Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Menyamar


__ADS_3

Yuci segera menggunakan nomor baru, untuk menghubungi Rui. Dia akan menyamar, sebagai seorang yang memiliki tempat berkemah.


"Perkenalkan, aku adalah nona Rong pemilik tempat berkemah. Diharapkan agar guru-guru, lebih mempertimbangkan aturan dengan bijak. Jangan sering bercampur baur, antara perempuan dan laki-laki." ujarnya.


Rui membalas pesan tersebut. "Kami mengerti aturan, anda jangan khawatir. Bahkan para murid, satu tenda dengan sesama jenis. Sekarang kami sedang mengawasi dengan ketat, supaya tengah malam tidak ada yang menyelinap."


"Ini tidak berlaku untuk siswa dan siswi juga. Namun, seorang guru harus memberikan contoh yang benar. Seorang pria beristri harus sadar diri, untuk tidak terlalu dekat dengan guru perempuan." Yuci mengirimkan pesan.


Rui membaca pesan dari Yuci, dan seketika merasa aneh. "Sepertinya pemilik tempat sangat bijaksana, ditambah lagi ramah lingkungan. Sangat mengetahui kegiatan, dari lembaga yang meminjam tempat. Sekolah SMA 45, adalah sekolah jajaran tertinggi di Jakarta. Kami akan berusaha, untuk mematuhi aturan dan tata hukum setempat."


Yuci melempar ponselnya ke atas kursi sofa, lalu kedua telapak tangannya memegang dahi. Benar-benar tidak peka, pikir si Yuci. Masih saja Rui tidak menyadari, bahwa dia tampak dekat dengan Aya.


”Memangnya kamu siapa Yuci, kamu cuma istri kontrak.” batinnya meledek diri sendiri, yang hampir gagal dalam cinta.


Rui merasa aneh, dengan orang yang menghubunginya barusan. Seolah dia menyindir, kedekatan dirinya dan Aya.


"Ada apa Pak Rui?" tanya Aya.


"Tidak ada apa-apa." Rui tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa terlihat gelisah, tengah malam seperti ini?" tanya Aya.


"Bukan gelisah, hanya ada yang dipikirkan." jawab Rui.


Aya hanya manggut-manggut saja, meski tidak tahu apa isi pikiran Rui. Mereka kembali berjalan, untuk menyelidiki belajar mandiri. Mereka tidak ingin ada yang main-main, dalam belajar untuk mempersiapkan ujian nasional. Itulah tujuan kemah kali ini, sebenarnya hanya ingin mengawasi mereka belajar.


"Bila di rumah, mereka belum tentu membuka buku." ujar Aya.


"Iya Bu, biasanya pengaruh gadget juga pemicunya." jawab Rui.


Hanry diam-diam mengambil foto saat mereka bersama. Hanry mengirimkannya pada Yuci, lalu dilihat dengan cepat oleh kakaknya itu.


Keesokan harinya, Rui sengaja menemui kepala sekolah. Dia ingin menanyakan, terkait perihal tempat berkemah.


"Permisi Pak, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan." ucap Rui.


"Bicara saja." jawabnya santai.


"Pak, apa tempat kemah ini milik nona Rong?" tanyanya.

__ADS_1


Bapak kepala sekolah menahan tawa. "Nona Rong siapa Pak Rui, aku tidak mengerti dengan maksud ucapan Bapak. Di sini merupakan taman, yang berdekatan langsung dengan kantor Bupati. Tentu saja, bukan nona Rong pemiliknya."


"Maaf Pak, aku juga dapat gosip di internet." alibi Rui, agar tidak terlihat memalukan.


"Oh gitu iya, terkadang memang seseorang hobi berbicara sembarangan." jawabnya.


"Kalau gitu, saya permisi dulu Pak." ujar Rui.


"Iya Pak Rui, silahkan." jawabnya.


Rui benar-benar merasa malu, karena membahas nona Rong. Orang yang benar-benar tidak ada, di dalam dunia ini.


"Nomor itu pasti sengaja ingin mengerjai aku. Lihat saja kamu, aku akan membuat jebakan." monolog Rui.


Rui sudah sampai ke area perkemahan, lalu dia masuk ke dalam tenda. Rui mengirimkan pesan pada Yuci, menggunakan nomor baru juga. Yuci membuka ponselnya, dan melihat nomor baru masuk.


"Rui sekarang sedang diculik dan disekap pada sebuah hotel. Tidak jauh dari tempat perkemahan, kamu harus segera datang seorang diri. Awas, kalau berani membawa orang lain."


Yuci membulatkan kedua bola matanya, saat membaca pesan tersebut. Dia beranjak dari posisi duduknya, sambil geleng-geleng kepala. Yuci menggosok poni rambutnya, dengan kedua telapak tangan. Yuci segera berlari keluar hotel, layaknya layang-layang diterpa angin kencang.

__ADS_1


”Tunggu aku Rui sayang, aku akan menjadi pahlawan kesiangan untuk menyelamatkanmu.” batin Yuci.


__ADS_2