Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Keesokan harinya, Yuci terbangun dari tidurnya. Dia tertawa melihat Rui berada di bawah.


"Hahah... kasian sekali suamiku. Apa semalam aku tidur lasak, sehingga menendangnya." Yuci tertawa, di sela berbicara.


Rui mengucek kedua kelopak matanya. "Yuci, tertawamu sangat mengganggu."


Yuci melemparkan bantal padanya. "Maksudmu, suara istrimu seram gitu?"


"Bukan seperti itu sayang, aku lagi nyenyak. Bayangkan saja, ada yang tertawa kuat. Aku pikir kuntilanak, sedang ingin menjahili telingaku." jelas Rui.


Rui beranjak dari posisi rebahan nya, lalu segera ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, dia keluar. Giliran Yuci yang masuk kamar mandi, karena sudah pegal menunggu di depan pintu. Dari tadi berdiri, sambil memegangi handuk.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Yuci.


"Aku mau pergi ke acara pernikahan." jawab Rui.


"Kenapa di desa beda dengan di kota?" Yuci masih saja banyak tanya.


"Karena sudah ketentuan adat istiadat di desa." jawab Rui.


"Pokoknya aku ikut." Yuci menggandeng tangan Rui.


"Baiklah." jawab Yuci.


Yuci sudah bersiap-siap, dan pergi bersama Rui. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai. Naik sepeda ternyata enak juga, meskipun hanya minjam.


"Hai Rui!" sapa Malyna.


"Eh Malyna, kamu di sini juga." jawab Rui.

__ADS_1


"Iya, aku dari dulu memang selalu menunggumu." Malyna memutar rambutnya, yang keriting gantung.


Rui hanya tersenyum. "Oh gitu, aku permisi dulu."


Rui menggandeng tangan Yuci, sampai ke tempat duduk. Mereka dipersilakan untuk menikmati jamuan.


"Rui, bisa minta tolong gak?" tanya Kajoel.


"Iya, mau minta tolong apa." jawab Rui.


"Aku mau mengangkat kardus gelas Aqua, yang ada di dapur." ujar Kajoel.


"Baiklah, ayo aku bantu." jawab Rui.


Rui segera pergi bersama Kajoel, setelah berpamitan dengan Yuci. Malyna jalan berlenggak-lenggok, dengan gerakan mengedipkan mata gesit.


Yuci sengaja memasukkan jari telunjuknya, ke dalam hidung. Lalu menyentil upil, hingga mengenai dahi Malyna. Yuci memiliki dendam yang belum terbalaskan, karena telah dipermalukan oleh perempuan itu. Kini saatnya untuk Yuci, mempermalukan di acara undangan pernikahan.


"Hai, bagaimana dengan riasan upil gratis?" Yuci tersenyum mengejek, ke arah Malyna.


Malyna menunjuknya. "Jadi kamu, perempuan jorok yang ngupil sembarangan."


"Kalau iya memangnya kenapa? Kamu mau marah juga aku persilakan." ujar Yuci.


"Awas iya kamu, tunggu pembalasanku." jawab Malyna.


"Sekarang saja kalau mau membalas, kenapa harus tunggu nanti. Selagi ada kesempatan, sayang 'kan kalau dilewatkan." Yuci sengaja menantangnya.


"Oh gitu iya, sedang nantangi iya." Malyna membuka lengan bajunya.

__ADS_1


"Jurus macam apa itu, sungguh membuat muak." ujar Yuci.


Malyna hendak meninju wajah Yuci, namun ditangkis oleh tangannya. "Lalu jurus macam apa ini, ingin menyerang namun ditahan lawan."


"Lepaskan tanganku!" bentak Malyna.


"Lepaskan sendiri, bila kamu bisa." jawab Yuci.


"Ngapain si cari masalah sama aku, tidak punya malu!" ujarnya.


"Kamu ternyata tidak sadar diri iya. Kamu duluan, yang mencari masalah denganku." jawab Yuci.


Yuci melepaskan tangan Malyna dengan santai. Perempuan itu berkacak pinggang, menatap Yuci dengan tatapan tidak suka.


"Kamu itu cuma menang cantik, tapi ternyata jorok." Malyna tersenyum mengejek.


"Setidaknya masih ada harga, daripada perempuan jelek terus genit. Bagaimana iya, mau menjelaskannya dengan benar." jawab Yuci.


"Eh jorok, aku kenal Rui lebih dulu daripada kamu." ujar Malyna.


"Tidak penting, siapa yang lebih dulu. Aku beritahu padamu, intinya sekarang aku istrinya." jawab Yuci, dengan sombongnya.


Yuci dan Rui berjalan keluar, dari ruangan itu. Acara belum selesai si, tapi tidak punya kewajiban untuk menunggu.


"Eh Rui, kamu mau kemana?" Malyna tersenyum ke arahnya.


"Aku mau pulang, lagipula tidak ada yang ingin dilihat lagi." jelas Rui.


"Boleh dong, aku ikut ke penginapan kamu." Malyna tersenyum, sambil melirik ke arah Yuci.

__ADS_1


Yuci menyilangkan tangannya di dada. "Perempuan ada harga diri, tidak akan mungkin mengucapkan kalimat seperti itu. Apa lagi, di sini ada istri sah dari pria tersebut."


__ADS_2