
Pada siang harinya, Rui sudah pulang mengajar. Dia membereskan apartemen Yuci, yang terlihat berantakan. Rui harus sadar diri, ditumpangi tempat tinggal mewah. Semua itu, merupakan hasil kerja keras istrinya.
Mengganti seprai ranjang tidur, mengelap kaca, mencuci pakaian, menjemur, melipat, menyeterika baju juga, menyapu dan mengepel lantai, serta memasak untuk makan malam.
Saat Rui menyiapkan makanan di meja makan, Yuci baru saja pulang. Yuci berdecak kagum, karena melihat rumah mengkilat.
"Ternyata, kau rajin sekali Rui." puji Yuci.
"Kita hanya tinggal berdua, sudah seharusnya seperti ini." jawab Rui.
"Aku juga bisa beres-beres, tapi aku tak pandai memasak." ujar Yuci jujur.
"Semua orang juga berawal dari tidak bisa, lalu belajar hingga jadi terbiasa." jawab Rui.
Pukul 19.00. Yuci dan Rui pergi ke rumah Yuda. Saat sudah sampai, mereka berdua disambut oleh Hanry. Paman Ghino ada di sana juga, sedang mengobrol bersama Hanxie.
"Yuci, akhirnya kau sudah datang." ujar Ghino.
"Ini juga karena Papa yang menyuruh berkumpul bersama." jawabnya datar.
"Kau masih saja cemberut, marah terus pada Papamu. Ayolah Yuci, lupakan masa lalu. Sekarang, kamu sudah memulai kehidupan baru." Ghino memperingatinya.
"Aku tidak marah pada Papa, aku hanya kecewa." jawab Yuci.
Mereka makan bersama, dan Yuci mengambilkan santan sarden untuk suaminya. Padahal, Rui tidak menyukai makanan tersebut.
"Rui, ternyata selera kamu makanan berlemak." ujar Ghino usil.
__ADS_1
"Iya Paman, aku sangat memahami dia. Kami berdua saling mencintai." jawab Yuci.
"Yuci, kamu terlihat bahagia bila dengan Rui." ujar Hanxie.
"Jangan banyak bicara, nilai ujian akhirmu perlu ditunjukkan." Yuci tersenyum jahat.
Yuda baru teringat, dengan alasan mengajak Hanxie. Padahal tadi dia sempat lupa, untuk menanyakan kedatangan bocah tersebut. Yuda malah berpikir, bahwa dia ikut kumpul bersama saja.
"Hanxie, mana nilai ujian akhir kuliahmu." ujar Yuda.
"Belum ada Pa." jawab Hanxie.
"Bagaimana bisa begitu, sedangkan nilai anak dari teman bisnis Papa sudah keluar." ucap Yuda.
"Ini disebabkan karena kendala Pa." jawab Hanxie.
"Tidak apa-apa, aku akan segera menyelesaikannya. Bukan hal besar juga kok Pa." Hanxie menjawab, sambil nyengir.
Usai makan malam bersama, Yuda mengajak Rui bicara berdua. Hanry juga mengajak Yuci, untuk berbicara empat mata.
"Kak, di sekolah aku sempat ada masalah." ujar Hanry.
"Memangnya kamu bertinju lagi." Yuci mulai ingin menjewer nya.
Hanry mengelak, dan menunjuk tangan Yuci. "Jangan jewer aku, ini bukan salahku. Kalau Kakak tidak percaya, tanya saja pada Kak Rui. Kakak juga bisa tanya pada Celiv."
"Salahmu atau bukan, kau tidak boleh bertinju Dik." jawab Yuci.
__ADS_1
"Kak Yuci, apa kau tahu, bahwa aku seperti ini meniru ratu serigala. Dia tidak suka ditindas, dan akan bertindak buas. Mencakar seluruh makhluk semesta, bila menghalangi jalannya." Hanry mengingat Yuci pada masa kecil, yang mengaku sebagai ratu serigala.
"Hentikan bicaramu bocah cilik, tidak enak didengar. Telan kembali air liur yang telah kau tumpahkan. Sungguh sangat menjijikkan, mengingat masa lalu." jawab Yuci.
"Kenapa harus menjijikkan, bukankah masa kecil itu seru. Bahkan Mama masih ada, untuk saat itu." ujar Hanry.
"Benar, Mama akan bernyanyi untuk kita. Pada saat hari Ibu, kita adalah orang yang bahagia. Sampai takdir merenggut nyawa Mama, dan menghancurkan semuanya." jawab Yuci bersedih.
"Sudah, sudah, ternyata Kakak mudah bawa perasaan. Makanya, aku tidak ingin bila berbicara masa lalu." ucap Hanry.
"Kakak yang menyaksikannya, sedangkan kamu tidak." jawab Yuci.
Yuda mengobrol berdua dengan Rui, di depan teras rumah. Dia ingin berbicara, mengenai keluarga kecilnya yang sederhana.
"Rui, untuk saat ini kamu orang paling dekat dengan Yuci. Tolong bujuk dia, untuk tidak terus berada pada masa lalu." pinta Yuda.
"Aku tidak tahu Pa, apa permasalahannya." jawab Rui.
"Rui, sebenarnya Papa dulu melarang Mama Yuci bernyanyi karena dia selingkuh." ucap Yuda jujur.
"Hah, apa yang aku dengar tidak salah." jawab Rui.
"Tidak Rui, ini semua bukan salah Papa sepenuhnya." ucap Yuda.
"Berarti, Yuci telah salah paham pada Papa." jawab Rui.
"Benar, dia mengira Papa egois hanya memikirkan diri sendiri. Padahal Papa merasa cemburu, bila Mama Yuci bermesraan dengan penggemar prianya." ujar Yuda.
__ADS_1
Rui menepuk lembut lengan Yuda. "Papa yang sabar iya, semuanya pasti akan terungkap."