
Yuci merasa sebal, karena Rui tidak kembali lagi. Maka dia memutuskan untuk tidur, hingga pagi hari tiba. Yuci mengucek matanya, tatkala melihat Rui sudah rapi. Dia mengenakan pakaian dinas seperti biasanya, karena akan mengajar kembali di sekolah.
"Hai Rui!" sapa Yuci.
"Genit, cepat mandi sana. Jangan sapa sana-sini, dengan senyum tebar pesona." jawab Rui datar.
"Ya ampun Rui, bisakah lebih mesra kalau ngomong." Yuci mulai menuntutnya, seakan melupakan perjanjian kontrak pernikahan.
"Ini sudah paling kalem." jawab Rui.
”Mesra Rui, bukan tentang lembutnya ucapan. Dasar tidak peka!” batin Yuci ngenes.
"Bagaimana rasanya semalam, apa enak?" tanya Yuci.
"Pahit!" jawabnya singkat, dengan kalimat paling pendek.
Yuci mengangkat selimut, hingga memperlihatkan bentuk tubuh aslinya. Yuci menggeliat ke kanan dan kiri, sambil memandang Rui. dua bola matanya dimainkan, untuk menggoda suaminya itu.
"Apa si tujuan kamu, jadi ulat bulu genit?" Berbicara dengan nada kesal, tanpa melihat ke arah Yuci.
"Tujuanku ingin punya anak." jawab Yuci.
"Tidak ada kesepakatan, dalam pernikahan Kontrak. Lagipula, sebentar lagi hubungan sandiwara akan berakhir." ucap Rui.
"Tidak bisakah kamu menyetujuinya." jawab Yuci.
"Tentu tidak." ujar Rui.
"Iyakan saja, hitung-hitung buat hati ini senang." jawab Yuci.
__ADS_1
”Sudah memaksa dinikahi, memaksa tandatangan kontrak, memaksa juga punya anak.” batin Rui, masih heran.
Rui hendak keluar kamar, Yuci segera berlari ke arahnya. Menghadang langkah Rui, dengan berdiri di depannya. Rui dapat melihat wajah Yuci, yang memelas manja. Seakan tanpa dosa, menggoda iman manusia biasa.
"Rui, kau jangan terlalu cuek. Hal ini membuat, seseorang pergi jauh darimu. Kau tahu, tidak semua yang hilang bisa ditemukan lagi." ucap Yuci.
"Memangnya, kau pikir aku peduli." jawab Rui.
Rui melangkahkan kakinya, menuju ruang makan. Di sana ada Nimah, Yeye, dan juga Yaya, yang sedang menyusun peralatan makan.
"Rui, sudah mau berangkat?" tanya Nimah.
"Iya Bu, nanti bareng sama Bibi kecil." jawab Rui.
"Apa istrimu belum bangun?" tanya Yaya.
"Sudah Bi, mungkin sekarang sedang mandi." jawab Rui.
"Mungkin dia lelah, karena seharian di kantor Bu." jawab Rui.
"Semua jawaban mungkin, seperti tidak perhatian pada Kakak ipar sepupu." sahut Yeye.
"Eits... kenapa tiba-tiba kau bicara demikian." jawab Rui.
Tak berselang lama, Yuci sudah muncul. Dia ikut sarapan bersama juga, dan hanya dengan porsi mangkuk kecil.
"Yuci, makanlah yang banyak." ujar Nimah.
"Ini sudah kenyang kok Bu." jawab Yuci.
__ADS_1
"Kalau kamu makan yang bervitamin, siapa tahu Ibu cepat punya cucu." canda Nimah.
"Uhuk... uhuk..." Rui langsung tersedak, padahal lagi enak makan.
"Kenapa Kak Rui?" tanya Yeye, seraya mengedipkan mata.
"Tidak apa-apa, Kakak lagi teringat sesuatu." jawab Rui.
Yuci memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan perlahan. Lalu mengunyahnya tanpa semangat, mengingat hal yang telah dia lakukan.
”Yuci, kau telah bekerja keras. Di dunia ini, yang paling tidak adil ternyata perasaan. Kita masih saja mencintai sendirian, saat seseorang benar-benar menolak kehadiran cinta.” batin Yuci.
"Rui, antarkan istrimu ke perusahaan ChidaaMall." ujar Yaya.
"Bibi kecil, aku tidak dapat mengendarai mobil." jawab Rui.
"Kau bahkan bisa mengendarai motor, antar jemput saja menggunakan kendaraan tersebut." titah Nimah.
"Bu, Yuci tidak terbiasa naik motor." jawab Rui, masih berusaha mencari alasan.
"Aku mau kok, dibonceng sama Rui." Yuci tersenyum.
"Kau dengar sendiri 'kan Rui, cepat antar istrimu sana." Nimah tampak bersemangat.
Selama di perjalanan, Yuci duduk sangat dekat. Sesekali tangannya meraih pinggang Rui dengan ragu, antara ingin memeluk dan enggan.
"Pegangan saja yang erat, aku tidak akan melarang kamu." ucap Rui.
Yuci tersenyum "Iya Rui."
__ADS_1
Mereka sudah sampai ke perusahaan ChidaaMall. Yuci merasa bersemangat sesaat, namun setelahnya sedih lagi. Teringat kejadian semalam, yang membuatnya merana.
Yuci merebahkan tubuhnya, pada kursi putar. Bersandar dengan santai, seolah malas kerja. Memangnya siapa yang akan memecat atasan, pikir Yuci.