Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 45


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Bahkan untuk memberitahu namanya pun Bibi tidak bisa?" tanya Arya.


Bi Mirna menggeleng. "Bibi tidak berhak, Nak. Nana yang lebih berhak untuk memberitahu semuanya kepadamu," ucap Bi Mirna.


Arya dan Gilang menghela nafas pelan.


"Baiklah, Bi. Terimakasih karena sudah bersedia memberitahu saya," ucap Arya.


Bi Mirna mengangguk. "Saya mohon, Nak Arya. Jangan sakiti Nana. Jika dia melakukan kesalahan yang sengaja atau tidak, nasehati dia dengan baik. Nana terkadang akan menjadi gadis manja layaknya anak kecil, terkadang dia juga bisa bersikap dewasa. Bibi berharap, Nak Arya bisa menerima Nana dengan segala kekurangannya," ucap Bi Mirna berharap kepada Arya.


Arya tersenyum dan mengangguk. "Saya akan menjaga istri saya, Bi. Saya akan membahagiakan Nana," ucap Arya.


"Terimakasih, Nak," ucap Bi Mirna.


Arya menggeleng. "Jangan berterimakasih, Bi. Karena sudah kewajiban saya membahagiakan istri sendiri," ucap Arya.


Bi Mirna tersenyum senang mendengar perkataan Arya. Semoga semua ucapanmu benar, Nak Arya. Batin Bi Mirna berharap.


.....


Setelah pertemuan dengan Bi Mirna, Arya kembali ke Rumah Sakit Jiwa. Sedangkan Bi Mirna kembali di antar pulang oleh Gilang.


"Apa mungkin Tante Meisya adalah Mamanya Nana? Setiap gue lihat tatapan Nana kepada Tante Meisya, sorot sendu selalu Nana berikan dalam tatapannya," gumam Arya sambil terus menatap jalanan.


"Huft, kenapa kamu nggak jujur sama aku aja sih, Sayang," ucap Arya frustasi. Arya menambah laju mobilnya agar lebih cepat samai di Rumah Sakit.


Lima belas menit, Arya sampai di parkiran Rumah Sakit. Dengan segera Arya berjalan cepat menuju ruangan Akmal. Dia takut Nana akan terbangun dan tidak menemukan keberadaanya.


Perkiraan Arya salah, Arya melihat Nana yang menangis di kursi tunggu ruangan Akmal. Dengan segera Arya berlari dari ujung koridor.


"Sayang," teriak Arya.


Nana yang tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya. "Mas," ucap Nana lirih.


"Sayang kenapa?" tanya Arya khawatir melihat tangan Nana yang penuh dengan darah.


"Hiks, Ayah," ucap Nana dalam tangisnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Arya lagi.


"Ayah berdarah, hiks," tangis Nana semakin pecah mengadu kepada Arya.


"Sayang, tenang, ya. Coba jelasin pelan-pelan sama aku," ucap Arya lembut mengusap air mata di pipi Nana.


"Hiks, Ayah benturin kepalanya sendiri ke kepala ranjang, Mas. Dahi Ayah banyak darah. Kaki Ayah juga luka karena rantainya, hiks," ucap Nana menjelaskan.

__ADS_1


Arya segera memeluk erat Nana. Memberikan kenyamanan kepada gadis tersebut. "Sayang, Ayah pasti baik-baik aja. Percaya sama aku," ucap Arya.


"Hiks, darah Ayah banyak banget. Aku nggak tahu kenapa, tiba-tiba Ayah udah histeris kayak gitu, Mas," ucap Nana.


"Aku nggak mau Ayah pergi, Mas," tangis Nana sambil memukul-mukul dadanya sendiri.


"Sayang, udah jangan sakiti diri kamu sendiri. Darahnya jadi kotorin badan kamu, Sayang," ucap Arya menahan tangan Nana.


Nana pasrah dan menurut. Arya memeluk Nana kembali dan mengusap lembut punggung Nana. Memberi kenyamanan kepada istrinya.


Selang beberapa menit, Dokter keluar dari ruangan Akmal.


"Bagaimana Ayah, Dokter?" tanya Nana cepat pada Dokter Rina.


"Pak Akmal sudah mulai tenang setelah kami beri suntik penenang. Beruntung luka Pak Akmal tidak terlalu parah, Na. Kami harus memindahkan rantai ke tangan Pak Akmal. Karena kakinya yang sudah lecet karena rantai, Na," ucap Dokter menjelaskan.


Hati Nana berdenyut nyeri mendengar penjelasan Dokter. Bahkan tubuh Ayahnya lecet karena rantai besi.


"Nana sudah boleh temani Ayah lagi kan, Dokter?" tanya Nana.


Dokter Rina mengangguk. "Silahkan, Na," ucap Dokter.


"Kamu duluan, Sayang," ucap Arya saat Nana menatapnya.


"Jangan lama, Mas," ucap Nana.


Arya mengangguk. Nana memasuki kamar Akmal dan meninggalkan Arya bersama Dokter Rina di sana.


"Iya, Pak," jawab Dokter Rina.


"Apa Ayah mertua saya sering seperti ini?" tanya Arya.


Dokter Rina tercengang. Pasalnya, dia belum mengetahui bahwa Nana sudah menikah. Apalagi menikah dengan donatur terbesar di Rumah Sakit itu. Tapi Dokter Rina hanya diam dan tidak berani bertanya.


"Sebelumnya Pak Akmal tidak separah ini, Pak. Sejak seorang wanita datang menemui Pak Akmal, Pak Akmal sering mencoba untuk melukai dirinya sendiri," ucap Dokter Rina.


"Seorang wanita?" tanya Arya.


"Iya, Pak."


"Apa saya boleh tahu siapa wanita itu?" tanya Arya.


"Kami tidak mengetahui wajahnya, Pak. Dia selalu memakai kacamata hitam dan menutupi wajahnya dengan selendang," ucap Dokter Rina.


"Kalau begitu kenapa dibiarkan dia menemui Ayah mertua saya? Harusnya kalian lebih memperketat pengawasan mengenai tamu yang datang untuk menjenguk pasien!" ucap Arya tegas.


"Maaf, Pak. Ini memang kelalaian kami," ucap Dokter Rina.

__ADS_1


"Rekaman CCTV adakan?" tanya Arya.


Dokter Rina mengangguk.


"Berikan rekaman CCTV ruangan Ayah Mertua saya secepatnya. Saya tunggu sampai besok siang," ucap Arya dan berlalu meninggalkan Dokter Rina di depan ruangan Akmal.


Dokter Rina mengusap pelan dadanya dan menarik nafas banyak ketika Arya sudah pergi. "Tahan nafas bicara sama donatur," gumam Dokter Rina dan berjalan menuju ruangannya.


Arya berjalan mendekati Nana yang duduk di kursi sebelah ranjang Akmal. Air matanya terus mengalir memandangi wajah Ayahnya.


Apa setiap hari kamu seperti ini, Sayang? Sungguh, aku saja rasanya tidak sanggup jika harus hidup seberat ini. Batin Arya memandangi punggung Nana.


Dengan lembut Arya menyentuh pundak Nana.


"Mas," ucap Nana lirih. Nana memeluk pinggang Arya dan menenggelamkan kepalanya di perut Arya.


"Aku nggak sanggup Ayah kayak tadi lagi," ucap Nana masih sesegukan.


"Kita akan berikan yang terbaik untuk kesembuhan Ayah, Sayang," ucap Arya.


"Aku nggak punya siapa-siapa lagi kalau Ayah pergi. Ayah nggak boleh pergi, Mas," ucap Nana.


"Kami masih punya aku, Sayang. Dan Ayah tidak akan kemana-mana," ucap Arya.


"Mas, semuanya pasti akan baik-baik sajakan?" tanya Nana menengadah menatap Arya.


"Semua akan selalu baik-baik saja, Sayang," ucap Arya membungkuk mencium pucuk kepala Nana.


Saat teringat sesuatu, Nana melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"Tadi kamu kemana, Mas?" tanya Nana. Karena saat tadi dia bangun, dia tidak mendapati Arya disampingnya.


"Tadi aku keluar sebentar, Sayang. Ada urusan sama Gilang," jawab Arya.


"Urusan apa?" tanya Nana penasaran.


"Bukan urusan apa-apa. Cuma masalah kerjaan aja," jawab Arya.


Nana hanya mengangguk percaya pada ucapan Arya.


"Sekarang tidur lagi, ya," ucap Arya.


"Tapi Ayah-"


"Biar aku yang jaga Ayah. Kamu harus istirahat, Sayang," ucap Arya langsung menggendong Nana ala bridal style.


"Peluk aku sampai tidur, ya," ucap Nana saat dia sudah rebahan di sofa.

__ADS_1


"Iya," ucap Arya memeluk Nana. Namun matanya tetap mengawasi Akmal yang tertidur.


......................


__ADS_2