
Yuci melihat ruangannya yang sudah kacau. Ada foto pernikahan yang terbalik, kursi sofa juga terbalik, lantai berserakan bungkus jajan. Pokoknya seperti kapal pecah, karena banyak kaleng bekas minuman. Yuci melihat seseorang yang tengah duduk, sambil membelakangi dirinya dengan santai.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Yuci dengan cepatnya.
"Aku mau menemui pimpinan perusahaan. Kamu sendiri ngapain di sini?" jawab Malyna santai.
Malyna terkejut, tatkala membalikkan tubuhnya. Ternyata si Yuci, yang ditemuinya lagi.
"Aku adalah pimpinan perusahaannya." Yuci menyilangkan tangan di dada, sambil tersenyum mengejek Malyna yang seenaknya.
Malyna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil nyengir dan bicara dalam batin. ”Hampir saja aku ingin mengusirnya. Bisa malu tiga ratus enam puluh derajat nih.”
"Haduh, maaf deh. Ini aku kembalikan, semua fasilitas tuan putri." Malyna membersihkan kursi sofa bekas dirinya duduk, sambil menepuk-nepuk dengan tenaga ultramen.
"Aku tidak salah dengar, kamu bilang maaf?" tanya Yuci lagi.
"Heheh... anak baik sudah biasa melakukannya." Malyna menjawab tanpa dosa, bahkan sangat percaya diri.
Hanxie mengejar Yeye, yang terus saja berjalan. Dia marah atas tuduhan netizen, yang mengatakannya perempuan murahan.
"Sudahlah, jangan pedulikan omongan orang." ujar Hanxie.
__ADS_1
"Aku merasa malu diperlakukan seperti itu." jawab Yeye.
"Aku tidak peduli." ujar Hanxie.
"Aku peduli." Yeye ngotot.
"Itu artinya, kamu ingin kita berjauhan?" Hanxie memastikan keinginan Yeye.
Yeye terdiam sejenak. "Iya, seperti itu juga sangat baik. Bahkan, aku tidak akan dipandang murahan."
"Hei, you know? Itu hanyalah provokasi dari netizen, dan itu adalah bayaran dari seseorang. Bila kita berdua bertengkar, maka kita tidak akan bisa menyelidiki kasus kebakaran tersebut." Hanxie kesulitan untuk menjelaskannya pada Yeye.
"Kamu urus saja sendiri, aku memutuskan untuk menyerah sampai di sini." jawab Yeye.
"Apa kamu tidak lihat bagaimana fotoku yang diedit, lalu disebarkan ke media sosial. Bahkan bersama pria, yang tidak aku kenali sama sekali. Aku malu, aku malu, sungguh terlalu hal tersebut. Memangnya apa yang bisa aku kuasai, jika memporak-porandakan perusahaan nona Yuci." jelas Yeye.
Hanxie segera memeluk Yeye, agar perempuan itu tetap tenang. Tangannya dengan lembut mengusap rambut Yeye.
"Itu hanya kelakuan netizen masih bocah." Hanxie tetap berusaha merayu.
"Aku ingin kita menyelidiki secara terpisah, dan jangan perlihatkan gerak-gerik mencurigakan." jelas Yeye.
__ADS_1
Pada sore harinya Yuci buru-buru untuk keluar perusahaan. Harap maklum, kesayangannya sudah menunggu. Siapa lagi bila bukan Rui suaminya, yang sejak di sekolah memikirkan istri. Langkah kaki Yuci malah dibuat bingung, dengan tangkai sapu yang tidak ada akhlak.
"Bisakah kamu menyapu yang benar, mengapa tangkainya menghalangi jalan orang?" Yuci memegangi kedua alisnya, pusing melihat tingkah Malyna.
"Maaf nona cantik, aku terbiasa bernyanyi ketika bekerja." Malyna menjawab santai.
"Menyanyi hanya membuat kamu tidak fokus." ujar Yuci.
"Apa salahnya? Mama nona juga seorang penyanyi." Malyna keceplosan menyebut profesi mama Yuci.
"Kamu ini benar-benar membuat kesal, dan menerimamu adalah penyesalan terburuk ku." Yuci mengangkat kedua telapak tangan geram, namun tidak berniat memukul.
Yuci keluar dari perusahaan, dan merasakan tangannya ditarik. Itu adalah tangan Rui, yang mengajaknya pergi. Wartawan melihat hal tersebut, dan menjadikan keduanya mangsa buronan.
"Ayo sayang, kita lari." Rui menggenggam tangan Yuci.
Yuci mengikuti langkah Rui sambil tertawa-tawa. "Genggam terus sayang, itu menghilangkan kecemasan."
Rui dan Yuci menerobos keramaian, yang dipenuhi anak-anak bermain kelereng. Rui dan Yuci ikut nimbrung, biar tidak ditangkap wartawan. Tak lama kemudian, mereka berdua ketahuan. Rui dan Yuci mengelak ditangkap, dan salah satu wartawan wanita mendorong anak laki-laki.
"Huaa... tanganku sakit berdarah."
__ADS_1
Rui dan Yuci panik, saat melihat orangtua dari anak tersebut. Mereka memilih berlari tunggang langgang, dan mengabaikan apa yang terjadi.