Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Ditolong Gebetan


__ADS_3

Pada malam harinya, Yuci tidak bisa tidur. Dia kepikiran ucapan Rui, karena terlalu menusuk hatinya.


"Hanry, menurut kamu Kakak gimana?" tanya Yuci.


"Hmmm... Kakak orangnya menyebalkan." jawab Hanry.


"Hih, ditanyain malah kayak gitu menjawabnya." ucap Yuci.


"Emosional sekali Kakak nih." jawab Hanry, menahan tawa.


"Kamu gak tau aja Hanry, kalau Kakak dijauhi sama Pak Rui." ucap Yuci.


"Mungkin, karena Kakak berbuat kesalahan." jawab Hanry.


"Bukan karena berbuat kesalahan, tapi Pak Rui memang tega. Dia tidak mau untuk menikah dengan Kakak." ujar Yuci.


"Hhah.... Kakak ini lucu, dimana-mana juga pria yang melamar. Ini perempuan yang menyatakan perasaan duluan." jawab Hanry, tertawa kecil.


"Hih kamu ini, jangan meledek seperti itu. Kamu tahu 'kan, Papa suka memaksa kehendaknya pada kita." ucap Yuci.


"Oh, jadi mau menikah dengan Pak Rui karena Papa." Hanry manggut-manggut.


"Bukan juga, karena Kakak merasa dia orang yang tepat." ujar Yuci jujur.


"Semangat Kak!" jawab Hanry.


Sementara di sisi lain, Rui melihat ibunya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Yeye yang akan menunggunya, selama Rui bekerja.


"Bu, maafin aku. Seharusnya, aku mencegah sekretaris itu." Rui meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kak, ini bukan salah Kakak. Sungguh ini salahku, karena melakukan hal ceroboh. Sebelum Bibi tua sadar, aku masih tetap ingin menangis." ungkap Yeye.


"Tidak Ye, kita sama-sama salah." jawab Rui.


Keesokan harinya, Yuci sengaja mengantar Hanry ke sekolah. Dia ingin sekali bertemu Rui, dan meminta maaf langsung. Rui segera menghindar, saat melihat Yuci.


"Pak Rui, aku minta maaf. Aku tahu, aku salah telah menagih hutang." ucap Yuci.


"Nona gak salah untuk hal itu, namun cara nona yang salah." jawab Rui.


"Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi." Yuci takut, Rui membencinya.


"Nona tenang saja, aku sedang mengusahakannya. Aku paham perusahaan kalian mengalami kerugian besar, atas tindakan Yeye yang ceroboh." jelas Rui.


Yuci segera melangkahkan kakinya, setelah mengucapkan hal tersebut. Berniat mengancam dengan pernikahan kontrak malah merasa bersalah, karena kondisi Nimah yang koma. Yuci menghentikan langkahnya, lalu menerima panggilan telepon.


"Halo, ini siapa iya?" tanya Yuci.


"Baiklah, Bapak klien tunggu sebentar." ucap Yuci.


"Iya, cepat sedikit." jawabnya.


Saat Yuci melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada tiga orang mengikuti di belakang. Rui dapat melihat dari kejauhan, maka dia memutuskan untuk mengikutinya. Yuci memberhentikan mobilnya, di tempat yang sepi. Tiba-tiba ada yang menghadang dari depan, lalu Yuci keluar dari mobil dan melakukan perlawanan.


"Hei lepaskan!" teriak Rui.


"Siapa kamu, berani-beraninya ikut campur." jawabnya.


"Dia adalah, Kakak dari murid ku di sekolah." ujar Rui.

__ADS_1


"Banyak gaya lu!" Langsung menyerang Rui.


Terjadi baku hantam di antara mereka, hingga Rui yang menang. Mereka semua terpental, lalu segera kabur.


"Nona tidak apa-apa?" tanya Rui.


"Tidak, terima kasih telah khawatir." Yuci malah tersenyum, dengan percaya diri.


"Aku tidak khawatir, hanya kebetulan lewat." alibi Rui.


"Hahah... lucu sekali alasan Pak Rui. Bagaimana mungkin, dari sekolah menuju ke jalan ini. Lagipula alamat rumah Pak Rui, tidak ke arah sini." Yuci masih menahan tawa.


"Nona, harus kamu ketahui mencari pinjaman juga perlu berkeliling." ujar Rui.


"Seharusnya, Pak Rui dapat berubah pikiran. Terima saja tawaran dariku, maka semuanya beres. Lagipula hanya menikah kontrak, akan ada masanya berakhir." jawab Yuci merayu.


"Aku pikirkan lagi." Rui hendak pergi.


Yuci mencekal lengannya. "Pak Rui jangan pergi, antar aku ke jalan Anggrek 8."


"Kenapa tidak pergi sendiri." Rui berucap datar.


"Pak Rui, aku takut hal tadi terulang lagi." jawab Yuci.


Rui akhirnya menuruti Yuci, dia mengantarnya sampai ke jalan Anggrek 8. Yuci mengobrol bersama kliennya, terkait masalah baju pesanan dari Yeye. Setelah dilakukan kesepakatan kerjasama, barulah Yuci menghampiri Rui.


"Terima kasih iya, Pak Rui sudah mau menolong aku." ucap Yuci.


"Iya, ayo pulang. Urusanmu sudah selesai juga." jawab Rui.

__ADS_1


Yuci menganggukkan kepalanya, sambil melemparkan senyuman mengembang.


__ADS_2