Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
Extra Part 1


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Lima tahun kemudian.


Di ruangan yang hanya dipenuhi oleh warna putih itu, terlihat seorang lelaki tampan yang sedang memandangi foto besar yang memenuhi dinding dikamar tersebut. Setiap sisi dinding hanya ada foto seorang wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Kamu jahat, Sayang. Kenapa tidak pernah muncul dalam mimpi aku," ucap lelaki tersebut sendu menatap mata wanita yang ada di foto dengan mata yang berkaca-kaca.


Sudah lima tahun dia berada di ruangan ini. Seharu-harinya hanya dihabiskan dengan menyesali dan memandangi foto wanita yang sangat dia cintai untuk melepas rindu. Tapi sayang, rindu yang kian menumpuk itu tidak lekas hilang, malah semakin bertambah seiring berjalan waktu.


"Aku tersiksa disini. Apa kamu begitu bahagia di sana sehingga lupa dengan suami kamu disini, Sayang?" lanjutnya lagi.


Bulu-bulu halus sudah memenuhi rahangnya. Rambut yang semula rapi itu kini sudah sampai menyentuh bahunya.


Brak.


"Uncle Arya!" teriak seorang gadis kecil yang berlari memasuki ruangan lelaki tersebut.


Ya, lelaki tersebut adalah Arya. Seorang lelaki yang memiliki penyesalan terbesar dalam hidupnya. Seorang lelaki yang menghukum dirinya sendiri karena kesalahan fatal yang menyebabkan dia harus kehilangan istri yang sangat dia cintai untuk selama-lamanya.


Arya menoleh, dia menangkap tubuh mungil keponakan yang setiap hari selalu datang menemuinya. "Freya," ucap Arya tersenyum.


Freya, gadis kecil yang dulu berusia tiga tahun itu kini sudah beranjak menjadi delapan tahun. Seragam merah putih yang dia kenakan sudah nampak berantakan dan ada sedikit noda di bagian depannya.


Arya mengangkat Freya kegendongannya. "Freya baru pulang sekolah?" tanya Arya.


Freya mengangguk. "Iya Uncle. Sekolah hari ini sangat melelahkan," keluhnya pada Arya.


"Melelahkan kenapa?" tanya Arya mengusap lembut rambut Freya..


"Pokoknya melelahkan," ucap Freya cemberut.


Arya tersenyum dan mengecup lembut dahi Freya. "Freya kesini sama siapa?" tanya Arya.


"Sama Mama sama Papa," jawab Freya. Benar saja, di ambang pintu sudah terlihat Dinda yang datang bersama Atlantik.


"Saatnya potong rambut, Arya," ucap Dinda mengangkat gunting ditangannya.


Arya hanya mengangguk patuh dan meletakkan Freya di kasur. "Uncle mau cukuran dulu, ya," ucap Arya. Freya dengan patuh mengangguk.


Lima tahun sudah Nana pergi meninggalkan mereka semua. Nana pergi meninggalkan penyesalan yang begitu dalam untuk semuanya, terutama Arya.


Lima tahun sejak kejadian dimana Arya mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur disisi tinggi, dia hanya mengurung diri dan tidak pernah keluar dari sini. Oleh karena itu, Dinda yang membersihkan dan merapikan rambut Arya setiap waktunya.

__ADS_1


"Keahlianku bertambah sejak rutin memotong rambutmu," ucap Dinda disela kegiatannya mencukur rambut Arya. Arya hanya mengangkat bahu tidak peduli dengan perkataan Kakaknya.


Atlantik yang melihat itu ikut merasakan bagaimana penyesalan Arya. Dia tahu bagaimana dulu kasarnya Arya kepada Nana hingga akhirnya Nana memutuskan untuk pergi mencari kebahagiaan yang abadi.


"Tidak ingin memulai lembaran baru, Arya?" tanya Atlantik.


"Bagaimana perusahaan, Bang?" ucap Arya tanpa menjawab Atlantik.


Arya menghela nafas pelan. Selalu seperti ini, jika dia bertanya mengenai hal yang bersangkutan dengan kehidupan Arya, maka Arya akan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Perusahaan baik-baik saja. Abang, Gilang dan Papa bisa mengatasinya," jawab Atlantik.


Freya yang hanya mendengarkan perkataan orang dewasa didepannya memilih turun dari kasur. Dia berjalan menuju dinding untuk menatap lekat wajah Aunty kesayangannya.


Tangan mungil Freya mengusap lembut foto tersebut. "Aunty Barbie kesayangan Freya, gimana kabarnya disana?" tanya Freya menatap mata Nana di foto tersebut.


Mereka semua yang mendengar itu mengalihkan pandangannya kepada Freya. Dinda yang tidak ingin larut dalam kesedihannya tetap melanjutkan kegiatannya memotong rambut Arya.


"Aunty, kata Mama Surga itu indah. Kata Bu Guru Surga itu juga indah. Setiap liburan, Freya selalu minta kepada Mama sama Papa untuk membawa Freya ke surga. Tapi Mama sama Papa tidak pernah mau. Kakek dan Nenek juga tidak ingin mengajak Freya ke surga. Aunty Acha dan Uncle Gilang juga nggak mau. Setiap Freya minta, pasti Aunty Acha menangis. Memang Freya salah ya, Aunty?" ucap Freya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Atlantik yang mendengar suara anaknya seperti akan menangis, langsung berjalan mendekati Freya dan membawa ke gendongannya.


"Freya," panggil Atlantik lembut.


Freya memandang Atlantik dengan mata berkaca-kaca yang sudah siap dengan tangis yang akan keluar saat itu juga.


Freya mengangguk dengan antusiasnya.


"Kalau begitu Freya harus jadi anak baik, selalu sholat dan kirim doa untuk Aunty Barbie. Harus jadi anak penurut dan pintar. Di surga, tidak menerima orang-orang jahat, Nak," ucap Atlantik.


"Berarti Freya masih kurang baik, ya, Papa?" tanya Freya polos.


Atlantik tersenyum. "Bukan kurang, Nak. Tapi belum saatnya Freya ke surga. Jangan berhenti berbuat baik sampai saatnya tiba hingga kita semua bisa menyusul Aunty ke surga, Nak," ucap Atlantik.


"Iya, Papa," jawab Freya.


Freya turun dari gendongan Atlantik dan berjalan mendekati Arya. Tangan mungil Freya terulur mengusap lembut buliran kristal yang mengalir di pipi Arya. "Uncle, kita harus selalu baik biar bisa ketemu sama Aunty di Surga. Orang baik itu nggak boleh nangis, Uncle," ucap Freya.


Arya tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Dinda hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan tangis agar tidak keluar di depan anaknya.


"Uncle sayang Freya," jawab Arya.


"Freya juga sayang Uncle dan Aunty," jawab Freya memeluk pinggang Arya.

__ADS_1


Ditengah pembicaraan mereka, Acha dan Gilang datang bersama dengan seorang bocah lelaki kecil yang berusia tiga tahu.


Ya, Acha dan Gilang menikah empat tahun yang lalu. Acha yang semakin terpuruk karena kehilangan Nana yang mengorbankan jantungnya, membuat Gilang tidak tega. Gilang merawat Acha, karena kondisi Meisya yang tidak jauh beda dengan Acha, sama-sama terpuruk. Disaat itulah, perasaan cinta itu tumbuh di hati mereka berdua.


"Halo Pacal!" teriak lelaki kecil tersebut mencium foto besar yang ada di dinding tersebut.


Mereka semua yang tadinya menangis, kini tertawa melihat tingkah bocah lelaki tersebut.


"Dia istriku, bukan pacarmu, Ghaza," jawab Arya.


Ghaza Akselio, putra Acha dan Gilang yang lahir tiga tahun lalu. Dia memang seperti itu juga sudah melihat foto Nana yang begitu cantik. Acha memang memperkenalkan Nana kepada anaknya sebagai seorang malaikat dalam hidupnya.


"Jika besal nanti, pasti jadi pacal Gaja," celetuk anak kecil itu.


"Benar-benar menggemaskan," ucap Dinda gemas dengan Ghaza.


"Ghaza, yuk main sama Kakak," ucap Freya.


Ghaza mengangguk. Mereka berdua main di ranjang Arya.


Dinda telah selesai membersihkan rambut dan bulu di wajah Arya. Arya terlihat lebih segar dari sebelumnya.


Kini mereka semua duduk di sofa yang ada diruangan Arya.


"Sampai kapan disini, Ar?" tanya Acha.


"Sampai akhirnya aku bisa bertemu dengan istriku," jawab Arya.


"Ar-"


"Dulu, disini adalah tempat Ayah Akmal menghabiskan waktunya karena ditinggal oleh Mama Meisya. Sekarang giliran aku yang menghuni tempat ini. Aku nyaman disini. Aku merasakan keberadaan istriku disini. Aku begitu sangat mencintainya, hingga dengan gilanya aku memilih disini daripada hidup di dunia luar," ucap Arya sendu.


"Tinggal disini sampai penyesalanmu itu bisa mengobati rindumu, Arya. Tapi satu hal pesan Kakak, jangan melakukan hal bodoh untuk menghabisi nyawamu," ucap Dinda.


Arya mengangguk. "Nana tidak akan suka melihat Arya bodoh, Kak. Istriku pasti akan marah nanti," ucap Arya memandang foto cantik Nana.


Acha hanya bisa tersenyum pedih. Awalnya Acha marah kepada Arya setelah mendengar semuanya, tapi Gilang memberi pengertian kepadanya.


Terimakasih atas pengorbanan kamu, Na. Kamu adalah adik sekaligus malaikat dalam hidupku. Batin Acha lirih.


Aku sangat mencintai kamu, Sayang. Biar aku menghabiskan sisa hidupku seperti ini. Semoga kamu tidak marah. Dan aku mohon, jika mungkin, muncul dimimpiku, Sayang, walau hanya sekali saja. Batin Arya.


......................

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


__ADS_2