Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Kekacauan Perusahaan


__ADS_3

Semua orang sudah mendekat, siap melontarkan kalimat tanya. Bagaimana tidak, sejak kepergian Yuci semua pekerja tidak tenang. Akankah perusahaan bangkrut? Akankah mereka tidak menerima gaji? Bagi yang sudah berkeluarga, akankah mereka kelaparan?


"Sekretaris Aldo, bagaimana?" tanya salah satu karyawati.


"Gagal, ada insiden dalam perjalanan." Aldo menjawab, dengan raut wajah masam.


"Di mana Hanxie?" Yeye sibuk menonjolkan kepala, di tengah kerumunan perempuan berbadan tinggi.


"Dia sedang masuk ke dalam sungai, demi menyelamatkan bahan baju." Aldo sebenarnya tidak terlalu kenal dengan Yeye, namun hanya sekadar memberi respon.


"What? Dia seorang diri, sedangkan kamu meninggalkannya?" Yeye dengan santainya, meninju lengan pria itu.


"Dia tersangka utama, maka dia yang harus tanggungjawab." Aldo menekankan kata akhir.


Yeye menunjuk wajahnya. "Kamu segitunya, tidak punya hati. Sekretaris macam apa kamu, bisa menganggap enteng semuanya."


Aldo masuk ke dalam ruangan Yuci, setelah meninggalkan Yeye tanpa menghiraukan. Hal tersebut, membuat Yeye ingin melempar botol di tangannya. Dengan seperti itu mungkin kepala Aldo bisa terbalik, pikir si Yeye dengan konyolnya.


"Sekretaris Aldo, kamu bagaimana bekerja, mengapa bisa kejadian seperti ini terjadi?" Yuci menatapnya sambil menggoyangkan pena, yang diapit oleh jarinya.


"Maaf nona, aku tidak mengetahui, bila akan ada kejadian seperti ini. Berdasarkan keterangan sopir, mobil kijang sengaja membingungkan jalan. Maka terjadilah insiden kecelakaan, karena sopir mobil truk kebingungan." jelas Aldo.


"Ini pasti disengaja!" ungkap Yuci.

__ADS_1


"Benar nona, ini tampak direncanakan. Namun aneh juga, karena tidak ada siapa-siapa." jawab Aldo.


"Tidak ada siapa-siapa bagaimana, Hanxie juga manusia." ujar Yuci.


"Masa si dia pelakunya, aku lihat dia rela masuk sungai. Mungkin, sekarang masih berkubang dalam air." jelas Aldo.


"Kamu tahu, hidup ini seperti panggung sandiwara. Seseorang yang tidak terlihat mencurigakan, namun dialah pelaku utamanya." Yuci ngeyel dengan dugaannya.


"Baiklah, terserah nona saja. Kita hidup dengan argumen masing-masing." jawab Aldo, memilih menyudahi.


"Kamu adalah orang kepercayaan perusahaan ini. Bantu aku menemukan kedok busuknya." Yuci tersenyum, sambil memberikan uang bonus tambahan.


"Dengan senang hati nona." jawab Aldo.


Celiv dan Hanry melihat sekeliling kampus baru mereka. Benar-benar bagus, dan sangat menakjubkan. Bagi Celiv itu luar biasa, bisa masuk ke kampus itu.


"Memang siswi yang berprestasi akan terpilih." jawab Hanry.


"Lalu saat aku tanya teman baru kita, dia bilang di sini khusus konglomerat. Tidak ada yang namanya mahasiswi, dengan jalur beasiswa." Celiv masih bingung.


"Mungkin dia tidak tahu, harap maklum saja." jawab Hanry.


”Maafkan aku Celiv, sebenarnya aku yang membantumu. Aku ingin bisa bersamamu, supaya belajarnya lebih semangat. Tidak tahu mengapa, aku mulai suka sama kamu.” batin Hanry.

__ADS_1


Celiv mengajak Hanry masuk ke dalam kedai kopi. Mereka akan membuat kenangan masa kuliah di sana.


"Eh ingat tidak, betapa menyebalkan Kakak senior. Bayangkan saja, PBAK masa dikerjai. Aku 'kan malu, gendong anak kambing depan semua orang." gerutu Hanry.


Celiv tiba-tiba tertawa lepas, sambil memukul-mukul meja. "Hahah... iya, iya, aku ingat sekali. Latihan kekuatan fisik sampai segitunya."


"Tahu ah, sebal ingat masa itu." ujar Hanry.


"Kalau sebal, jangan disebut-sebut lagi." jawab Celiv.


"Aku hanya cerita, karena sedang terlintas kejadian tersebut." ucap Hanry.


"It's oke, keluarkan saja semuanya. Yang paling terpenting, kamu merasa lega." jawab Celiv.


"Kamu heran tidak si, masa disuruh gendong anak kambing saja aku mengeluh. Bagaimana iya, perempuan mau jadi istriku." Hanry tersenyum-senyum sendiri.


"Heran sekali aku, melihat lelaki mengeluh. Padahal kalau sudah menikah, beban hidup lebih besar." jawab Celiv.


Sekelompok orang tiba-tiba berdemo, di depan pintu masuk perusahaan ChidaaMall. Tidak lupa juga, disertai wartawan yang bertugas. Mereka melemparkan batu pada kaca, hingga hancur berantakan. Ada juga yang sekadar retak-retak.


"Woi nona Yuci, keluar kamu!"


"Memalukan sekali jadi pelanggan mu, yang mengabaikan pekerjaan karena memaksa dinikahi."

__ADS_1


"Pura-pura bahagia, padahal aslinya menikah kontrak."


"Perempuan tidak tahu diri kamu!"


__ADS_2