Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 40


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Sinar matahari sudah menyelinap masuk ke dalam kamar. Dengan perlahan, kelopak mata Arya mulai terbuka. Senyum tampan terbit di bibir Arya kala melihat punggung mulus wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Arya mencium lembut pundak Nana yang tidak tertutup apapun.


"Kalau tahu menikah seenak ini, sudah dari dulu aku balas perasaan kamu, Sayang," gumam Arya pelan.


Tangan Arya terus menjelajah punggung Nana dengan sangat lembut. Nana yang merasa terganggu membalikkan badan, tapi tidak membuka matanya sama sekali. Nana masuk kedalam pelukan Arya mencari kenyamanan di dada bidang suaminya itu.


"Sayang, bangun yuk," ucap Arya lembut mengusap pipi Nana.


Nana hanya bergumam pelan menjawab perkataan Arya. Dia benar-benar sangat lelah. Tubuhnya seakan remuk karena perbuatan Arya. Bayangkan saja, setiap melakukannya, Arya hanya beristirahat lima menit dan kembali melakukannya. Dan itu mereka lakukan hingga pukul empat subuh. Arya benar-benar melepas nafsunya.


"Ini udah jam sembilan loh, Sayang. Bangun dulu buat sarapan," ucap Arya lembut.


Dengan perlahan Nana membuka matanya. Pipi Nana merona merah karena malu mengingat perbuatan mereka semalam. Nana menarik selimut menutupi wajah malunya.


Arya terkekeh gemas melihat tingkah Nana. "Sayang aku kenapa?" ucap Arya pura-pura tidak mengerti.


"Malu," cicit Nana pelan dari balik selimut.


Lagi-lagu Arya terkekeh mendengar perkataan Nana. "Ngapain malu, Sayang. Bahkan Kita udah saling melihat satu sama lain," ucap Arya.


Nana membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Bawah aku perih," ucap Nana memberitahu Arya.


"Masih sakit?" tanya Arya lembut.


Nana mengangguk. "Sakit kalau dibawa gerak," rengek Nana manja.


"Aku lihat, ya," ucap Arya.


Sontak Nana langsung menggeleng mendengar perkataan Arya. Yang benar saja, Arya melihat bagian bawahnya yang entah seperti apa bentuknya? Sungguh Nana sangat malu. Dia menyesal sudah mengatakannya pada Arya.


"Enggak usah, nanti pasti juga sembuh," ucap Nana mengeratkan pegangan selimutnya.


"Nanti kalau sakit bilang aku, ya," ucap Arya.


Nana hanya mengangguk menjawab perkataan Arya.


"Mandi, yuk. Habis itu kita sarapan," ajak Arya.


"Aku dulu yang mandi," ucap Nana.


"Bareng?" tawar Arya.


Nana langsung menggeleng dan berdiri dengan perlahan. Nana menyeret selimut untuk menutupi tubuh polosnya, sedangkan Arya sudah menggunakan boxernya kembali.


Ide jahil terlintas di pikiran Arya saat melihat Nana yang berjalan dengan perlahan ke kamar mandi. Arya ikut berdiri. Dia menginjak ujung selimut yang menyapu lantai.


Tubuh indah Nana terpampang nyata saat selimut itu jatuh kelantai karena perbuatan Arya. Tanpa menunggu omelan dari sang istri, Arya langsung mengangkat Nana dan membawanya ke kamar mandi.


"Kita mandi bareng," final Arya. Nana hanya pasrah menerima setiap perlakuan Arya. Mereka mandi bersama ditambah dengan sedikit kegiatan plus-plusnya.

__ADS_1


.....


Kini Nana dan Arya sedang sarapan dengan nasi goreng buatan Arya di meja makan. Kalian tahu bukan, bahwa Nana tidak jago memasak, dan Arya juga tidak membiarkan istrinya untuk memasak, katanya takut kelelahan. Jadi Nana mengalah dan membiarkan Arya melakukan apa yang dia mau.


"Kita cuti berapa hari, Mas?" tanya Nana saat mereka telah selesai makan.


"Sampai puas," jawab Arya enteng.


"Mentang-mentang bos jangan seenaknya," ucap Nana ketus.


Arya hanya tertawa melihat wajah cemberut istrinya.


"Sayang," panggil Arya lembut.


"Iya, Mas," jawab Nana.


"Kamu nggak usah kerja aja, ya," ucap Arya.


Dahi Nana berkerut bingung. "Memangnya kenapa, Mas?" tanya Nana.


"Aku mah kamu jadi istri aku aja. Memasak buat aku, sambut aku pulang kerja, antar makan siang, habisin uang aku, temenin aku di ranjang buat olahraga. Pokoknya kamu hanya boleh ngurusin aku," ucap Arya.


"Kalau aku nggak kerja, biaya Ayah sama Bi Mirna gimana?" tanya Nana khawatir.


"Apa kamu lupa siapa suami kamu, Sayang?" tanya Arya.


Nana menghela nafas pelan. "Aku tahu, Mas. Tapi aku nggak enak harus repotin kamu," ucap Nana.


Arya menarik kursi Nana agar lebih dekat kepadanya. Arya membawa Nana kedalam dekapannya. "Sayang, harta aku itu harta kamu juga. Biar aku yang nanggung semuanya. Uang aku nggak akan habis, Sayang," ucap Arya.


"Nggak ada penolakan, Sayang!" ucap Arya tegas.


Nana hanya pasrah mengangguk di dalam dekapan Arya. "Percayalah, Sayang. Kita bersama untuk saling menyempurnakan," ucap Arya mengusap lembut punggung Nana.


"Aku sayang kamu, Mas" ucap Nana menengadah menatap Arya.


Arya yang gemes mencium puncak hidung Nana.


"Cup."


"Lagi."


"Cup."


"Lagi."


"Cup."


"Lagi."


"Cup."

__ADS_1


"Lagi."


"Cup."


"Lag-, mmph."


Arya yang gemas dengan istrinya langsung melahap bibir mungil Nana.


.....


Kini Arya dan Nana sedang dalam perjalanan menuju rumah Arya. Nana nampak sangat cemas dan gugup.


"Sayang," panggil Arya lembut.


Nana menoleh ketika Arya memanggilnya.


"Jangan takut, ada aku," ucap Arya mengerti dengan perasaan istrinya.


Nana hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu mereka kembali diam, larut dengan pikiran masing-masing.


Empat puluh lima menit berlalu, kini mobil Arya sampai di parkiran rumahnya. Arya dan Nana turun dari mobil dan berjalan dengan bergandengan tangan memasuki rumah.


"Darimana kamu, Arya?" ucap Mita tegas dari ruang tamu begitu melihat anaknya masuk kedalam rumah.


Arya dan Nana menghentikan langkahnya. Arya membalik badan melihat Mita, sedangkan Nana hanya menunduk takut dan bersembunyi dibalik punggung Arya. Tangannya menggenggam erat tangan Arya.


Diruang tamu ada mereka semua anggota keluarga Arya, termasuk Acha dan Meisya. Kecuali Atlantik yang memang pergi ke kantornya dan si kecil Freya yang main di taman belakang bersama pengasuhnya.


Arya berjalan dengan langkah pasti menghampiri mereka semua, diikuti Nana dibelakangnya.


"Bagaimana kandunganmu, Cha?" tanya Arya tanpa menghiraukan Mamanya.


Acha tersenyum lembut. Tangannya mengusap pelan perut yang masih rata itu. "Sudah lebih baik, Ar," jawab Acha.


Arya mengangguk. "Baguslah," ucap Arya.


"Ada sesuatu yang ingin Al sampaikan," lanjut Arya serius menatap semuanya.


Mereka semua menatap Arya dengan serius. Lain halnya dengan Bumi yang hanya cuek karena dia sudah mengetahui semuanya.


"Apa Nak? Apa kau berubah pikiran dan ingin menikahi Acha?" tanya Mita cepat.


Arya menatap Acha yang menatapnya dengan pandangan sendu. "Maaf, Cha. Aku akan menjagamu dan bayimu, tapi bukan berarti aku menikahimu," ucap Arya.


Acha tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Arya. "Aku mengerti, Ar. Aku juga tidak masalah. Aku akan rawat bayi ini, karena dia hasil cintaku dengan Zein," ucap Acha.


"Sayang," panggil Meisya dengan nada tak setujunya.


"Acha tidak ingin menyakiti wanita lain demi kebahagiaan Acha, Ma. Lagi pula menikahi Arya belum tentu membuat Acha bahagia," ucap Acha menjelaskan kepada Meisya.


"Tapi setidaknya anak kamu lahir dengan keadaan orang tua lengkap, Nak," ucap Meisya.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menduakan istriku, Tante!"


......................


__ADS_2