Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Meringankan Beban Istri


__ADS_3

Rui dan Yuci akhirnya pergi, dengan menggunakan mobil. Rui memulai pembicaraan, memberitahu istrinya sesuatu.


"Istriku, satu hal yang ingin aku beritahu padamu." ujar Rui.


"Katakan sayang, apa itu?" Yuci mulai penasaran.


"Jalan di kampung sulit dilalui mobil." jawab Rui.


"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Yuci.


"Kau titipkan saja di bengkel, yang mendekati perbatasannya. Jalan ke rumahku itu sangat kecil, banyak batu-batuan juga." jelas Rui.


"Biasanya, warga menggunakan apa?" tanya Yuci penasaran.


"Biasanya, mereka akan naik sepeda, atau jalan kaki." jawab Rui.


"Hmmm... ternyata kehidupan di kampung halaman kamu sangat keras." ujar Yuci.


"Tentu saja, tapi udara di sini masih asri. Mereka sangat nyaman, meskipun hanya pergi ke sawah." jelas Rui.


Beberapa jam kemudian, Yuci dan Rui sudah sampai. Mobil diletakkan di bengkel, setelah Rui meminta izin dengan si pemiliknya. Cukup lama berjalan, rumah penginapan belum kelihatan.


"Rui, harus sampai kapan lagi?" tanya Yuci.


"Masih lama lagi, harus jalan beberapa kilometer." jawab Rui.


"Rui, kau tidak ingin membuat perjalananku jadi lebih mudah?" Yuci tersenyum imut.

__ADS_1


Rui duduk berjongkok. "Cepat naik, biar aku gendong."


Yuci bersemangat sekali, naik ke atas punggungnya. Rui menahan tubuh Yuci, sembari berdiri dari posisi duduknya. Mereka berbicara tentang padi, yang sangat mencolok warnanya yang kuning.


"Itu artinya sudah siap panen." ujar Rui.


"Kalau yang hijau jadi pajangan saja iya. Menunggu dilamar, agar tidak berdiri terus." jawab Yuci.


"Iya, seperti kamu dulu." canda Rui.


Yuci menjewer telinganya. "Dasar tidak peka!"


"Sekarang 'kan sudah peka." ujar Rui.


"Kalau yang sekarang tidak peka, patut untuk dipertanyakan dimana perasaannya." Yuci tersenyum mengembang.


Tok! Tok!


Akhirnya sudah sampai pada penginapan, dan Rui mengetuk pintu. Seorang anak kecil membukanya, lalu mempersilakan Rui untuk masuk.


"Kak, ada kamar yang kosong hanya satu." ujar anak tersebut.


"Tidak apa-apa, aku hanya butuh satu. Lagipula, kami adalah suami istri." jawab Rui.


Anak tersebut memberikan kuncinya, lalu Rui membuka ruangan kamar. Setelah meletakkan Yuci di atas ranjang tidur, barulah Rui memberikan uang sewa. Bocah itu akan bilang ke ibunya, setelah dia kembali dari berjualan.


Ditinggalkannya Yuci sendirian, karena Rui ingin keluar. Dia sengaja mencari pemintal benang lebih dulu, sebelum istrinya melakukan semangat pergerakan. Rui ingin membalas kebaikan Yuci, menjadi suami yang lebih berarti untuknya. Selama ini, dia tinggal di apartemen milik istrinya.

__ADS_1


"Permisi Bu, apa Ibu pemintal benang ahli itu?" tanya Rui.


"Ah tidak juga, masih banyak yang lain. Ini semua berkat kerjasama semuanya, hingga menjadikan aku terkenal di desa ini." jawabnya.


"Aku ingin memesan pintalan benang, untuk membuat baju perusahaan ChidaaMall." ujar Rui.


"Wah, suatu kehormatan bagiku, bila bisa ikut serta dalam perusahaan besar." jawabnya.


Rui tersenyum. "Bagaimana proses pemintalan ini berlangsung?"


"Pemintalan benang diambil dari kapas dan juga bulu kambing." jawabnya.


"Oh, jadi bulu kambing bisa juga iya." ujar Rui.


"Iya, memang bisa." jawabnya.


"Dulu ibuku berasal dari sini, harusnya aku mengetahui akan hal ini." ucap Rui.


"Oh, jangan-jangan kamu Rui iya." jawabnya.


"Benar Bu, aku Rui anaknya Bu Nimah." ujar Rui.


"Oalah, dia teman baikku. Ternyata, kau sudah besar sekarang." jawabnya.


"Iya, dulu aku kembali ke sini sekitar umur delapan tahun. Aku pindahan dari sekolah kota." ujar Rui.


"Iya, iya, aku ingat. Dulu kau terlihat dekil saat kecil, tidak menyangka setampan ini saat dewasa." jawabnya.

__ADS_1


Rui tersenyum ke arahnya, sembari memperhatikan perempuan paruh baya tersebut bekerja. Pemintalan benang yang rumit, diperlukan keterampilan dalam mengerjakannya. Sekitar satu jam, dia melihat prosesnya.


__ADS_2