
🌹HAPPY READING🌹
"DENGAR DULU, SAYANG!" bentak Arya keras karena Nana yang kekeuh dengan pendiriannya untuk pergi membawa Akmal ke kamar.
Nana terdiam dan menunduk mendengar bentakan Arya. Isak kecil keluar begitu saja dari mulutnya. Setelah menikah, ini pertama kali Arya berkata keras dan membantak Nana. Apalagi karena seorang wanita yang membuat hidup Nana dan Akmal hancur.
Mereka semua yang ada di sana terkejut mendengar suara keras Arya.
"Arya, pelankan suara kamu!" ucap Bumi pelan namun tegas.
Arya memejamkan matanya sebentar untuk meredam emosinya. "Bi, pegangin kursi roda Ayah," ucap Arya lembut kepada Bi Mirna.
Bi Mirna mengangguk dan mengambil alih pegangan pada kursi roda Akmal.
Arya berjalan mendekati Nana dan memeluk tubuh istrinya itu. Nana hanya diam tak merespon. Dia masih terkejut mendengar bentakan Arya. Nana sudah terbiasa dengan perkataan kasar Arya, tapi mendengar Arya membentaknya, membuat Nana hancur. Apalagi Arya adalah suaminya sekarang dan selamanya.
"Sayang," panggil Arya lembut.
Nana hanya diam dipelukan Arya dan terus menunduk. Arya menghela nafas pelan. Dia menyesal tidak bisa mengontrol emosinya tadi.
Arya melepas pelukannya. Mengangkat dagu Nana agar bisa melihatnya. Namun Nana memejamkan matanya tidak berani melihat Arya.
Cup.
Cup.
Arya mengecup kedua mata Nana. "Buka matanya, Sayang," ucap Arya lembut.
Dengan perlahan Nana membuka matanya. Tanpa bisa dia cegah buliran kristal itu mengalir di pipinya.
"Kita duduk dulu, ya. Ada sesuatu yang harus kamu tahu," ucap Arya lembut.
Nana mengangguk patuh menuruti perkataan Arya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
.....
__ADS_1
Kini mereka semua sudah duduk di sofa ruang tamu. Nana yang duduk di sebelah Arya dengan tangan Arya yang selalu melingkar di pinggangnya. Sedangkan yang lainnya duduk di sofa yang lain. Akmal yang masih di kursi roda dengan Bi Mirna yang berdiri di belakangnya.
"Arya, sebenarnya ini ada apa?" tanya Mita yang sejak tadi sudah sangat penasaran.
"Sabar dulu, Ma," ucap Bumi memegang punggung tangan Mita.
Arya hanya diam. Dia memandang Meisya yang terus memandang Nana. Sedangkan Nana hanya menunduk dengan jari yang saling bertautan.
Meisya berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari meja kaca tersebut. Meisya bersimpuh begitu sampai di depan Nana.
Dengan lembut Meisya mengambil tangan Nana dan mengecup punggung tangan anaknya itu. Nana hanya menurut. Dia takut Arya kembali memarahinya.
"Khadijah kecilnya Mama" ucap Meisya dengan suara bergetar memanggil Nana dengan panggilan kesayangannya waktu kecil.
Nana dengan perlahan mengangkat kepalanya. Dia heran. Sikap Meisya kepadanya menggambarkan seolah-olah ini alah pertama kali mereka bertemu. Padahal sebelumnya mereka sudah sering bertemu bukan? Bahkan Meisya sering menghina Nana.
Nana menoleh kesamping dan menatap Arya. Arya mengangguk mengerti tatapan istrinya. "Dia Mama kamu, Sayang. Ibu kandung kamu yang sebenarnya," ucap Arya.
Setelah itu Nana kembali menatap Meisya. "Bukankah kita sudah sering bertemu? Kenapa sikap anda seolah-olah baru pertama kali bertemu saya?" tanya Nana.
Hati Meisya sakit mendengar Nana memanggilnya dengan panggilan asing.
"Sayang," panggil Arya lembut.
"Dia Ibu kamu yang sebenarnya. Wanita yang selama ini hidup bersama kita bukan Tante Meisya, Sayang. Tapi dia Kakaknya," ucap Arya.
"Maksudnya apa, Arya?" tanya Mita tak mengerti. Sedangkan dahi Nana berkerut bingung dengan semuanya.
"Sebenarnya begini, Ma ..." ucap Arya menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang ditambah atau yang dikurangi.
Mita dan Bi Mirna menutup mulut tak percaya mendengar semuanya. Sedangkan Gilang, Bumi dan Acha yang diam karena memang mereka sudah tahu yang sebenarnya. Nana? Dia menatap Meisya yang masih bersimpuh didepannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Nana memegang bahu Meisya dan mengajaknya untuk berdiri. Mereka semua ikut berdiri begitu melihat Nana dan Meisya berdiri.
Nana memegang tangan Meisya dan membawanya kehadapan Akmal.
__ADS_1
"Karena kesalahpahaman yang kamu tinggalkan, Ayahku harus seperti ini," ucap Nana dengan suara bergetar. Dia tidak tahu harus bagaimana berekspresi. Entah senang karena bertemu ibu kandungnya yang asli, atau sedih karena akibat semua ini yang membuat Akmal harus mengalami gangguan jiwa.
"Maaf," ucap Meisya benar-benar menyesal. Dia pergi demi kebaikan anak dan suaminya dulu. Dia berpikir setelah kepergiannya, mungkin Akmal dan Nana bisa kembali hidup bahagia, tapi dia malah menambah luka yang begitu menyakitkan.
Meisya bersimpuh didepan kursi roda Akmal. Memandangi wajah lelaki yang selalu menjadi pemilik hatinya. Memandangi wajah lelaki yang cintanya selalu dia jaga.
Dengan tangan bergetar Meisya menggenggam tangan Akmal. Tapi Akmal hanya diam tanpa merespon. Bahkan pandangannya tetap saja kosong ke depan.
Hati Meisya sakit melihat Akmal yang tidak menatapnya.
"Ayah saya mengalami gangguan jiwa setelah ditinggal wanita yang dia cintai," ucap Nana yang mampu menusuk lubuk hati Meisya. Bagai tali tak kasat mata yang mengikat jantungnya, dada Meisya terasa sesak melihat semua luka yang terjadi akibat keputusan sepihaknya dulu.
"Andai dulu anda tidak egois dan mengambil keputusan sendiri, mungkin Ayah saya masih sehat sampai sekarang," ucap Nana dengan tangisnya.
Arya yang melihat Nana menangis mendekat dan mengusap lembut punggung istrinya itu.
Nana mengusap kasar air matanya. Dia tahu Meisya tidak sepenuhnya bersalah, tapi kekesalan itu tetap ada dihatinya.
"Apa anda tahu? Setiap hari Ayah saya selalu ingin mengakhiri hidupnya. Setiap hari dia selalu ingin pergi dari dunia ini. Ayah saya tersiksa karena cintanya yang sangat tulus kepada anda!" ucap Nana melampiaskan keganjalan hatinya.
"Dan itu terjadi selama dua puluh tahun hingga sekarang," lanjut Nana memandangi Akmal sendu.
Sedangkan Meisya hanya bisa menangis menyesali semuanya. Mita yang melihat Meisya seperti itu mendekat dan mensejajarkan tubuhnya. Membawa Meisya kedalam pelukannya. Sedangkan Acha sudah menangis tersedu di pelukan Gilang. Gilang mengerti perasaan Acha. Sebagai sahabat, dia ingin memberi ketenangan untuk Acha. Wanita yang selama ini membesarkannya, wanita yang selalu kuat dihadapannya itu ternyata memiliki beban yang sangat berat. Kisah masa lalu yang belum usai ini membuat banyak orang terluka.
"Ayah saya bahkan hidup dirantai seperti anjing tahanan, hiks. Badannya pun sampai lebam karena rantai besi. Dan anda tidak tahu itukan? Ayah saya hidup bagaikan anjing tahanan karena keputusan anda," ucap Nana semakin menangis. Arya mengeratkan pelukannya kepada Nana. Mencoba meredam tangisnya yang kini memenuhi ruang tamu rumahnya.
Seolah tidak puas, Nana melepaskan pelukan Arya dan mendekati Meisya. Mita yang melihat Nana mendekat akhirnya melepaskan Meisya dari dekapannya. Nana memegang bahu Meisya, hingga kini mereka saling berhadapan didepan Akmal yang duduk di kursi rodanya.
"Apa anda tahu yang paling menyakitkan? Impian terbesar seorang anak perempuan adalah dinikahkan langsung oleh Ayah kandungnya, hiks. Tapi saya? Saya hanya dinikahkan oleh wali hakim karena Ayah saya yang tidak sehat secara mental. Dan itu semua adalah akibat dari keputusan anda, hiks," ucap Nana memandang lekat Meisya dengan air bening yang keluar dari mata mereka berdua.
"Hiks, maafkan Mama, Nak," ucap Meisya menyesal.
......................
Segitu dulu yaaa, nanti kita sambung lagi sedihnyaaaaa🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, vote dan komentarnya yaaa. Oiya, kasih bintang lima juga yaaa.
Terimakasih banyak sudah mengikuti tulisan receh author. Author sayang kalian 😍🌹🌹