
Yuci meletakkan kopernya didekat lemari, begitupun dengan Yeye. Yuci ingin sekedar usil, untuk menanyakan perihal Hanxie.
"Apa dia sudah minta maaf padamu?" tanya Yuci.
"Dia siapa Kak." jawab Yeye.
"Iya Hanxie, lalu siapa lagi." ujar Yuci.
"Belum, aku cuma pernah melihatnya mengikuti ku. Lalu saat aku menoleh, dia berpura-pura berjalan lain arah." jawab Yeye.
"Bocah itu iya, sudah salah tidak tanggungjawab. Harusnya dia tumbuh, menjadi seorang pria pemberani." ucap Yuci.
"Kakak jangan mengomel di sini, dia tidak dapat mendengarnya." Yeye tersenyum.
Pada malam harinya, Yuci dan Rui berada dalam kamar. Mereka sama-sama, mengangkat bahu masing-masing.
"Kasur hanya satu, aku tidak biasa tidur di sofa." Yuci tersenyum.
"Aku juga tidak terbiasa tidur kedinginan." Rui berkacak pinggang.
"Kalau gitu, kita sekarang buat kesepakatan." Yuci mengusulkan idenya.
"Baiklah, katakan apa yang bisa membuat adil." jawab Rui.
__ADS_1
"Kita sama-sama memejamkan mata, tanpa boleh ada yang curang. Siapa yang diam-diam mengintip, dia akan didiskualifikasi." ucap Yuci.
"Baik, aku terima tantangan kamu." jawab Rui.
Mereka segera menutup mata dengan kain, lalu berjalan meraba-raba. Yuci berusaha meraih benda disekitarnya, untuk merasakan dimana keberadaan ranjang tidur. Tanpa sengaja keduanya bertabrakan, dan memeluk tubuh satu sama lain.
"Cari ranjang tidurnya, jangan mendekati aku."
Yuci dan Rui berbicara secara bersamaan, lalu kalimat kedua pun masih bersamaan.
"Aku pasti menemukan lebih dulu."
Yuci dan Rui menjauhkan tubuh masing-masing, lalu meraba-raba sekitarnya. Rui yang menabrak ranjang tidur lebih dulu, lalu sengaja menutup matanya lagi sambil tersenyum.
”Kasian bila dia tidur di sofa, lebih baik aku yang mengalah saja. Yuci, aku mencintai kamu, dasar ratu serigala bawel.” batin Rui bahagia.
"Hore, aku menang. Kamu kalah Rui!" Yuci membuka penutup matanya, lalu tersenyum mengejeknya.
Keesokan harinya Yuci sudah sampai, di kantor perusahaan ChidaaMall. Dia segera masuk ruangan sekretaris, untuk menemui Aldo.
"Aldo, bagaimana dengan perusahaan Frima?" tanya Yuci.
"Pemilik perusahaan ini misterius, tidak semudah itu untuk bertemu siapapun. Harus membuat janji pribadi, terlebih dulu nona." jawab Aldo.
__ADS_1
"Kalau gitu, biar aku saja yang menemuinya." ujar Yuci.
"Baik nona." jawabnya.
Pada sore harinya, Yuci pergi ke perusahaan Frima. Dia ditemani oleh Aldo, selaku sekretaris kantor milik Yuci. Aldo menghampiri meja resepsionis, dan mengatakan bahwa ingin mengobrol sebentar. Yuci segera berlari, untuk masuk ke ruangan pimpinan perusahaan. Aldo berusaha mengalihkan perhatian, agar perempuan muda itu tidak melihat Yuci.
Tok! Tok! Tok!
Yuci mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan dari dalam. Dia masih mengulanginya, sampai beberapa kali. Hingga tibalah pintu terbuka, dan seseorang yang familiar tengah berdiri.
"Yuci, kenapa anda mengikuti ku?" tanya Aya.
"Harusnya aku yang bertanya, mengapa kau ada di sini." jawab Yuci.
"Aku adalah pemilik perusahaan ini." ujar Aya.
"Oh, jadi anda yang mengalihkan semua pelanggan setiaku. Ternyata taktik anda busuk juga, dalam meraih keuntungan berganda." Yuci menatap tajam.
"Bilangnya berbakat, namun tidak bisa bersikap dewasa. Bakat macam apa yang anda banggakan, cuma bisanya melabrak karena tersaingi. Harusnya anda belajar mengelola perusahaan sendiri, agar menjadi lebih baik lagi. Bukan seperti ini caranya, menyalahkan keuntungan yang diraih perusahaan lain." jelas Aya, panjang dan lebar.
”Apa Aya sebaik itu untuk Rui, hingga suamiku memilih betah dekat dengannya. Ah sial, kenapa perusahaan Frima harus miliknya. Padahal, aku ingin mengajak bekerjasama.” batin Yuci.
"Kalau aku jadi kau, aku akan sangat malu. Ibu guru misterius, yang sudah memiliki perusahaan sendiri. Namun sengaja bertahan, agar bisa menggoda suami orang." ujar Yuci.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak memiliki hubungan apapun. Kalau anda datang cuma untuk melampiaskan kecemburuan, lebih baik segera pergi dari sini." Aya sengaja mengusirnya.
Yuci segera keluar ruangan, meski sebenarnya membutuhkan kesempatan. Batinnya memberi titah diri sendiri, supaya jangan menjadi rekan bisnis.