
Rui memutuskan untuk menerima persyaratan Yuci, demi melunasi hutang juga keinginan hatinya. Pulang dari sekolah SMA 45, Rui meminta nomor Yuci pada Yeye.
"Kok Kakak tiba-tiba banget, setuju dengan permintaan nona Yuci?" tanya Yeye.
"Ini semua demi kamu Yeye, demi kita sekeluarga. Kakak gak mau, kalau kamu dikeluarin dari kampus. Harus menanggung konsekuensi dalam jeruji besi, karena kamu telah berbuat kesalahan." jelas Rui.
"Terimakasih Kak, telah berkorban untuk mimpiku. Aku janji, gak akan ulangi kesalahan yang sama." ujar Yeye.
"Iya Yeye, sama-sama." jawab Rui.
"Kak, katanya kanker Bibi tua harus segera dioperasi. Sekarang sudah semakin parah, dan pasien BPJS sudah penuh." ungkap Yeye, dengan lesu.
"Kakak akan mengusahakan, untuk mencari biaya pengobatan Ibu." jawab Rui.
Mereka berdua pergi ke rumah sakit, dan berencana meminta toleransi. Namun sepertinya hanya jalan buntu, Rui harus memindahkan Nimah ke rumah sakit lain.
"Dokter, saya tidak bisa membayarnya bila tidak ada BPJS." ucap Rui.
"Maka, anda harus mencari rumah sakit lain." jawabnya.
"Dok, tidak bisakah kasih waktu untuk saya. Tidak ada biaya, untuk membayar perawatan ini." pinta Rui memohon.
"Maaf, tidak bisa." jawabnya.
Yuci tiba-tiba muncul, dan memberikan kartu ATM miliknya.
"Aku ingin, pasien atas nama Bu Nimah diutamakan. Soal biaya, pihak rumah sakit tidak perlu khawatir. Aku akan melunasi semuanya, yang paling terpenting operasi dijalankan." jelas Yuci.
__ADS_1
"Pasti ini akal-akalan dirimu lagi. Tidak gratis bukan?" bisik Rui.
"Iya, hutangmu bertambah lagi. Semuanya akan lunas, bila kamu menikah kontrak denganku." jawab Yuci.
"Baiklah, aku setuju." ujar Rui.
"Secepat itu, tiba-tiba berubah pikiran. Coba sejak awal, kamu memberi jawaban memuaskan ini." jawab Yuci.
Yuci memberikan surat kontrak, agar Rui segera menandatanganinya. Rui mengambil pena dengan bergemetar, lalu menggores kertas dengan tinta pena.
Keesokan harinya, Yuda kembali dari luar negeri. Yuci cukup gugup, namun berusaha terlihat tenang.
"Yuci, apa kamu sudah ada calon?" tanya Yuda, ingin memastikan.
Yuci tersenyum manis. "Tentu saja ada Papa, aku akan mengajaknya ke rumah. Sekarang juga, Papa bisa berkenalan dengannya."
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Rui menyuruh Yuci masuk ke dalam rumah.
"Rui, aku tidak mau masuk ke dalam. Sekarang juga ayo ikut ke rumah, karena Papaku ingin berkenalan sama kamu." ucap Yuci
"Baiklah nona, tunggu aku berganti baju dulu." jawab Rui.
Setelah Rui usai berganti baju, dia keluar dari kamarnya. Melangkahkan kakinya keluar rumah, bersamaan dengan langkah kaki Yuci. Rui masuk ke dalam mobil, dan Yuci menghidupkan mesinnya. Mobil melaju dengan kekuatan sedang, hingga sampai ke rumah.
"Halo semuanya!" sapa Yuci.
"Halo Yuci." jawab Gino.
__ADS_1
"Eh, ternyata ada Paman juga. Aku senang melihat semuanya berkumpul. Karena hari ini, aku akan memperkenalkan calon suamiku." Yuci bergelayut pada tangan Rui.
"Oh itu calon suamimu. Cukup tampan juga, pasti bukan orang biasa." jawab Yuda.
Yuci mengajak Rui duduk di ruang makan, untuk menikmati hidangan yang telah disajikan.
"Yuci siapa namanya?" tanya Yuda.
"Namanya Rui Pa." jawab Yuci.
"Berapa gajimu perbulan Nak?" tanya Yuda, ingin tahu.
"Gajiku tidak lebih dari dua juta." jawab Rui jujur.
"Heheh... bagaimana anakku bisa hidup nantinya. Pertimbangkanlah lagi, bila ingin menikah dengan CEO." ucap Yuda.
"Papa, aku cinta sama dia. Rui juga cinta sama aku, jadi kami akan bahagia." Yuci yang menjawab.
Yuda tersenyum mengejek. "Anak zaman sekarang, tahu apa soal cinta. Seperti angin berlalu, terkadang perasaan itu hanya sekilas."
Yuci menyendok sayur jagung untuk Rui, dan juga menuang kuah sayur kangkung. Tidak lupa pula, mengambilkan nasi sepenuh piring. Kedua mata Rui melotot, memperhatikan Yuci yang melampiaskan kekesalannya.
"Dia cukup kuat makan, jadi kuat juga dalam bekerja. Aku tidak akan merasa kelaparan, dan akan tersenyum sepanjang hari." jawab Yuci.
"Perasaan tak bermoral, sembarang memilih kemana akan berlabuh." Yuda menggerutu, sambil menyendok makanan dengan kasar.
"Terkadang, perasaan lebih tahu tempat ternyaman." jawab Yuci.
__ADS_1