
Yuci terpaku, setelah kepergian Rui. Yuci tahu, bahwa Rui tidak mencintainya. Tapi dia sangat membutuhkan pernikahan untuk mengelabuhi Yuda, agar tidak menjodohkan dirinya.
"Hmmm... aku harus cari cara, supaya dia mau menikah denganku. Aku hanya mau dia, tidak ingin orang lain." monolog Yuci.
Yeye melihat Rui yang sudah kembali, dia merasa sangat senang. Menatap Rui dengan mata berbinar-binar. Berharap bahwa Rui bisa membujuk Yuci.
"Bagaimana Kak, apa berhasil?" tanya Yeye.
"Tidak Ye, dia bahkan menolak." jawab Rui.
"Apa dia tidak mengajukan persyaratan apapun, supaya kita memenuhinya." Yeye masih berharap.
"Sebenarnya ada satu hal Ye, tapi itu sangat sulit dilakukan." jawab Rui.
"Apa itu Kak?" tanya Yeye penasaran.
Rui berbisik. "Dia meminta Kakak, untuk menandatangani perjanjian kontrak."
"Apanya yang sulit, tinggal Kakak tandatangani." ucap Yeye.
"Bukan kontrak kerjasama biasa, ini kontrak pernikahan." jawab Rui dengan lirih.
"Apa?" Yeye menutup mulutnya sendiri.
"Shht... diam-diam saja, jangan sampai kedengaran Ibu." Rui menjawab, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Tenang saja, Bibi tua sedang pergi ke pasar." ucap Yeye.
"Oh gitu, syukurlah." jawab Rui.
__ADS_1
Keesokan harinya, Nimah sedang di dapur. Rui juga membantunya mencuci sayur, dan menggiling cabai untuk masak. Rui memang rajin membantu, sebelum pergi ke sekolah SMA 45.
Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu, dan Yeye segera membukanya. Ternyata Aldo, yang datang ke rumahnya.
"Boleh aku masuk ke rumah." ujar Aldo.
"Jangan, sebaiknya di luar saja." jawab Yeye.
"Ini perintah dari nona Yuci, hari ini juga tidak ada penolakan. Kamu tidak bisa menghindar, harus segera melunasi hutang." ucap Aldo.
"Tolong, bicaranya nanti saja." jawab Yeye.
Yeye menoleh ke belakang, ternyata Nimah sudah berdiri. "Yeye, tamu datang kenapa bicara di depan pintu? Harusnya, kamu suruh untuk masuk ke dalam."
"Ini hanya tukang kredit salah alamat." alibi Yeye.
"Silahkan masuk, kebetulan sudah selesai memasak." jawab Nimah.
Yeye benar-benar cemas, dia segera berlari ke dapur. Dia melihat Rui, yang sedang menyajikan lauk pauk. Meletakkannya di meja makan, untuk sarapan bersama.
"Kak, tolong cegah Ibu." ujar Yeye.
"Apa yang terjadi, katakan dengan jelas." jawab Rui.
"Sekretaris nona Yuci datang ke rumah." ucap Yeye.
"Hmmm.... kurang ajar nona aneh itu." Rui segera berlari, karena tersulut emosi.
__ADS_1
Aldo memulai pembicaraan. "Bu, Yeye telah merusak baju pesanan perusahaan ChidaaMall. Dia dengan seenaknya, lari dari masalah. Tidak menyelesaikan dengan tanggungjawab, malah kabur tanpa kepastian."
Nimah memegangi dadanya, sambil meneteskan air mata. Rui segera menghampiri Nimah, dengan rasa khawatir tak terkira. Tiba-tiba saja, Nimah tergeletak pingsan.
"Ibu bangun, aku mohon. Jangan tinggalkan kami Bu." Rui menggoyangkan tubuhnya.
"Bibi tua bangun, maafkan Yeye." Menepuk-nepuk pipinya.
Nimah dibawa ke rumah sakit, sementara Aldo kembali ke perusahaan. Dia masuk ke ruangan Yuci, setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Bagaimana, apa kamu berhasil membujuknya?" tanya Yuci, dengan santai.
"Nona maaf, aku tadi berbuat kesalahan. Ibunya Pak Rui dilarikan ke rumah sakit, karena aku memberitahu hutang si Yeye." jelas Aldo.
"Apa? Aku benar-benar berbuat kesalahan." ujar Yuci.
"Tidak nona, harusnya aku mengatakan langsung pada Pak Rui." jawab Aldo.
"Tidak, ini salahku karena menyuruhmu datang ke rumahnya." ujar Yuci.
"Tidak nona, kau sudah menerapkan ketegasan." jawab Aldo.
Yuci segera beranjak dari duduknya, meminta untuk diantar ke rumah sakit. Ternyata Rui sudah berdiri, di depan pintu masuk perusahaan.
"Pak Rui, kamu sejak kapan di sini?" tanya Yuci, dengan rasa bersalah.
"Ternyata nona benar-benar egois, selain memaksa kontrak pernikahan. Nona orang yang rela melakukan apapun, tidak peduli akibat yang ditimbulkan untuk orang lain." ungkap Rui emosi.
"Pak Rui, ini karena Yeye tidak memberikan kepastian." ucap Yuci.
__ADS_1
"Bukan karena Yeye tidak memberi kepastian, namun karena engkau terobsesi untuk pernikahan kontrak." Rui segera berlalu, dari hadapan Yuci.