
Rui dan Yuci saling berpandang-pandangan. Yuci menarik piring agar bergeser, tepat di depan wajahnya.
"Rui, sudah datang makanannya." Yuci terlihat semringah.
"Iya Yuci." jawab Rui.
Rui meneruskan untuk bertanya. "Sayang, sabun Shimizu itu produk yang sering diimport ke Korea iya?"
"Tidak sayang, itu adalah hasil kerjasama perusahaan Eropa dan Korea." jawab Yuci.
"Oh gitu iya sayang." ucap Rui.
"Iya tayangku." jawab Yuci.
Rui dan Yuci telah kembali ke apartemen. Mereka sudah puas berjalan-jalan keliling, salah satu dari kota Eropa tersebut.
"Rui, kita harus segera kembali. Aku sudah lama meninggalkan ChidaaMall. Aldo memberiku kabar, kalau ada salah satu rencana pemasaran yang gagal." ungkap Yuci.
"Iya sayang, malam ini kita berkemas. Besok pagi, pesawat sudah bisa lepas landas." jawab Rui.
Keesokan harinya, Yuci dan Rui bangun. Mereka segera masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah usai bersiap-siap, tangan masing-masing meraih koper. Mereka menariknya hingga keluar apartemen, dan menyinggahi taksi hingga ke lapangan.
"Pesawat VIP sudah menunggu kita, ayo segera naik." Yuci menarik tangan Rui.
__ADS_1
"Iya sayang." jawab Rui.
Mereka masuk ke dalam pesawat, lalu lepas landas ke udara. Yuci dan Rui masuk ke dalam kamar, untuk merebahkan punggung yang butuh diluruskan.
"Sayang, siapa orang yang kamu percaya dalam menangani perusahaan?" tanya Rui.
"Orang yang paling aku percaya adalah Aldo." jawab Yuci.
Hanry dan Yeye berjalan santai pada lorong jalan. Mereka baru saja, membeli cilok goreng saus sambal.
"Yeye, nilai ujian akhir ku ternyata keluar dengan memuaskan." ungkap Hanry.
"Wah, bagus dong. Itu artinya, kamu akan wisuda tahun ini." jawab Yeye.
"Benar, aku bisa lebih fokus kerja di ChidaaMall." ujar Hanry.
Waktu cepat berlalu, seperti pesawat yang melalui banyak udara. Namun tidak berubah juga pemandangan, hingga mendarat di lapangan Indonesia. Barulah terlihat warna hijau, yang terekam bola mata Yuci. Angin sejuk dapat Yuci dan Rui rasakan, tatkala membuka pintu keluar pesawat.
"Sayang, akhirnya kita sudah sampai." ungkap Yuci.
"Iya sayang, rasanya sangat puas." jawab Rui.
"Iya dong, pesawat ini 'kan cuma dua orang penumpang." Yuci tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Kasian iya, kamu tidak menganggap pilotnya." Rui tersenyum.
"Pesawatnya gak mau ngitung tukang supir, dia cuma mengukir kisah indah kita." Yuci menahan tawa, lalu mencium Rui dengan salah tingkah.
"Ratu serigala genit, pilotnya nangis kalau dengar." Rui merangkul pundak Yuci.
Tidak ada taksi yang disinggahi, karena Aldo sudah siap sedia. Dia terlihat menunggu, dengan mengenakan kacamata hitam. Tidak butuh waktu lama, Yuci dan Rui telah sampai ke tempat tinggalnya. Yuci dengan cepat merebahkan tubuh pada sofa, lalu membuka ponsel. Jari-jarinya menari di atas layar, dengan gerakan lihai.
"Sayang, apartemen ini adalah tempat kita memulai semuanya dari awal." ujar Yuci.
"Iya sayang, aku tidak melupakannya." jawab Rui.
"Oh iya, besok pagi apa kamu langsung pergi ke sekolah?" tanya Yuci memastikan.
"Sepertinya tidak, karena aku telah mendapatkan cuti." jawab Rui.
"Aku besok harus sudah kembali kerja, ke perusahaan yang sudah lama aku tinggal. Aldo tidak dapat menyelesaikan, rencana pemasaran yang berantakan." ujar Yuci.
"Apa hal tersebut berkaitan, dengan perusahaan saingan yang kamu maksud." jawab Rui.
"Tentu saja, pemiliknya adalah Ibu Aya. Dia sengaja memberikan diskon besar-besaran, pada merek terbarunya yang elegan. Hmm... jadinya ChidaaMall dianggap menjual barang mahal semua." ujar. Yuci.
"Jangan bersedih, ketika dibandingkan oleh konsumen. Aku yakin, di dunia ini pembagian rezeki masing-masing. Kemanapun seseorang mencari tidak akan pernah datang, bila memang bukan untuknya. Namun ketika kita gigih dan berserah diri, yakinlah usaha kita akan berhasil." jelas Rui, yang berusaha menyemangati istrinya.
__ADS_1
"Dulu si aku tidak seperti ini, namun karena Bu Aya ini pimpinannya. Aku sedikit sensitif, dan melihat ada permainan balas dendam." ungkap Yuci.
"Ibu Aya tidak seperti itu." jawab Rui, yang sontak membuat Yuci dongkol.