
Rui menggendong bayi yang baru lahir, bersama teman-teman prianya. Yuci menyesuaikan diri saja, pergi ke dapur sebentar. Tanpa diduga dirinya disuruh menghidupkan api, dengan kayu yang dibakar dalam tungku.
"Uhuk... uhuk... bagaimana mungkin, aku bisa menghidupkannya. Ini sulit dikelola, bahkan memancarkan percikan panas saja tidak." Yuci terbatuk-batuk, sambil menggerutu.
"Eh neng, harusnya kau sudah terbiasa hidup susah. Di desa ini, tidak ada orang kaya." jawab perempuan paruh baya.
Tiba-tiba seorang perempuan datang menyahut. "Bagaimana mungkin dia terbiasa, kuku saja bagaikan keramik tak disentuh."
"Eh iya, benar juga yang kau ucapkan." jawab perempuan paruh baya, yang paling hobi nyinyir.
"Terbiasa ataupun tidak, itu bukan urusan kalian. Aku hidup, juga tidak menyusahkan siapapun." Yuci tidak terima.
"Siapa yang betah menjadikanmu istri. Sudah tidak bisa masak, cerewet lagi." jawab Malyna.
"Sayangnya, aku sudah punya suami." Yuci tersenyum penuh kebanggaan, sambil menggoyangkan kepalanya.
"Palingan juga, suamimu menikah karena dipaksa. Orang kaya 'kan sukanya begitu, tidak enggan memaksa dinikahi." Malyna tersenyum mengejek.
”Baru kali ini, ada perempuan berani nyolot sama aku. Mungut di mana si, makhluk cacat moral ini. Bisa-bisanya dia menebak tepat sasaran.” batin Yuci, bergumam-gumam.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Yuci diam saja. Hal itu, membuat Rui merasakan kejanggalan paling angker.
"Yuci, kenapa kau diam saja?" tanya Rui.
"Tidak apa-apa." jawab Yuci, dengan singkat.
"Tidak baik menyimpan masalah sendiri." ujar Rui mengingatkan.
"Aku cuma mau bilang satu hal, kenapa orang di desa ini sungguh menyebalkan." jawab Yuci.
"Benarkah? Dari dulu aku tinggal di sini, sungguh sangat nyaman." Rui tersenyum.
Rui sampai kewalahan mengejar Yuci, yang menggunakan kemarahannya untuk menghindar. Semakin mempercepat langkahnya, Rui semakin merasa lelah. Yuci berjalan bagaikan kuda tersedak besi, seraya mengamuk tanpa memberi ampun.
Yuci terus memacu langkahnya, dengan mengerahkan seluruh tenaga. Tidak peduli, bila kakinya lepas satu persatu. Tiba-tiba saja tubuhnya bergemetar, tidak bergeming sama sekali.
"Rui, ada hewan kaki empat. Aku benar-benar takut, dia terlihat besar dan buas." ujar Yuci.
Rui menunjuk hewan kaki empat berbulu itu. "Hewan tersebut akan mengejar, jika kau semakin berlari."
__ADS_1
"Aku benar-benar takut, pokoknya aku harus lari." Yuci semakin mempercepat langkahnya.
Rui menarik kedua lengan baju Yuci, yang terlihat kebesaran tersebut. "Aku bilang jangan lari, karena hal tersebut menambah daya tarik."
Yuci pun menghentikan langkahnya, lalu hewan kaki empat pun takluk. Seketika diam di tempat, padahal semula berlari. Yuci tersenyum mengembang ke arah Rui, padahal semula wajahnya ketus. Kurang lebih, seperti kertas yang diremas-remas.
"Rui, aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus menggendongku, jangan membiarkan aku jalan kaki. Suami macam apa, yang membiarkan istrinya jalan pada kegelapan." Yuci berubah-ubah ekspresi, dan semuanya dapat dikatakan jelek.
"Iya sayang, mari naik ke punggungku." Rui tersenyum tulus, di antara rasa kesal.
”Perempuan ini selalu benar, tidak pernah mau disalahkan. Jelas-jelas tadi dia ngambek, lalu meninggalkan aku bagaikan kuda kesurupan.” batin Rui.
Yuci sudah naik ke atas punggung Rui, dan langkah kaki pria itu semakin kuat. Seluruh otot pada tubuhnya ikut menahan Yuci, yang mulai terlelap dalam gendongan.
Saat Rui sudah sampai penginapan, dia melepaskan sandal Yuci. Dilihatnya wajah sang istri yang manis, meski di pipinya dipenuhi oleh air liur. Tidak dapat dibayangkan seberapa tebal, cairan busuk tersebut. Bahkan dengan santainya, kini tangan Yuci mengelapnya.
"Untung saja istri, kalau guling sudah aku lempar." Rui geleng-geleng kepala.
Rui menyelimuti tubuh Yuci, yang sudah berada di atas ranjang tidur. Namun Yuci malah melemparkannya ke lantai, sampai Rui menyelimutinya lagi. Berulang kali hal itu terjadi, sampai Rui dibuat meradang sendiri.
__ADS_1
"Yuci, apa kau belum puas mengerjai ku sejak tadi? Punya hutang apa di kehidupan lampau, hingga kau balas dendam." Rui hanya mengangkat tangan di atas udara. Kesal, namun lidah tercekat untuk berteriak.