
Yuci sudah selesai mandi, dan giliran Rui lagi yang mandi. Yuci berpikir untuk mengenakan baju, yang menjadi warna favorit Rui.
"Haduh, Rui suka baju warna apa iya. Ah sudahlah, aku sembarangan mengenakan baju aja." monolog Yuci.
Yuci melempar semua pakaiannya, yang ada di dalam koper. Dia bingung harus memilih yang mana, karena semuanya terlihat bagus. Tak berselang lama Rui sudah keluar. Dia menahan tawa, saat melihat Yuci mengenakan baju kodok. Apalagi motifnya, yang dipenuhi gambar kelereng.
"Kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Yuci.
"Nona, ini semua karena kamu mengenakan baju itu." jawab Rui.
"Harusnya, kamu tidak memperhatikan ke arahku. Namun, ternyata kamu diam-diam mencuri pandang." ucap Yuci, dengan percaya diri.
"Nona, aku hanya melihat bajumu. Aku sedang tidak melihat wajahmu." jawab Rui.
"Kalau gitu, kamu harus membiasakannya." ujar Yuci.
"Mana bisa seperti itu, aku malah ingin kita pisah kamar." jawab Rui.
"Kenapa Rui, kamar yang lain belum dibereskan." Yuci berusaha untuk menahannya.
"Nanti aku akan membereskannya, saat pulang sekolah." jawab Rui.
”Yah, dia malah memilih pergi. Apa aku tidak ada di hatinya, meski hanya sedikit.” batin Yuci.
Hanry sudah sampai ke SMA 45, lalu meletakkan motornya di parkiran. Tidak perlu dikunci setang, karena ada satpam yang menjaga.
"Kak Rui, bagaimana kabar Kak Yuci?" tanya Hanry.
__ADS_1
"Baik, seperti yang kamu lihat kemarin." jawab Rui.
"Heheh... baru kemarin jumpa, tapi aku masih menanyai kabarnya." ucap Hanry.
"Nah, itu yang dari tadi membuatku heran." jawab Rui.
Celiv menghampiri Hanry, yang sedang asyik mengobrol dengan Rui. Dia ingin mengajak Hanry, ke perpustakaan sekolah. Tentu saja ingin membaca buku bersama, supaya saat ulangan mudah mengerjakan soal.
Yeye keluar dari kampusnya, lalu melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Hanxie. Mereka berdua saling melihat, dengan tatapan tidak suka.
"Hih, kok ketemu kamu lagi si." Yeye mengangkat tangannya yang terkepal.
"Aku juga heran, kenapa harus bertemu perempuan pembawa sial seperti kamu." jawab Hanxie.
"Oh iya, aku tahu kamu pacarnya nona Yuci." ucap Yeye.
"Apa urusannya denganmu." jawab Hanxie ketus.
"Kalau aku mau, siapapun tidak bisa menghalangiku." jawab Hanxie.
Yeye semakin kesal, sedangkan Hanxie semakin tertantang. Dia ingin mendekati Yuci, untuk membuat Yeye kebakaran. Yeye tidak menyangka, kalau pria itu kuliah di sana juga. Padahal selama ini, Yeye tidak pernah melihatnya.
”Hmmm... aku harus menghalangi Hanxie bersama nona Yuci. Apalagi ini pernikahan kontrak, akan semakin mudah berakhir. Aku harus membuat keduanya jatuh cinta, apalagi Bibi tua sangat menginginkan cucu.” batinnya.
Yuci tidak menyerah, dia latihan bola kaki dalam ruangan. Sampai saat Aldo masuk, dia merasa heran dengan atasannya.
"Apa nona sekarang suka dengan bola kaki?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Aku gak suka, cuma suamiku suka. Apapun yang dia suka, aku juga harus menyukai." jawab Yuci.
"Nona, sebaiknya jangan dipaksa. Apalagi jika tidak hobi, akan semakin jenuh." ujar Aldo.
"Tapi, aku tetap ingin menekuninya." jawab Yuci.
"Maka nona harus belajar dengan Pak Rui." ucap Aldo.
"Tentu saja, aku sudah memintanya untuk mengajariku." jawab Yuci.
Pada malam harinya, Yuci mengetuk kamar Rui. Dia ingin belajar bermain bola bersamanya.
"Ada apa?" Rui sudah membuka pintu.
"Aku ingin belajar bermain bola sekarang." jawab Yuci.
"Apa tidak bisa lain waktu?" tanya Rui.
"Tidak, kita harus belajar sekarang." jawab Yuci.
Rui keluar dari kamar, lalu bermain bola bersama Yuci. Rui tertawa saat melihat tingkah lucu Yuci, ketika menangkap bola yang hendak masuk gawang.
"Hayo, nona harus lebih semangat." ucap Rui.
"Selama kamu membimbingku, aku akan semangat." jawab Yuci, dengan perasaan berbunga-bunga.
Tiba-tiba ponsel berbunyi, ternyata pesan dari Aldo. Yuci terburu-buru untuk keluar rumah, karena harus segera ke perusahaan. Terjadi masalah dengan departemen pemasaran.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan nona, ini sudah malam." ucap Rui.
"Iya Rui, tenang saja." jawab Yuci.