
Yuci melihat Rui bangun pagi-pagi sekali. Berbeda dengan dirinya, yang bangun kesiangan karena kecapekan. Yuci masih menguap, menggaruk-garuk kepalanya.
"Suami rajin, pasti sudah punya idaman." ungkap Yuci.
"Soal kriteria idaman, tetap tidak berubah. Dia harus perempuan, yang pandai olahraga." jawab Rui.
"Masuk akal." Yuci menutup mulutnya dengan telapak tangan, tersenyum malu-malu.
"Kenapa kamu memberikan ekspresi seperti itu." jawab Rui.
"Karena, aku sekarang sudah pandai bermain bola kaki." Yuci keceplosan.
"Maksudmu apa iya Yuci, apa hubungannya dengan latihan selama ini." jawab Rui penasaran.
"Lupakan saja, aku hanya bercanda." ujarnya.
"Aku kira, kamu memang ada apa-apa." jawab Rui.
"Oh tidak, kamu jangan sampai berpikiran aku latihan demi menjadi wanita dambaan." ujar Yuci spontan.
Rui tersenyum. "Kamu yang bilang, bukan aku yang mengatakannya."
Yuci mengerucutkan bibirnya, lalu membalikkan badannya dengan perlahan. Kini dia membelakangi Rui, bagaikan pinguin di salju yang lucu. Tidak bergerak, selain kedua tangannya.
"Kenapa kamu berdiri di sana, cepat mandi sana. Bukankah, kamu harus pergi bekerja." ujar Rui.
__ADS_1
"Iya suamiku, eh maksudku pak guru." Yuci segera berlari.
Rui tersenyum melihat tingkah lucu Yuci, pikiran tentang masa kecil menari-nari kembali. Dimana masa-masa itu, dia sangat bahagia bersama Yuci.
"Dasar ratu serigala, masih saja tidak berubah. Tetap bicara blak-blakan, dan juga pemberani." Rui tertawa kecil, sambil mengelap meja makan.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sarapan bersama. Yuci merasa masakan Rui jauh lebih baik, daripada masakan dirinya sendiri.
"Rui, apa kamu mau mengajari aku memasak?" tanya Yuci.
"Tentu saja, nanti malam kita bisa melakukannya." jawab Rui.
Yuci masuk ke ruangan meeting, saat baru sampai ke perusahaan ChidaaMall. Dia melihat karyawan dan karyawatinya, yang sedang duduk rapi. Di ruangan tersebut, kehadirannya memang ditunggu.
"Kalian semua dengar iya, penjualan bulan ini menurun. Permasalahannya, kita perlu melakukan riset pasar kembali. Taktik perusahaan yang dulu, sudah tidak terpakai lagi. Para klien, baik pelanggan, ataupun pembeli, banyak yang beralih dari perusahaan ini." jelas Yuci, panjang dan lebar.
"Aku perintahkan untukmu Joky, supaya memeriksa setiap barang yang telah dikemas. Dan untuk kamu Hanxie, tolong cari tahu riset pasar. Lakukan, apa yang bisa kamu berikan, untuk perusahaan ini." titah Yuci.
"Baik nona Yuci." jawabnya.
”Haduh, mana nilai ujian akhir kuliah belum keluar. Ini semua gara-gara Yeye, tidak mau memberikan maaf. Eh tunggu, aku 'kan belum minta maaf.” batin Hanxie.
"Baiklah, meeting selesai." ucap Yuci.
Semua orang membubarkan diri, dari posisi masing-masing. Beda halnya dengan Hanxie, masih betah duduk di sana.
__ADS_1
"Kamu tidak kembali bekerja? Kalau malas-malasan, akan semakin mudah dipecat." ucap Yuci tegas.
"Bukan gitu nona, tapi aku ini sedang bingung." jawab Hanxie.
"Bingung kenapa lagi, bukankah sudah cukup jelas." ujar Yuci.
"Hal yang nona sampaikan tadi jelas. Tapi, aku ada urusan penting. Apa boleh aku izin keluar kantor." jawab Hanxie.
"Tidak bisa, kau harus mengurus tugasku lebih dulu." ucap Yuci.
Hanxie tampak ingin menolak, namun akhirnya menerima saja. "Baiklah, aku akan bekerja dengan giat hari ini. Lalu setelah itu, aku akan pergi ke kampus."
Yuci tersenyum. "Laksanakan sekarang!"
"Siap sedia." Hanxie segera berlari, meninggalkan ruangan meeting.
Pada malam harinya, Yuci memasang celemek pada tubuhnya. Dia akan belajar memasak, bersama dengan Rui suaminya.
"Kamu sudah siap?" tanya Rui.
"Sudah kok." jawab Yuci.
Minyak memercik ke sana kemari, karena Yuci menggoreng ikan dilempar dari jauh. Rui berdiri di belakangnya, mengajari bagaimana menggoreng yang benar.
"Yuci, kalaupun kamu takut, jangan dilempar juga kalau menggoreng. Masukkan lah ikan, ke dalam minyak dengan perlahan." ujar Rui.
__ADS_1
"Iya Rui, aku takut terkena minyak panas. Karena rasa cemas, aku jadi seperti ini." jawab Yuci.
Yuci merasa berdebar-debar, tatkala hembusan nafas Rui semilir di lehernya. Rui menggenggam tangan Yuci sambil mengarahkan spatula, menggeser posisi ikan dalam kuali.