Badan mereka semua gemetaran melihat seseorang yang menggunakan pakaian pelayan dengan membelakangi CCTV sedang menuangkan sesuatu di lantai tangga.


Arya segera mematikan rekaman tersebut setelah mereka semua melihatnya dan memandang Pelayannya satu persatu dengan tatapan tajam.


"Tidak ada yang mau mengaku?" tanya Arya.


Mereka semua bungkam.


"Mengaku atau kalian semua saya kembalikan ke yayasan kalian!" ucap Arya tegas.


Tapi hanya diam yang mereka semua lakukan. Tidak ada yang membuka suara untuk mengakui semuanya.


"Baiklah, persiapkan barang-barang kalian. Hari ini juga kembali ke Yayasan kalian!" ucap Arya tegas kepada semua Pelayan tersebut. Para Pelayang di rumah Arya memang di ambil dari Yayasan yang menyediakan jasa Pembantu Rumah Tangga.


"Maaf, Tuan. Bolehkah saya mengatakan sesuatu?" ucap salah satu Pelayan berani.


"Katakan!" jawab Arya tegas.


"Maaf Tuan, tadi ada salah satu anggota keluarga Tuan yang meminjam pakaian pelayan saya," ucap Pelayan tersebut.


"Jangan kembalikan kami semua, Tuan. Kami butuh pekerjaan ini. Jika kami dikembalikan, maka kami akan dikeluarkan dari Yayasan kami," lanjut Pelayan tersebut memohon.


"Anggota keluargaku?" tanya Arya memastikan.


Dengan ragu pelayan tersebut mengangguk.


"Siapa?" tanya Arya.


"Saya tidak tahu namanya, Tuan," jawab Pelayang tersebut.


Arya mengeluarkan ponselnya dan mencari foto seluruh anggota keluarganya. "Ini," ucap Arya menunjukan foto Mamanya.


Pelayan tersebut menggeleng. "Bukan Ibu anda, Tuan. Tapi yang satunya lagi. Yang sebaya dengan Ibu Tuan," ucap Pelayan tersebut yang memang mengetahui Mita adalah Mama Arya.


"Kalian semua keluar!" ucap Arya dingin dan tegas.


Tangan Arya mengepal kuat menahan emosinya. "Kau benar-benar keterlaluan, Tante Meisya."


......................


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2