
Tiba-tiba ponsel Yuci berbunyi, ternyata dari sekretaris Aldo. Dia memberitahu mengenai perusahaan Frima, yang mengambil alih semua beberapa pelanggannya.
"Selidiki perusahaan Frima, aku ingin mengetahui siapa pemimpinnya. Apa perlu, aku akan bertemu dengan dia." ujar Yuci.
"Baik nona, tunggu saja kabar baik selanjutnya." jawab Aldo.
Sambungan telepon terputus, setelah Aldo berpamitan. Yuci berencana akan menyewa penginapan, yang tidak jauh dari tempat kemah SMA 45.
"Kamu lihat saja, aku bisa mencubit ginjalmu bila menggoda. Rui hanya milikku, tidak boleh diambil siapapun juga." monolog Yuci.
Setelah baris berbaris dibubarkan, mereka disuruh membuat tenda. Semua murid mengikuti arahan, yang diberikan oleh Aya dan Rui.
"Pak Rui, sepertinya anda kelelahan. Aku membawakan air kopi hangat dalam termos." Aya menuangkannya ke gelas.
Rui mengambilnya, lalu meneguk air tersebut. "Terima kasih Bu, telah repot-repot."
"Kita sesama rekan kerja, sudah seharusnya seperti ini." ucap Aya.
"Baiklah, berikutnya tidak akan sungkan lagi." jawab Rui, tersenyum.
Yuci hanya melihat dari kejauhan, sambil menurunkan sedikit kacamatanya. Dia tidak suka, melihat Aya yang memberi perhatian. Diam-diam sedang memikirkan cara, supaya bisa mengusik mereka berdua.
"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan mereka dekat. Aku harus menyuruh Hanry, untuk menggagalkan rencana tersebut." monolog Yuci.
__ADS_1
Yuci segera mengirimkan pesan pada Hanry, supaya dia membantu rencananya. Hanry tertawa sendiri, saat melihat emoticon yang dikirim oleh Yuci. Sebuah ekspresi marah, layaknya setan bertanduk.
"Hanry, kenapa kamu tertawa sendiri?" tanya Celiv.
"Kau tidak tahu saja, bahwa orang dewasa itu lucu. Mereka suka sekali cemburu, tanpa alasan yang pasti." jawab Hanry.
"Memangnya siapa yang kamu maksud?" tanya Celiv penasaran.
"Tentu saja Kakakku, lalu siapa lagi." jawab Hanry.
"Jadi, kamu suka mengurusi rumahtangga manusia. Kenapa, kamu tidak mengurus nilaimu yang berantakan itu. Kamu perlu mengikuti belajar mandiri, pada malam hari. Namun, kamu malah malas-malasan dan mengerjakan yang tidak disuruh." Celiv mengoceh panjang dan lebar.
"Sudah bicaranya? Apa tidak ada yang lebih penting untuk dibicarakan." jawab Hanry.
"Nanti malam, aku akan mengikuti belajar mandiri. Puas 'kan kamu, mendengar pernyataan dariku ini." jawab Hanry.
Pada malam harinya, Aya memanggang ikan nila. Dia sengaja membuat saus dan kecap sendiri. Tiba-tiba saja, terlintas ide jail Hanry. Celiv geleng-geleng kepala, melihat Hanry membawa botol air.
Bruk!
Hanry sengaja menabrak Aya, yang sedang membawa piring berisi saus dan kecap. Air tertumpah ke dalam piring, dan Hanry tersenyum lebar pada ibu guru.
"Maaf Bu, aku tidak sengaja." ujar Hanry.
__ADS_1
"Hanry, lain kali kamu hati-hati dong kalau jalan." jawab Aya.
"Maaf iya Bu, sekali lagi aku minta maaf." ucap Hanry.
"Iya gak apa-apa." jawab Aya.
Aya membawa piring ikan goreng, dan menawarkannya pada Rui. Memberi perhatian lebih, pada seorang pria beristri. Tapi bukan naksir, hanya sekedar ingin lebih dekat.
"Dasar tuh cewek, masih aja genit. Sudah dikerjain dengan Adik gue, masih gak ada kapoknya. Lu mau nawari suami gue, dengan kecap dan saus yang bercampur air. Dasar kadal gunung, selalu saja menanjak." Yuci mengomel-ngomel, saat melihat Rui malah makan bersamanya.
Keesokan harinya, mereka melakukan kegiatan kemping. Hanry dapat melihat Yuci, yang sedang membawa ketapel.
”Kakak mau ngapain tuh, jangan-jangan dia mau mengerjai Bu Aya.” batin Hanry.
Ketapel mengenai kepala ibu Aya, lalu dia meringis kesakitan. Aya memegangi dahinya, lalu Rui menghampirinya.
"Kamu kenapa?" tanya Rui.
"Aku gak kenapa-kenapa, tiba-tiba ada kerikil melesat mengenai kepalaku." jawab Aya.
"Memangnya ada anak kecil di sini, bukankah di sini khusus untuk perkemahan SMA 45." ujar Rui.
"Aku juga gak tahu, mungkin ada bocah usil." jawab Aya.
__ADS_1
Rui dan Aya malah berjalan berdampingan. Bukannya mereka berjauhan, malah semakin dekat.