
Pada malam harinya, Rui membuatkan minuman susu untuk Yuci. Dia melihat suasana hatinya sedang tidak baik, hal itu bisa dilihat dari tindakannya yang mondar-mandir.
"Yuci, minumlah selagi hangat." ucap Rui.
"Iya Rui, terima kasih." jawab Yuci.
"Kamu ada masalah?" tanya Rui.
"Cuma masalah sedikit." Yuci tersenyum.
"Cerita saja, aku siap mendengarkan." ujar Rui.
"Tidak semua hal harus diceritakan." jawab Yuci.
"Baiklah, bila butuh bantuan hubungi saja aku." ucap Rui.
Yuci mengangguk sambil tersenyum. "Iya Rui."
”Kalau aku cerita padamu, rasanya seperti mempermalukan diri sendiri. Aku datang ke kantor perusahaan, lalu memarahi Ibu Aya. Wow, bisa turun derajat nona Yuci ChidaaMall.” batin Yuci.
Hanxie berpura-pura terpeleset, agar menarik perhatian Yeye. Namun malah diabaikan, tanpa dibantu untuk berdiri.
”Sudah kuduga, dia tidak semudah itu didekati. Apa matanya hanya menganggap ku sebatang kayu.” batin Hanxie.
Yeye keluar dari gedung kampus, menuju ke jalanan padat. Dia segera menyinggahi taksi, dan Hanxie melihat dari emperan kampus.
Hanxie mengendarai motornya, sampai ke rumah Yuda. Kali ini, dia ingin meminta bantuan Hanry. Seolah semua orang dicari, untuk menyelesaikan masalah rumitnya. Dia akan berhenti, sampai ada orang yang sedia membantu.
"Tumben Kakak ke sini malam-malam?" tanya Hanry.
__ADS_1
"Kakak ingin menginap di sini, memangnya tidak boleh." jawab Hanxie.
"Boleh si Kak, lagipula aku hanya berdua dengan Papa." ucap Hanry.
"Nah gitu dong, itu baru Adik angkat yang baik." jawab Hanxie.
"Kalau gitu, temani aku main game." pinta Hanry.
"Oke, setelah ini kita tidur bersama." jawab Hanxie.
Hanry mulai menyalakan laptopnya, dan Hanxie mulai membuka pembicaraan. Dia ingin secara perlahan, dan tidak terlihat terburu-buru.
"Kak, apa menginap di sini ada tujuan lain?" tanya Hanry.
"Ada Hanry, Kakak ingin meminta bantuan." Tangan masih memegang mouse.
"Tolong cari cara, supaya Yeye mau memaafkan Kakak." jawab Hanxie.
"Kak Yeye itu Adiknya Kak Rui 'kan." ujar Hanry.
"Iya Hanry, lalu Adik siapa lagi." jawab Hanxie.
"Aku tahu, Kakak bisa dekati Bibi kecilnya. Namanya itu Bibi Yaya, dia sering mengajar di SMA 45." Hanry mengusulkan idenya.
"Rencana yang bagus, terima kasih Hanry." jawab Hanxie.
Mereka melanjutkan permainan, kali ini lebih semangat. Permainan sebelumnya tidak menggunakan hati, berbeda dengan yang sekarang. Terkesan jauh lebih semangat, dan juga ada dorongan dalam diri.
Yuci membuka kamar Rui, menggunakan kunci cadangan. Lalu masuk ke dalam kamarnya, setelah Rui tertidur dengan pulas. Yuci mengusap kepala Rui dengan kasih sayang.
__ADS_1
"Rui, aku cinta sama kamu. Andaikan kamu mengetahui, bahwa aku bersikap lembut di belakangmu." Yuci terus tersenyum, memandang wajahnya.
Keesokan harinya, Yuci bangun pagi-pagi sekali. Dia sengaja memasak untuk Rui, meski tidak tahu bagaimana rasa masakannya. Bisa jadi, Rui bilang tidak enak.
"Rui!" Yuci menyapanya, tatkala melihat pintu kamar terbuka.
"Kamu masak iya." Rui tersenyum memandangnya.
"Iya Rui, ayo makan." tawar Yuci.
"Baiklah." jawab Rui.
Rui melangkahkan kakinya, lalu duduk di kursi. Dia mencoba mencicipi masakan Yuci, karena disuruh oleh perempuan tersebut.
"Bagaimana, apa enak?" tanya Yuci.
Rui manggut-manggut. "Enak kok Yuci."
”Ya Tuhan, ini sangat asin. Bagaimana mungkin, bibirku bisa manisnya berdusta.” batin Rui.
Yuci menambahkan lagi lauk pauk ke piring Rui, dan pria itu memakannya dengan lahap. Beberapa menit setelahnya, dia berpamitan untuk pergi. Yuci merasa tidak nyaman, karena ada yang janggal.
”Aku dari tadi hanya melihat dia makan. Sekarang, giliran aku yang akan mencicipinya.” batin Yuci.
Yuci mulai mencoba satu sendok sayur, lalu berlari ke arah tong sampah. Karena tidak sanggup menahannya, akhirnya makanan tersebut dimuntahkan olehnya.
”Kenapa kamu berbohong Rui, aku jadi merasa tidak berharga. Aku tahu kamu merasa tidak enak, bila berterus-terang padaku.” batin Yuci.
Yuci melangkahkan kakinya keluar rumah, setelah minum air putih hangat. Dirinya merasa galau, karena tidak bisa menjadi istri berguna.
__ADS_1