Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Selipan Bunga


__ADS_3

Usai meninggalkan acara pernikahan, mereka pergi ke tempat pemintalan benang. Ibu Ratmi dan rekannya benar-benar giat, mereka sudah berhasil menciptakan banyak bahan.


"Berarti ini semua sudah bisa dibawa ke perusahaan." ucap Yuci.


"Iya nona, sudah hampir selesai." jawab ibu Ratmi.


"Itu artinya, kita bisa kembali lebih cepat." ujar Yuci.


"Iya sayang, kamu benar." jawab Rui.


Yuci dan Rui membereskan barang-barang, karena akan pulang hari ini juga. Banyak sekali urusan Yuci, tentang pekerjaan di kantor.


"Sayang, kamu tidak keberatan 'kan kalau cepat pulang?" tanya Yuci.


"Tidak dong sayang, untuk apa keberatan." Rui tersenyum.


"Kamu memang misua yang paling terbaik." puji Yuci.


Rui menyentil dahinya. "Sudah gombalnya? Ayo kita pulang."


Yeye dan Hanxie jalan berdua, sambil menikmati sate panggang ukuran jumbo. Yeye membuka pembicaraan terlebih dulu.


"Lama sekali iya Kak Yuci dan Kak Rui pergi." ucap Yeye.


"Urusan Kak Yuci 'kan banyak. Apa lagi sejak perusahaan terbakar pabriknya." jawab Hanxie.


"Padahal sebagai komponen pendukung, tapi harus mengalami terjangan ombak." ungkap Yeye.


"Biasalah, namanya juga kehidupan. Namun yang harus manusia lakukan, jangan pernah menyerah dengan keadaan terpuruk." jawab Hanxie.

__ADS_1


Yeye membenarkan tali sepatunya yang lepas, lalu melanjutkan perjalanan kembali. Namun siapa sangka, malah tali sepatunya lepas lagi. Yeye tidak sengaja terinjak dan jatuh, bersamaan plastik sate jumbo yang terlempar.


"Yah, satenya tumpah Hanxie." Yeye tampak iba, menatap sate miliknya.


Hanxie memberikan tangannya, agar diraih oleh Yeye. "Ayo cepat, biar aku bantu berdiri. Soal sate panggang itu, tidak perlu kamu tangisi. Masih ada kok sate punyaku, kamu ambil saja."


Yeye beranjak dari posisinya, dengan dibantu tangan Hanxie. Sebungkus plastik berisi tusuk sate, direbutnya dari tangan Hanxie.


"Tepati ucapanmu." ujar Yeye.


"Iya, aku berikan apa yang kamu mau." jawab Hanxie.


Yeye langsung memasukkan sate ke dalam mulutnya, lalu memberikan suapan pada Hanxie. Yeye tersenyum ke arah Hanxie, dengan mulut yang celemotan.


Hujan awet, seperti hubungan Rui dan Yuci. Selalu setia, meski dibumbui dengan pertengkaran. Yuci sudah sampai ke apartemennya, lalu melihat Yeye dan Hanxie.


"Tidak mengharap oleh-oleh 'kan." jawab Yuci.


"Pikiran Kakak terlalu buruk, bila sampai ke sana." ucap Yeye.


"Lalu, apa aku harus berpikir kalian tidak ada maksud." jawab Yuci.


"Ada maksud baik nona Yuci, aku ingin membantumu." sahut Hanxie.


"Hanxie, bila ingin membantuku gampang saja. Silakan pergi bersama sekretaris Aldo, untuk mengambil bahan-bahan pembuatan baju." jelas Yuci.


"Aman Kak, aku titipkan Yeye." Hanxie segera berlari.


"Hei, mau kabur kemana. Mengapa tega meninggalkan aku." Yeye melompat-lompat, sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Malam harinya Yuci bermanja-manja dengan Rui, meminta untuk dipijat karena pegal. Rui menuruti saja keinginannya, karena merasa sayang.


"Lagi sayang, aku butuh dipijat. Selama di desa kemarin, kakiku selalu dibawa berjalan." keluh Yuci, yang ketagihan untuk dipijat.


"Itu karena kamu sudah terbiasa menggunakan mobil." jawab Rui.


Beberapa menit Yuci terus menunduk, dengan bantal sebagai tumpuan dagunya. Dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Rui. Pijatan itu benar-benar terasa namun lembut, dan tidak seperti terburu-buru.


"Sayang, aku punya sesuatu untukmu." Rui menyelipkan bunga, pada daun telinga Yuci.


"Ini tidak bisa dikatakan romantis, terlalu kuno caranya." Yuci mengerucutkan bibirnya.


"Bilang saja kalau senang, dengan seperti itu aku merasa gembira." ujar Rui.


"Iya, iya, terima kasih suamiku." jawab Yuci.


Rui dan Yuci merebahkan tubuh masing-masing. Rasa lelah telah menyelimuti tubuh mereka. Melanda pikiran untuk segera memasuki alam mimpi. Dunia nyata terlalu rumit, dengan berbagai pergerakan sistem bumi.


"Yeye, mereka sudah pulang iya?" tanya Nimah.


"Iya Bibi tua." jawab Yeye.


"Mengapa tidak memberitahu? Rui ini benar-benar keterlaluan." ujar Nimah.


"Dia bukan tidak mau memberitahu, tapi kesulitan mendapat sinyal di desa tersebut." jawab Yeye.


"Itu hanya alasan saja." Nimah menduganya.


"Tenang Bibi, besok pagi mereka pasti nengunjungimu." Yeye berusaha mencairkan hati bibi tuanya.

__ADS_1


__ADS_2