
Yuci sibuk memantulkan bola dengan kuat. Rui tidak bisa tidur, karena itu selurus dengan kamarnya. Yuci terus memantulkan bola, biar Rui sengaja menegurnya. Rui menutup kedua telinganya, namun tetap saja terdengar.
"Hah, benar-benar mengganggu. Ada apa lagi dengan dia, kenapa harus meresahkan seperti ini." Rui bergumam-gumam lirih.
Rui segera keluar kamar, melangkahkan kakinya menapaki tangga. Rui mengetuk pintu, hingga Yuci membukanya.
"Ngapain kamu ke sini?" Giliran Yuci yang bertanya.
"Yuci, hal yang kamu lakukan telah mengganggu diriku. Bagaimana mungkin aku dapat tidur." jawab Rui.
"Apa kamu pikir, aku akan peduli." Yuci segera menutup pintu.
Rui mengetuknya. "Yuci, bersikaplah dewasa. Jangan mengganggu kenyamanan waktu istirahat orang lain."
Rui segera menjauh dari pintu, berjalan menuruni anak tangga. Yuci melemparkan bola pada dinding, hingga terdengar bunyinya. Kali ini Rui tidak mempedulikannya, karena dia dan Yuci bukan suami istri sungguhan juga.
”Yuci, aku mau menikah denganmu karena kamu teman masa kecilku. Kalau tidak karena hal tersebut, mana mungkin aku mendadak berubah pikiran.” batin Rui.
Yuci akhirnya berhenti bermain bola, karena malam semakin larut. Rui juga tidak mempedulikan dirinya, sibuk memasang headset pada kedua telinganya.
Keesokan harinya, Yuci mendiamkan Rui. Dia tiba-tiba ngambek, tanpa alasan yang jelas. Seolah ingin dibujuk, oleh suami kontraknya itu.
"Yuci, kamu tidak sarapan pagi dulu. Aku tadi kebetulan masak banyak." ujar Rui.
"Kamu makan sendiri aja, aku sudah kenyang." Yuci menghindarinya.
Dia segera keluar rumah, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Yuci pergi ke sebuah taman, yang menjadi tempat menyendiri.
"Kenapa si, Rui tidak menyukai aku. Kenapa dia sangat abai, dengan godaan manis dariku." monolog Yuci.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Yeye menghampiri Yuci, karena dia kebetulan lewat. Dia melihat raut wajah kakak sepupu iparnya, yang sudah seperti kangkung lemas.
"Kak Yuci kenapa, kok sendirian aja?" tanya Yeye.
"Gak apa-apa, sudah biasa mandiri." jawab Yuci.
"Aku tahu, kalau kalian hanya menikah kontrak. Tapi ku harap, Kakak gak akan menyakiti Kak Rui." ucap Yeye.
"Kamu terlihat sayang sekali padanya." jawab Yuci.
"Karena kami sudah lama tinggal bersama." ujar Yeye.
"Iya, aku paham." Yuci tersenyum, dengan menampilkan deretan giginya.
Setelah berbincang sebentar, mereka segera pergi ke arah tujuan masing-masing. Kini Yuci menemui Aldo, untuk mengetahui seputar departemen perencanaan.
"Bagus, aku ingin hasilnya memuaskan." jawabnya.
"Nona, Joky dan Rui ternyata berteman baik." ucap Aldo.
"Aku harus menggali informasi dari Joky." jawab Yuci bersemangat.
Yuci segera melangkahkan kakinya, ke ruang departemen perencanaan. Dia mengetuk pintu, dengan senyum percaya diri.
"Apa nona Yuci belum puas, sehingga datang menemui diriku?" tanya Joky.
"Aku sangat puas dengan kerja kerasmu. Tapi ada hal penting, yang ingin aku tanyakan." jawab Yuci.
"Hal apa itu nona?" tanya Joky.
__ADS_1
"Apa Rui mempunyai pacar, sebelum menikah dengan aku?" tanya Yuci.
"Aku tidak tahu, kenapa tidak tanyakan langsung." jawab Joky.
"Aku takut menyinggungnya." ucap Yuci.
"Lalu, apa baik diam-diam seperti ini." Joky menahan tawa.
"Sudahlah, jawab saja." Yuci melotot.
Joky angkat tangan, dengan gadis blak-blakan di depannya. "Oke, oke."
"Siapa perempuan yang paling dekat dengan Rui?" tanya Yuci penasaran.
"Tentu saja nona Yuci." jawab Joky.
"Kenapa jawaban yang kau beri, sungguh tidak memuaskan." gerutu Yuci.
"Aku menjawab dengan kenyataan yang terlihat." jawab Joky.
"Kalau begitu, beritahu semua yang dia suka." Yuci terus menggesa-gesa.
"Dia suka dengan hewan kelinci, dia juga suka warna hitam, dia suka bermain bersama anak kecil, dia suka makan sayur, dan yang terakhir mungkin suka nona." Joky nyengir, setelah bercanda.
"Sungguh menyebalkan, tapi terimakasih atas infonya." jawab Yuci.
Yuci segera keluar dari ruangan, sambil sedikit melompat-lompat. Joky geleng-geleng kepala, heran melihat tingkah Yuci.
”Apa dia kerasukan iblis sinting, sehingga berperilaku seperti anak kecil.” batin Joky.
__ADS_1