
🌹HAPPY READING🌹
Arya langsung mendongak dan menoleh kepada Gilang. "Sudah ada pendonor jantung untuk Acha," ucap Gilang.
Arya hanya mengangguk dan berdiri dengan lunglai. Arya memandang Dinda dengan tatapan sendu ya. Begitu juga dengan Dinda. Dia hanya bermaksud memberi Arya peringatan, jika tahu Nana akan mengalami hal seperti ini, maka dia akan memberitahu keberadaan Nana kepada Arya sejak tadi.
"Kak," panggil Arya lirih.
Dinda hanya mampu mengangguk menatap adiknya itu. "Dimana istri Arya, Kak?" tanya Arya dengan air mata yang tanpa bisa dia cegah mengalir begitu saja di pipinya.
Dinda hanya bisa menangis dan memeluk erat Atlantik yang sedang menggendong Freya. Freya yang melihat Mama dan Unclenya menangis ikut menangis memeluk erat leher Atlantik.
"Papa, Aunty Balbi dimana, hiks?" tanya Freya dengan tangisnya.
Atlantik bingung, tidak tahu harus bagaimana. Anak dan Istrinya menangis dalam pelukannya sekaligus.
"Sayang, kamu tenang ya. Kalau kamu seperti ini kasihan Freya," ucap Atlantik menenangkan Dinda.
Dinda hanya mengangguk. Dia mencoba meredakan tangisnya dan menyisakan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Arya, kita keruangan Acha dulu. Mereka semua pasti menunggu kehadiran kita," ucap Dinda membujuk Arya.
"Dimana istri Arya, Kak?" ucap Arya tanpa menghiraukan perkataan Dinda.
"Ar, Lo jangan gini. Lo harus berusaha cari dan nggak lemah kayak gini. Kita keruangan Acha dulu, setelah itu kita cari kebenaran kasus siapa sebenarnya yang menabrak Acha. Setelah itu kita pasti akan bertemu lagi dengan Nana," ucap Gilang.
"Tapi Lang-"
"Gilang benar, Arya. Kamu harus mencari kebenaran. Agar nanti jika kamu bertemu dengan Nana, kamu tidak lagi menyalahkannya," ucap Bi Mirna menatap Arya tegas.
Arya yang mendengar perkataan Bi Mirna langsung berjalan mendekatinya yang berdiri di sebelah Gilang. "Maafin Arya, Bi," ucap Arya menyesal.
Bi Mirna menggeleng. "Bukan kepada Bibi, tapi kamu harus meminta maaf kepada Nana," ucap Bi Mirna.
Arya mengangguk. "Dukung Arya, Bi," ucap Arya sendu.
Bi Mirna mengangguk. Tangannya terulur mengusap lembut bahu Arya. "Temukan istri kamu dan meminta maaf atas semuanya," ucap Bi Mirna menyemangati Arya.
"Terimakasih, Bi," ucap Arya senang memeluk Bi Mirna.
"Ayo ke ruangan Acha, Ar," ajak Gilang. Mereka semua mengangguk dan berjalan menuju ruangan Acha.
.....
Di depan ruangan Acha, sudah ada Bumi, Mita dan Meisya yang duduk di ruang tunggu.
"Ma," panggil Dinda pada Mita.
Mita menghampiri mereka semua dengan senyum mengembang. "Acha akan segera sembuh," ucap Mita senang. Begitu juga dengan Meisya. Sedangkan Bumi hanya diam dengan wajah datarnya. Pikirannya masih memikirkan anak menantunya yang kini entah kemana.
Bumi berjalan mendekati Gilang dan Atlantik. Dia masih begitu marah dengan sikap Arya kepada Nana. "Bagaimana menantu Papa, Atlantik?" tanya Bumi.
Atlantik memberikan Freya yang masih sesegukan kepada Dinda. Dia kembali memandang Bumi dan menggeleng. "Kita kehilangan jejak, Pa," ucap Atlantik.
"Sudah cek CCTV rumah sakit?" tanya Bumi.
__ADS_1
Gilang, Atlantik dan Bumi langsung mengangkat kepala begitu mendengar perkataan Bumi. Mereka serentak menggeleng menatap Bumi. "Memang tidak berguna!" ucap Bumi dan segera pergi entah kemana.
"Pa," panggil Mita yang menghentikan pergerakan Bumi.
Bumi berbalik dan menatap istrinya. "Kenapa, Ma?" tanya Bumi.
"Pa, Acha sebentar lagi akan di operasi. Kita harus menunggu disini, Pa. Sepuluh menit lagi dia akan dibawa ke ruang operasi. Kita harus disini untuk Acha, Pa," ucap Mita memegang tangan Bumi.
"Menantu Papa sedang membutuhkan Papa, Ma. Acha ada kalian disini, sedangkan dia entah dimana sendiri. Apalagi suaminya tidak mempercayainya sama sekali, termasuk ibu kandungnya sendiri," ucap Bumi memandang Arya dan Meisya sinis.
"Pa," ucap Arya menggeleng.
"Papa harus pergi mencari menantu Papa, Ma," ucap Bumi dan langsung melenggang pergi meninggalkan mereka semua.
Arya, Gilang dan Atlantik mengejar dan mengikuti langkah kaki Bumi. Sedangkan para wanita menemani Acha untuk operasinya. Meisya hanya bisa memandang sendu kepergian Bumi, Arya dan yang lainnya. Dalam hatinya dia sangat berharap bahwa anaknya baik-baik saja. Dia menyesal mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan untuk anaknya.
Semoga kamu baik-baik saja, Nak. Batin Meisya. Dia ingin sekali ikut mencari Nana, tapi disini Acha masih membutuhkannya.
.....
Bumi menemui pihak rumah sakit untuk meminta rekaman CCTV ruangan Nana dan sekitarnya. Awalnya mereka tidak mau, tapi atas bujukan dan ancaman yang diberikan oleh Arya, akhirnya mereka mengizinkan..
Disinilah mereka sekarang. Di depan monitor besar ruangan khusus rekaman CCTV rumah sakit.
"Saya mau rekaman CCTV ruangan Utara nomor dua puluh satu. Rekaman dari subuh sampai saat ini!" ucap Arya tegas.
"Menyesal kamu?" tanya Bumi sinis pada anaknya.
"Pa, ini bukan saatnya," ucap Arya.
Bumi hanya mendengus kasar. Sungguh, dia ingin sekali memukul-mukul mulut anaknya itu yang sudah berkata sangat kasar kemarin kepada Nana.
"Ini Pak," ucap salah satu Petugas setelah menemukan apa yang mereka cari.
Arya, Gilang, Atlantik dan Bumi langsung menatap layar yang menampilkan Nana terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bumi begitu melihat Nana meraba-raba perutnya. Sedangkan Arya hanya bisa menahan air matanya agar tak mengalir saat itu juga.
"Arya kehilangan anak Arya, Pa," ucap Arya lirih dengan terus memandang sendu ke arah layar.
Bumi langsung terdiam mendengar perkataan Arya. "Menantuku hamil?" tanya Bumi.
Mereka semua yang ada di sana mengangguk, kecuali petugas rumah sakit.
"Kalian benar-benar bodoh!" ucap Bumi marah pada semuanya.
Arya, Gilang dan Atlantik hanya bisa diam. Mata mereka terus mengikuti segala kegiatan Nana hingga akhirnya mereka melihat Nana keluar dari ruangan dengan dam-diam.
"Putar CCTV sekitar ruangan istri saya!" ucap Arya tegas.
Petugas dengan patuh mengikuti apa yang dikatakan Arya. Mereka memutar rekaman CCTV lorong ruangan Nana.
Mereka semua mengikuti dengan begitu serius. Hingga mereka melihat bahwa Nana mengintip Arya yang sedang bicara dengan Dokter Miranda.
Kamu menghindar, Sayang. Batin Arya sendu melihat Nana yang bersembunyi di balik pilar.
__ADS_1
Mata Arya membulat melihat Nana yang berjalan menemui Dokter Miranda setelah dia pergi. Ingatan Arya kembali berputar atas segala perkataan Dokter Miranda padanya yang mengatakan Acha membutuhkan donor jantung saat itu juga.
Lalu dia teringat akan perkataanya yang meminta Nana untuk mendonorkan jantungnya kepada Acha. Acha yakin, Nana pasti mendengar semua pembicaraannya saat itu juga dengan Dokter Miranda.
Arya menggeleng kuat, dia berlari keluar ruangan CCTV tersebut dengan perasaan campur aduk. Menyesal, kecewa, marah, semua ada di hatinya saat ini.
"Enggak, enggak, jangan kamu, Sayang. Jangan," gumam Arya disepanjang dia berlari di lorong rumah sakit.
Bumi, Gilang dan Atlantik yang melihat Arya seperti itu langsung mengikutinya.
"Arya!" teriak Bumi agar Arya berhenti. Tapi Arya menulikan pendengarannya.
Arya sampai di depan ruangan Acha.
Kosong. Dia tidak menemukan Mita, Meisya, Bi Mirna dan Dinda yang tadi berada di sana.
Arya langsung berlari menuju ruang operasi. Berharap bahwa semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Aku mohon jangan dulu. Aku mohon," ucap Arya menangis.
"Arya, kamu kenapa?" tanya Mita pada Arya yang datang dengan berlari dan nafas yang tidak beraturan.
"Acha dimana, Ma?" tanya Arya.
"Acha sudah di dalam, Nak," jawab Mita.
Arya langsung berlari dan menendang-nendang pintu operasi. "BUKA!" teriak Arya.
"BUKA PINTUNYA!" teriak Arya lagi.
"Arya, kamu kenapa, Nak? Mereka tidak akan dengar dari luar ini," ucap Mita mencoba menahan badan Arya.
"Sudah berapa lama operasinya dimulai?" tanya Arya tanpa menjawab perkataan Mita.
"Sepuluh menit yang lalu, Arya," jawab Meisya.
Arya menegang mendengar jawaban Meisya. "Ma, operasinya tidak boleh terjadi, Ma," ucap Arya dengan air matanya.
"Arya!" panggil Bumi.
Arya menoleh dan mendekati Bumi. "Pa, hentikan operasinya, Arya mohon. Hentikan Pa," ucap Arya lirih dengan badan luruh kelantai di depan pintu operasi.
"Kenapa Arya? Sebenarnya ada apa ini? Acha harus sembuh. Kalau operasinya dihentikan itu bisa membahayakan Acha," ucap Meisya ikut bicara.
"Operasi ini tidak boleh terjadi, Ma!" ucap Arya.
Dia terus mencoba mendorong-dorong pintu operasi.
"Arya apa yang kamu lakukan?" ucap Mita marah melihat sikap Arya.
"ISTRI ARYA YANG MENDONORKAN JANTUNGNYA, MA! ISTRI ARYA ADA DI DALAM. ISTRI ARYA!"
......................
Selamat berbuka teman-teman semua. Semoga puasanya lebih lancar, selancar rezeki kita yaa, Aamiin.
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹