Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Curiga


__ADS_3

Jam tangan diletakkan di depan wajah Hanxie. Yuci ingin rasanya menggebrak meja, namun tidak memiliki bukti yang kuat.


"Katakan, apa ini jam tangan yang sering kau pakai?" Yuci menatapnya, dengan tatapan tidak bersahabat.


Hanxie tersenyum. "Iya, ini jam tangan milikku. Sudah susah payah mencari, akhirnya sekarang menemukan."


"Masih bisa bersantai?" Yuci menyilangkan tangannya di dada.


"Hidup sekali, untuk apa serius. Lagipula, aku bekerja di perusahaan saudara sendiri." jawab Hanxie.


"Jangan terus berpura-pura, lebih baik akui perbuatanmu." Yuci berpikir negatif semakin liar, membayangkan Hanxie yang membakar gedung supplier.


"Nona Yuci, apakah harus seserius ini? Aku tahu, bebanmu akhir-akhir ini berat. Tapi, bukan berarti harus memarahi orang sembarangan." jawab Hanxie.


"Aku pasti akan menemukan, kedok aslimu itu." Yuci segera meninggalkan ruangan Hanxie.


"Nona, lebih baik kita jalan-jalan, daripada kau frustasi." Hanxie berteriak, lalu setelahnya geleng-geleng kepala.


Pukul 20.00. Yuci dan Rui makan bersama. Wajah Yuci terlihat tidak bersemangat, untuk menyantap makanan penuh di meja.


"Apa kamu seperti ini, jika bersyukur kepada Tuhan?" tanya Rui.


"Maksudmu apa sayang, aku tidak mengerti." jawab Yuci.


"Caramu menghayati mereka, membuktikan kamu tidak menghargai." Rui menunjuk semua makanan di meja.


"Kamu benar, harusnya aku menikmati yang tersedia." Yuci mengambil udang goreng, lele panggang.


Rui tersenyum, karena berhasil merayu istrinya. Secara tidak langsung, dirinya membuang beban pikiran Yuci. Kini istrinya mengunyah makanan, yang telah dimasukkan ke mulutnya.

__ADS_1


"Yuci, kamu minum dulu iya." ujar Rui.


"Iya Rui." jawab Yuci.


Begitu perhatian si Rui, sampai menuangkan air minum juga. Padahal sang istri punya tangan, namun selalu dimanjakan oleh suaminya. Tidak butuh waktu lama, terdengar ketukan pintu.


Yuci membuka pintu. "Eh Hanry, ayo masuk ke dalam."


"Iya Kak." jawab Hanry.


Mereka melangkahkan kaki bersama, rasa rindu telah menyelimuti pikiran keduanya. Tentang Hanry, yang sudah lama tidak bertemu.


"Sayang, di sekolah tadi apa kegiatanmu?" tanya Yuci.


"Hanya upacara 17 Agustus, ikut merayakan kemerdekaan Indonesia." jawab Rui.


"Wah, sayang sekali aku sudah lulus." sahut Hanry.


"Tidak apa-apa, sekarang aku kuliah. Tempatnya lebih bagus lagi, dan temannya banyak." ujar Hanry.


"Pasti Celiv ikut denganmu." Yuci menduga-duga saja.


"Iya, kami satu kampus lagi." ucap Hanry, dengan semringah.


"Aku sudah menduganya sejak awal, tanda berjodoh sangat mencolok." Yuci menahan tawa, dalam candaannya.


"Kak Yuci, aku dengar Kakak akan pergi." ujar Hanry.


"Iya, Kakak akan pergi bersama Kak Rui. Di kampung halamannya, banyak para pemintal benang." jawab Yuci.

__ADS_1


"Aku yakin Kakak bisa mengatasinya, semangat iya!" Hanry mengangkat tangannya yang terkepal, ke atas udara.


"Terima kasih adikku, Kakak pasti semangat." jawab Yuci.


Keesokan harinya, Rui dan Yuci keluar dari apartemen. Mereka pergi ke rumah Nimah, sedangkan Hanry pulang ke rumahnya sendiri.


"Aku ingin berpamitan dengan Ibu, supaya dia tidak datang ke sini." ujar Rui.


"Iya sayang, aku juga ingin sedikit bercerita pada Yeye." jawab Yuci.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai. Yeye membukakan pintu, dengan raut wajah semringah. Kakak ipar tersayangnya datang, dan merangkul pundak Rui.


"Cie, semakin mesra saja." ledek Yeye.


"Iya dong, biar langgeng." jawab Yuci.


Yeye mempersilakan Yuci dan Rui masuk, lalu memanggil Nimah dan Yaya. Yuci mengajak Yeye, untuk berbicara empat mata saja.


"Yeye, kamu merupakan Adik sepupu Rui. Aku tidak ingin, kamu dimanfaatkan oleh Hanxie." ujar Yuci.


"Dimanfaatkan bagaimana, dia sangat baik kok." jawab Yeye.


"Kalau dia baik, tidak mungkin membakar pabrik supplier ChidaaMall." ungkap Yuci.


"Kakak jangan sembarangan bicara, aku mengenal Hanxie dengan sangat dekat." jawab Yeye.


"Sedekat apapun kamu dengannya, tentu aku jauh lebih memahami." ucap Yuci.


"Aku yakin, hanya ada kesalahpahaman di sini. Aku mengenalnya dengan mata dan hatiku, tidak ada yang mengganjal darinya." jawab Yeye.

__ADS_1


"Semakin terlihat masuk akal, aku malah semakin curiga. Semakin seseorang terlihat santai, dia pasti menyembunyikan sesuatu yang besar." ujar Yuci.


"Maaf Kak, aku lebih percaya pada Hanxie." jawab Yeye.


__ADS_2