Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Penggoda


__ADS_3

Keesokan harinya, Yuci sengaja mengenakan baju baru. Dia keluar dari kamarnya, lalu melihat Rui sedang teleponan.


"Rui!" panggil Yuci, dengan manja.


Rui menoleh ke arahnya, sambil menunjuk ponsel pada tangan kirinya. Yuci sudah mengerti dengan maksud Rui. Mungkin dia meminta untuk tidak mengganggunya, yang sedang menjawab telepon.


"Rui, bisa tolong aku tidak. Tolong lepaskan cap bajuku." pinta Yuci.


"Tunggu sebentar, aku ada urusan penting." jawab Rui lirih, sambil menjauhkan ponsel.


Yuci terdiam mematung, sampai Rui memutuskan sambungan teleponnya. Rui segera menghampiri Yuci, lalu menatap matanya lekat.


"Yuci, sepertinya aku harus pergi. Ada urusan di sekolah SMA 45." ujar Rui.


"Oh." jawab Yuci singkat, karena hatinya kecewa.


"Kamu mau minta tolong apa tadi?" tanya Rui.


Yuci segera mendorongnya agar menjauh. "Gak minta tolong apa-apa, kamu pergi aja sana."


Rui segera pergi setelah berpamitan, sementara Yuci meneteskan air mata. Aksi modal dusta nya tidak ditanggapi, malah diabaikan oleh Rui yang cuek.


”Mungkin memang benar, aku tidak ada sedikitpun di hatimu.” batin Yuci.


Seketika dia berpikir, tidak boleh menangis. Yuci adalah orang yang kuat, begitulah batinnya mengucapkan kalimat penyemangat. Yuci tersenyum mengembang, sambil melompat-lompat kegirangan.

__ADS_1


Yuci sudah sampai ke perusahaan ChidaaMall, dengan menggunakan mobilnya. Yuci berjalan dengan berwibawa, sambil menurunkan kacamatanya. Biar karyawan dan karyawati tidak seenaknya dengan pemimpin. Itulah tujuannya, kenapa raut wajahnya tidak bersahabat. Berbicara selalu tegas, agar mereka enggan bersantai.


"Kak Rui!" sapa Hanry.


"Iya Hanry." jawab Rui.


"Kakak dengan Kak Yuci, baik-baik aja 'kan?" tanya Hanry memastikan.


"Memangnya bisa ada apa." jawab Rui.


"Papa menyuruh berkunjung ke rumah, karena ada Kak Hanxie juga." ujar Hanry.


"Oh baiklah, nanti malam aja iya." jawab Rui.


"Iya Kak, pokoknya bareng sama Kak Hanxie." ucap Hanry.


"Iya Hanry." jawab Rui.


"Ayo semangat!" teriak Celiv.


Rifky melambaikan tangannya, dan tersenyum pada Celiv. Hanry tidak suka, dengan Rifky yang mendekati Celiv.


”Kamu lihat saja, aku pasti bisa menang. Kamu tidak akan bisa dekat Celiv lagi. Aku bukan suka sama Celiv, tapi ini sikap wajar sebagai teman.” batin Hanry.


Permainan dimulai, saat suara peluit dibunyikan. Mereka bertanding dengan baik, dan masih sportif diawal. Lalu setelah itu, Rifky mendorong lengan Hanry. Ada rasa tidak terima, karena dibuat terjatuh oleh Rifky.

__ADS_1


Bugh!


Hanry meninju Rifky duluan, lalu Rifky juga membalas hal serupa. Mereka akhirnya saling menyerang, hingga terdengar suara sorakan dari siswa-siswi. Celiv berusaha menghentikan mereka, dengan berada di tengah-tengah.


Bugh!


Celiv terkena tinju pipinya, hingga mengeluarkan darah dari bibirnya. Para murid lain pergi meninggalkan lapangan, mereka segera berlari ke kantor. Mereka melaporkan pada kepala sekolah, tentang yang terjadi.


”Hah, Hanry bertinju di lapangan. Kok bisa iya, pasti ada sebabnya. Dia benar-benar terkena masalah, Yuci pasti akan memarahinya.” batin Rui.


Rui segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Rasanya berada di posisi setengah berjalan, setengah berlari. Nafasnya memburu cepat, lalu akhirnya sampai lapangan.


"Pak, Hanry adalah anak yang baik. Dia tidak sembarangan melukai orang." Rui memberanikan diri berbicara.


"Pak Rui, semua orang tahu bahwa Hanry adik ipar Bapak. Tapi membela sebelah pihak, bukanlah sebuah kebijaksanaan." Rifky menjawab.


"Yang dikatakan oleh Rifky, benar Pak Rui. Mereka berdua harus dihukum, biar sama-sama adil." jawab bapak kepala sekolah.


"Pak, di sini banyak para murid. Pasti ada yang mengetahui dengan detail, apa yang sudah terjadi di sini." ujar Rui.


"Baiklah." jawabnya singkat.


Bapak kepala sekolah meneruskan ucapannya. "Siapa yang berani menjadi saksi?" tanyanya.


"Pak, aku melihat Rifky yang bermain curang. Dia sengaja menyenggol lengan Hanry." jawab Celiv.

__ADS_1


"Apa kamu bisa memegang ucapan kamu." ujar bapak kepala sekolah.


"Bisa Pak, hukum saja bila aku berbohong." jawab Celiv.


__ADS_2