Memaksa Cinta Sang CEO

Memaksa Cinta Sang CEO
BAB 25


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Hari ini Nana pulang dengan diantar Arya. Kali ini buka Nana yang memaksa Arya untuk mengantarnya, tapi Arya yang berinisiatif sendiri untuk mengantar Nana. Kini mereka berdua sudah ada di mobil.


"Pak, pernikahannya Acha kapan?" tanya Nana. Tangan gadis itu terus bergelayut manja di lengan Arya. Arya hanya membiarkan, dia berusaha untuk membuka hati dan memberikan kesempatan kepada Nana.


"Pak?" tanya Arya mengerutkan keningnya heran.


"Iya, Pak. Lalu apa lagi?" tanya Nana polos.


"Ck, dulu kamu sangat agresif, sekarang mengapa tiba-tiba lemot begini," ucap Arya. Dia merindukan Nana memanggilnya dengan panggilan Sayang.


Nana terdiam sebentar, setah itu senyum centil terbit di bibir mungil gadis itu. "Sayang," panggil Nana lembut kepada Arya.


Ada rasa hangat dalam hati Arya mendengar Nana memanggilnya seperti itu. Jika dulu dia mengumpati Nana yang centil kepadanya, kini dia sangat berharap Nana selalu bersikap seperti ini kepadanya.


Arya tersenyum lembut kepada Nana. "Jadi kapan Acha akan menikah, Sayang?" lanjut Nana kembali bertanya.


"Tiga Minggu lagi," jawab Arya tersenyum.


Nana menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Arya.


"Besok kita ke butik Mama, ya," ucap Arya.


"Untuk apa?" tanya Nana bingung.


"Kita cari gaun untuk kekasihnya Arya Khalifano Bumi," ucap Arya.


Nana tersipu. Telinga dan lehernya memerah karena malu.


Arya yang gemas melihat tingkah kekasihnya itu langsung mencubit pelan hidung Nana.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Arya.


"Boleh," jawab Nana.


"Dimana Ayah dan Ibu mu?" tanya Arya hati-hati. Dia sangat penasaran sejak saat Meisya bertanya kepada Nana mengenai keluarga Nana.


Nana langsung terdiam mendengar perkataan Arya. Raut wajahnya berubah sendu mendengar pertanyaan Arya. Ada rasa takut dalam diri Nana untuk menceritakan semuanya kepada Arya. Dia takut jika Arya akan meninggalkannya jika tahu kebenaran tentang Ayahnya yang sakit jiwa. Kebahagiaanya baru saja di mulai, dia tidak ingin kebahagiaannya hilang dalam waktu dekat.


Arya yang melihat perubahan raut wajah Nana pun langsung membuka suara. "Tidak apa-apa jika tidak menjawab sekarang. Ceritakan saat kau sudah siap. Aku siap memberi pundak ku sebagai tempatmu untuk bersandar," jawab Arya.


Mata Nana berkaca-kaca. Inilah yang sudah sangat lama dia harapkan. Perhatian dan perlakuan lembut dari laki-laki yang sangat dia cintai.


Arya membawa Nana kedalam dekapannya memberikan ketenangan kepada Nana.


.....

__ADS_1


Tidak terasa kini mobil Arya sudah sampai di depan rumah Nana.


"Boleh aku mampir?" tanya Arya.


Dengan antusias Nana mengangguk. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah Nana.


Sampai di rumah, Bi Mirna sedang duduk di ruang tamu sambil membuat rajutannya.


"Assalamu'alaikum, Bi," ucap Nana.


"Waalaikumsalam," jawab Bi Mirna. Bi Mirna menghentikan kegiatannya dan melihat Nana datang dengan seorang lelaki.


Nana mengangguk menjawab tatapan Bi Mirna. "Iya, Bi. Ini Arya," ucap Nana.


"Halo, Bi," ucap Arya ramah menyalami tangan Bi Mirna.


"Wah, selamat datang, Nak Arya," ucap Bi Mirna ramah.


"Bi, Nana ke dapur dulu buatin minum. Kamu duduk dulu sama Bi Mirna, ya," ucap Nana pamit kepada Arya dan Mirna.


Arya dan Bi Mirna mengangguk, setelah itu Nana pergi ke dapur untuk membuat minuman.


"Duduk, Nak Arya," ucap Bi Mirna.


"Iya, Bi," jawab Arya.


"Nak Arya," panggil Bi Mirna lembut.


"Iya, Bi," jawab Arya.


"Terimakasih," ucap Bi Mirna tulus.


Dahi Arya berkerut mendengar perkataan Bi Mirna. Dia tidak merasa melakukan apapun, tapi kenapa Bi Mirna mengucapkan terimakasih padanya.


"Terimakasih? Untuk apa, Bi?" tanya Arya.


"Terimakasih karena menerima Nana dan memberikan kebahagiaan untuk Nana," ucap Bi Mirna.


Saya yang berterimakasih, karena Nana membuka hati saya, Bi. Batin Arya.


Arya mengangguk menjawab perkataan Bi Mirna.


"Jangan memberikan kesedihan untuknya lagi, Nak Arya. Tolong isi harinya dengan kebahagiaan," ucap Bi Mirna sendu.


"Em ... Bi, kalau boleh saya tahu, emang ada apa dengan Nana?" tanya Arya penasaran.


Baru Bu Mirna akan membuka mulutnya, Nana datang dari arah dapur dengan nampan berisi minuman untuk Arya.

__ADS_1


"Diminum, Sayang," ucap Nana. Arya tersenyum kepada Nana dan mengambil minum yang di berikan kepadanya.


"Kalau gitu Bibi kedalam dulu, ya," ucap Bi Mirna tidak enak. Mendapat anggukan dari Nana dan Arya, Bi Mirna berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Sepeninggalan Bi Mirna, Arya dan Nana berbincang-bincang ringan. Setelah lima belas menit, Arya pamit untuk pulang.


"Hati-hati," ucap Nana mengantar Arya ke depan rumahnya.


"Iya," jawab Arya.


Arya memasuki mobil dan langsung pergi meninggalkan rumah Nana.


Nana tersenyum kecut, dia mengharapkan Arya mengecup keningnya saat pulang tadi, tapi itu hanya menjadi angannya.


"Tidak apa-apa, Na. Mungkin karena Arya masih belum terbiasa," gumam Nana menyemangati dirinya sendiri.


Nana berbalik dan melangkah memasuki rumahnya. Nana mengambil gelas bekas minum Arya dan meletakkannya kembali ke dapur. Setelah itu, Nana pergi ke kamar Bi Mirna.


"Bi," panggil Nana ketika memasuki kamar Bi Mirna.


"Iya, Na," jawab Bi Mirna yang sedang duduk di kasurnya sambil merajut.


"Bi, Nana mau ketempat Ayah, ya," ucap Nana.


"Mau Bibi temani?"


Nana menggeleng. "Nggak usah, Bi. Nana sendiri aja. Nana bawa baju, ya Bi. Nana mau tidur tempat Ayah," ucap Nana.


Bi Mirna mengangguk. "Iya, Na," ucap Bi Mirna tersenyum.


Nana keluar kamar Bi Mirna dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil pakaian kerja dan segala keperluannya. Setelah selesai, Nana berpamitan kepada Bi Mirna dan segera pergi ke tempat Akmal dengan taksi.


....


Dua puluh menit di perjalanan, Nana sampai di rumah sakit. Nana berjalan menyusuri koridor. Dapat dia lihat orang-orang yang asik dengan dunianya sendiri. Tertawa dan berbicara tanpa beban yang harus mereka tanggung. Tidak berapa lama, Nana sampai di depan ruangan Akmal. Langkah Nana terhenti ketika mendengar jeritan keras Ayahnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan cepat Nana memasuki ruangan Akmal.


Air mata Nana luruh melihat Ayahnya yang mengamuk dengan badan yang di rantai ke ranjangnya. Akmal terus menjerit mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya.


"AKU MAU MATI!" teriak Akmal melawan beberapa perawat yang sedang menenangkannya.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @yus_kiz

__ADS_1


Jangan lupa baca karya ku yang lain, ya "Derajat Rumah Tanggaku" Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2