Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 50


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Suasana makan malam terasa seperti biasanya. Tenang dan hening. Hanya sesekali terdengar suara Freya yang mengoceh dengan mulut penuh makanan.


Setelah selesai makan, Kini mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Nana duduk bersama Freya dan Dinda di karpet berbulu, sedangkan yang lainnya duduk di atas sofa.


"Pa, Ma," ucap Arya membuka suaranya. Mita dan Bumi yang sedang duduk di sofa depan Arya menoleh.


"Kenapa Nak?" tanya Mita. Sedangkan Bumi hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Besok Arya mau pindah sama Nana," ucap Arya. Sontak perkataan Arya membuat semua mata tertuju padanya.


"Mas," ucap Nana tak percaya. Karena sebelumnya Arya tidak pernah membicarakan ini kepadanya. Arya yang mendengar Nana tidak acuh, dia masih sedikit kesal dengan istrinya yang masih saja membela Meisya.


"Kenapa tiba-tiba, Arya?" tanya Mita.


"Arya mau mandiri, Ma. Arya mau bangun rumah tangga Arya berdua sama istri Arya tanpa ada yang mengganggu, Ma," ucap Arya sedikit menyindir Meisya.


Meisya hanya diam. Pura-pura tidak tahu dengan keadaan yang terjadi.


Tidak ada yang bisa membantah perkataan Arya. Setiap ucapannya terdengar sebagai perintah yang harus dipatuhi.


"Papa setuju saja, Arya. Kapan kamu akan pindah?" tanya Bumi.


"Besok, Pa," jawab Arya yakin. Setelah mengatakan itu, Arya bangun dan berjalan menuju kamarnya.


Nana yang melihat tingkah suaminya hanya menghela nafas pelan. Dia tahu apa yang dilakukannya salah, tapi hatinya sebagai seorang anak menuntunnya untuk melakukan itu.


"Kamu ada masalah dengan Arya, Na?" tanya Dinda yang melihat gelagat aneh antara Nana dan Arya.


"Mas Arya kesal sama aku, Kak," ucap Nana.


"Kamu samperin, Na. Jangan marah kelamaan, nggak baik," ucap Dinda.


Nana mengangguk dan segera berdiri untuk menyusul Arya. Freya yang melarang Nana pergi ditahan oleh Dinda.


"Freya sama Mama dulu, ya. Aunty Barbie lagi usaha buat bujuk Uncle," ucap Dinda membujuk anaknya.


"Telus nanti Fleya tidulnya sama siapa?" tanya Freya teringat akan nasib tidurnya bersama Nana.


Dinda tersenyum mendengar perkataan anaknya. "Nanti Freya tidur sama Papa sama Mama, ya," ucap Dinda membujuk Freya.


Freya dengan lesu mengangguk. Karena dia mengerti saat ini Uncle dan Aunty kesayangannya butuh waktu berdua.


.....


Nana dengan pelan membuka pintu kamarnya. Terlihat pintu balkon terbuka. Nana berjalan menuju balkon menyusul suaminya.


"Mas," panggil Nana.


Arya hanya diam. Dia tidak membalikkan badan melihat Nana yang kini sudah berdiri di belakangnya.


Terdengar helaan nafas dari mulut Nana. Nana berjalan semakin mendekat dan memeluk Arya dari belakang. "Mas," panggil Nana lirih.


"Jangan seperti ini. Aku nggak suka," ucap Nana menyandarkan kepalanya di punggung Arya.

__ADS_1


"Tapi aku lebih nggak suka kamu bersikap bodoh," jawab Arya tanpa berbalik.


"Maaf, Mas," ucap Nana menyesal dengan keadaannya.


Arya berbalik badan dan memeluk erat Nana. "Besok kita pindah, ya," ucap Arya lembut.


Nana mengangguk patuh. Dia yakin, apa yang sudah diputuskan oleh suaminya pasti itu yang terbaik untuk mereka.


"Kita pindah ke apartemen, Mas?" tanya Nana mendongak menatap Arya.


Arya mengecup singkat ujung hidung Nana yang mancung. "Kita pindah ke rumah, Sayang," jawab Arya.


"Rumah?" tanya Nana heran. Karena setahunya, Arya belum membeli rumah untuk mereka tinggal.


"Iya, rumah kita, Sayang," jawab Arya.


"Rumah kita?" beo Nana.


Arya tersenyum gemas melihat ekspresi istrinya. Berkali-kali Arya mengecup singkat ujung hidung dan bibir Nana. "Jangan banyak tanya. Besok kamu bakal tahu juga," jawab Arya.


Nana tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Arya. Tapi tidak berselang lama, raut wajah Nana berubah sendu. Arya yang melihat perubahan raut wajah istrinya bertanya. "Kenapa Sayang?" ucap Arya.


"Em ... Mas, bagaimana kalau aku nggak bisa kasih kamu anak?" tanya Nana menunduk.


"Angkat kepalanya, Sayang," ucap Arya tidak suka.


Dengan perlahan Nana mengangkat kepalanya. Nana memandang lekat mata Arya dan mengulangi pertanyaannya. "Bagaimana kalau ucapan Mama Meisya benar, Mas. Bagaimana kalau aku nggak bisa kasih kamu anak?" ucap Nana lagi.


"Sayang, bahkan Kita belum sebulan menikah. Masih panjang waktu bagi kita buat usaha, Sayang," ucap Arya meyakinkan Nana.


"Tidak ada tapi-tapian, Sayang. Tujuan aku menikahi kamu bukan hanya untuk mendapat seorang anak. Aku menikahi kamu memang karena aku mencintai kamu, Sayang. Bukan hanya karena untuk memiliki anak," ucap Arya.


"Terimakasih, Mas," ucap Nana dengan mata berkaca-kaca.


Arya mengecup kedua mata Nana. "Air matanya nggak boleh lagi keluar," ucap Arya tersenyum.


Nana memeluk erat Arya dan menenggelamkan wajahnya di dada Arya. Sungguh, dia sangat beruntung memiliki suami seperti Arya.


"Aku tidak menyesal jika dulu pernah bersikap murahan untuk meraih cinta kamu, Mas," ucap Nana dalam dekapan Arya.


"Dan aku suka itu," ucap Arya.


Nana terkekeh kecil mendengar jawaban Arya. Mengingat bagaimana dulu Arya sangat menolaknya, Nana ingin sekali meledek suami yang sudah sangat mencintainya itu.


Disela pelukan mereka, terdengar suara pintu diketuk dari luar.


Nana melepaskan pelukannya dan berjalan untuk membuka pintu.


"Freya," ucap Nana yang melihat Freya berdiri dengan mata berkaca-kaca menengadah menatap Nana. Nana berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Freya.


"Cantik Aunty kenapa?" tanya Nana lembut.


"Aunty," ucap Freya dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Freya kenapa, Sayang?" tanya Nana.

__ADS_1


"Aunty jangan pindah, hiks," ucap Freya menangis memeluk erat leher Nana. Nana memeluk badan mungil Nana dan mengusap lembut punggung gadis kecil yang bergetar itu.


Arya yang mendengar suara tangis berjalan menyusul Nana.


"Kenapa Sayang?" tanya Arya.


Nana menggendong Freya yang masih menangis sambil memeluknya dan membawa Freya ke kasur. Arya menutup pintu dan berjalan menyusul istri dan ponakannya.


"Bidadari Uncle kenapa?" tanya Arya lembut.


Freya beralih memandang Arya dengan air mata di wajahnya. "Uncle, jangan pindah, ya," ucap Freya memohon.


Ketika dia mendengar kata pindah, anak itu langsung tidak rela dan menolak ajakan Dinda yang akan menidurkannya. Bukannya tidur, anak itu malah berlari ke kamar Aunty kesayangannya.


"Tapi Uncle harus pindah, Sayang," ucap Arya.


Tangis Freya semakin pecah mendengar perkataan Arya.


"Sayang, nanti Freya bisa ke rumah Aunty sama Uncle setiap hari," ucap Nana mencoba membujuk Freya.


"Fleya mau Aunty disini telus, hiks," ucap anak itu menangis. Dia sungguh tidak mau jika berpisah dengan Aunty kesayangannya.


"Freya mau adik dari Aunty Barbie nggak?" tanya Arya.


Freya menghentikan tangisnya tiba-tiba ketika mendengar pertanyaan Arya. "Adik?" tanya Freya.


Arya mengangguk. "Adik bayi," ucap Arya.


Dengan antusias dan senyum mengembangnya Freya mengangguk. Tangisnya seketika hilang begitu saja saat mendengar adik bayi. "Mau Uncle," ucap Freya heboh.


"Kalau begitu, Freya harus bolehin Aunty sama Uncle pindah. Nanti Freya boleh tiap hari ke rumah Aunty sama Uncle," ucap Arya.


"Fleya mau ikut buat adik bayi," ucap Freya merengek.


"Kalau gitu, Freya tanya dulu sama Papa dan Mama cara buat adik bayi, ya," ucap Arya jahil.


Kena Lo, Kak. Batin Arya senang.


"Mas," ucap Nana protes dengan perkataan Arya.


"Mama sama Papa tahu calanya?" tanya Freya polos.


"Iya. Papa sama Mama Freya paling jago buat bayi," ucap Arya tanpa menghiraukan tatapan tajam istrinya.


Mata Freya nampak berbinar mendengar jawaban Arya. "Fleya mau ketempat Papa sama Mama dulu," ucap Freya langsung turun dari ranjang. Dengan sedikit kesusahan, anak itu berhasil membuka pintu dan berlari keluar menuju kamar orang tuanya.


......................


Maaf atas keterlambatannya teman-teman. Karena kesibukan dunia nyata, waktu bertemu kita jadi terganggu ✌️🤗


Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa.


Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹


Jangan lupa, ikuti juga kisah di novel aku yang lain dengan judul "Derajat Rumah Tanggaku" dijamin nggak kalah seru.

__ADS_1


__ADS_2