Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Kampung Halaman


__ADS_3

Yuci menggeliat ke samping kanan dan kiri, lalu melihat lampu yang menggantung di langit-langit kamar. Tidak ada tanda-tanda manusia bersuara, atau pergerakan tubuh suaminya.


"Loh, kok Rui gak ada si. Dia kemana iya?" Yuci bertanya-tanya sendiri.


Yuci melihat langit yang sudah mulai gelap, tampaknya sebentar lagi malam akan tiba. Yuci segera ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, dia sudah berganti baju. Bersamaan dengan itu, Rui juga terlihat memunculkan batang hidungnya.


"Kau kemana saja?" tanya Yuci.


"Aku ada urusan sebentar." jawab Rui.


"Kenapa tidak melibatkan aku dalam urusanmu?" Yuci mendekat ke arahnya.


"Aku lihat, kau begitu nyenyak. Aku tidak tega, untuk membangunkan kamu." jawab Rui.


Rui dan Yuci sengaja makan di luar, saat malam hari tiba. Mereka ingin kencan, meskipun bukan gadis dan bujang lagi. Namun tetap masih dapat dikatakan pasangan muda. Usia mereka juga belum dapat dikatakan paruh baya.


"Sayang, kamu bisa curiga sama orang yang kamu percaya gak?" tanya Yuci.


"Tergantung kondisinya sayang." jawab Rui.


"Menurutku, Hanxie punya niat tidak baik dengan ChidaaMall." ungkap Yuci.


"Ah masa si, tapi kok aku merasa sebuah kejanggalan. Seperti ada yang aneh, dan tidak masuk akal saja." jawab Rui.

__ADS_1


Mereka terus melangkahkan kaki, menikmati semilir angin malam. Meskipun udara cukup dingin, namun merasa lebih baik dari naik kendaraan.


Yuci masih diam, menyerap kata-kata Rui. "Aku malah semakin ingin, untuk terus mengikuti permainan musuh ini. Coba bayangkan saja, jam tangannya ditemukan oleh Aldo. Anehnya lagi, di pabrik supplier yang terbakar."


"Berarti kemungkinan yang pertama, ada yang sengaja menjebak Hanxie. Lalu kemungkinan kedua, orang menggunakan sekretaris Aldo dalam permainan ini." jawab Rui.


"Maksudmu apa sayang?" Yuci malah bingung, saat mencerna penjelasan suaminya.


"Maksudnya, mereka berdua sama-sama orang yang kamu percaya. Pikirkan saja, hal seperti ini sudah sering terjadi. Di dalam drama pun, banyak contoh kasus seperti ini." jawab Rui.


”Siapa iya kira-kira, orang di balik hal ini. Aku tidak bisa mengetahui secara jelas, selain mencurigai Hanxie. Jika bukan dia, siapa lagi?” batin Yuci.


Mereka sudah sampai di kedai, yang tidak begitu besar. Lampunya pun hanya menggunakan obor, dan tempat duduknya dari bahan rotan. Namun jangan salah nilai, aroma masakan sudah menyeruak ke indera penciuman Yuci.


"Hati-hati, nanti kamu gendut loh." goda Rui.


"Gak apa-apa gendut, yang penting gak ditinggalkan." ucap Yuci.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu, sebisa mungkin aku mengusahakannya." jawab Rui.


"Pria pandai berdusta! Janji dulu iya kamu, biar dapat kepercayaan dariku." ujar Yuci.


"Aku malah tidak suka janji, karena itu adalah hutang. Bagaimana bila aku tidak bisa menepatinya." jawab Rui.

__ADS_1


"Jika kau tidak bisa menepatinya, maka aku akan jadi rentenir setiap kau tidur. Aku akan hadir di dalam mimpi, menagih semua hal yang telah kau ingkari." ucap Yuci, dengan gampangnya.


"Tidak, tidak, aku tidak akan setuju. Bisa-bisa aku tidak tenang, lalu memilih untuk tidak memejamkan mata sama sekali." jawab Rui.


Yuci mencubit daging-daging ikan, yang baru saja diletakkan di atas meja. Pelayan segera pergi, setelah mengantarkannya. Yuci memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lalu mengunyah dengan perlahan.


"Sayang, di sini enak banget masakannya." Yuci merasa ketagihan.


"Iya sayang, bahagia itu sederhana." jawab Rui.


"Kalau tahu seperti itu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Aku akan berjalan keliling, dari awal sampai tadi." ucap Yuci.


"Nanti masih ada waktu, kau tidak perlu mengkhawatirkannya." jawab Rui.


"Iya sudah, ayo percepat makannya." Yuci bersemangat.


"Iya sayang." jawab Rui.


Mereka mengunyah makanan, dengan gerakan yang tak biasa. Hanya butuh waktu beberapa menit sudah selesai. Yuci membayar semua harga makanan, lalu keluar dari kedai tersebut.


"Sudah kenyang sayang." Yuci mengusap perutnya.


"Saatnya untuk pindah tempat." jawab Rui.

__ADS_1


__ADS_2