Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Rayuan Ratu Serigala


__ADS_3

Pada pukul 21.00 Yuci masuk ke kamarnya, lalu merebahkan tubuh ke atas ranjang tidur. Rui melihatnya, yang hanya mengenakan bikini tanpa lengan. Rui menelan ludahnya sendiri, sambil mengernyitkan dahinya. Rui segera membuang muka, dan menarik nafas dalam-dalam.


"Yuci, kenapa kau tidak mengenakan baju?" tanya Rui.


"Bukankah aku baru keluar dari ruang ganti baju, tentu saja sudah dilepaskan." jawab Yuci.


"Kenakan bajumu sana, kau tidak sendirian di dalam kamar. Memangnya kau tidak takut, akan terjadi hal yang tidak diinginkan." Rui geleng-geleng kepala.


"Rui, aku lupa kalau kamu tidur di sini juga. Aku sudah terbiasa sendiri, maaf iya." jawab Yuci, dengan santai.


Rui segera menutupi dirinya, menggunakan selimut tebal. "Iya sudah, terserah kamu."


"Jangan cuek seperti itu, ajari aku bermain bola." jawab Yuci.


"Ini sudah malam." ucap Rui.


"Ini belum larut Rui, belum masuk tengah malam." rayu Yuci.


Tubuh Rui terasa panas dingin, tidak tahan melihat penampilannya. Darahnya berdesir di seluruh tubuh, juga jantungnya berdegup lebih kencang.


Yuci berjalan mendekat ke arahnya, lalu menarik paksa selimut Rui. Pria itu merasa risih, dengan tindakan Yuci yang memaksanya. Akhirnya dia duduk di atas ranjang tidur, dengan kaki setengah menjuntai ke lantai.

__ADS_1


"Yuci, kamu melupakan kesepakatan kita iya." ujar Rui.


"Aku tidak melupakan kesepakatan kita. Aku bahkan, tidak melakukan apapun juga." jawab Yuci.


Rui melihat tubuh Yuci, dan juga bibir ranumnya yang mengatup. Rui memalingkan matanya, menatap ke arah dinding.


”Lihatlah, baru permulaan dia sudah salah tingkah hahah....” batin Yuci, tertawa bahagia.


Yuci membuka bibirnya yang menyatu, hingga memperlihatkan gigi putihnya yang cerah. Yuci mengalungkan tangannya pada kedua pundak Rui, sambil duduk di kedua belah pahanya. Rui dapat melihat senyum manisnya, dari jarak yang lebih dekat.


"Rui bicaralah, aku ingin mendengarkan dirimu." Yuci mencolek pipinya.


"Yuci, sebaiknya kau jangan seperti ini. Sungguh benar-benar egois, karena akan membuat pria terpancing." jawab Rui marah.


"Jangan memaksaku untuk bertindak kasar ..." ucapan Rui terhenti, karena merasakan ada yang masuk ke mulutnya.


Ternyata itu adalah bibir Yuci, yang memberikan ciuman untuk suaminya. Yuci bergerak ke kanan dan kiri, dengan mulut yang kadang terbuka. Yuci menghembuskan nafasnya, agar bisa menghirup udara dengan leluasa. Rui akhirnya bertindak yang sama, meski hatinya menolak akan hal itu.


"Ayo Rui, terus lakukan!" pinta Yuci.


"Tidak, cukup sampai di sini saja." jawab Rui.

__ADS_1


Rui tergoda dengan aroma tubuhnya, lalu mendorong Yuci ke atas ranjang tidur. Namun dia berusaha menahannya, agar tidak terpancing tindakan agresif Yuci. Rui menutup tubuh Yuci dengan selimut, lalu segera keluar kamar.


”Yah gagal deh, padahal tadi sudah berhasil menciumnya. Meskipun aku yang sengaja menggoda duluan, hingga dia mengikuti tindakanku.” batin Yuci.


Rui keluar dari kamar, sambil memegang bibirnya sendiri. Rasa tak percaya masih menyelimuti dirinya, dan bayangan kejadian tadi terlintas di kepalanya. Rui segera membuang jauh-jauh, ingatan tentang tindakan Yuci.


Yeye mengagetkan Rui, dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Tadi Yeye melihat kakaknya, malah mondar-mandir depan pintu. Padahal jam menunjukkan pukul 21.30, sudah waktunya jam untuk tidur.


"Kakak kenapa?" tanya Yeye.


"Tidak apa-apa, Kakak lagi banyak tugas." jawab Rui.


"Apa harus mendadak bangun, lalu mengingat pekerjaan di sekolah?" tanya Yeye.


Wajah Rui merah merona, karena menahan perasaan di dalam hati. "Tentu saja Yeye, kalau tidak akan dapat teguran."


"Memangnya siapa yang berani menegur Kakak?" tanya Yeye, ingin tahu urusan kakaknya.


"Siapa lagi, bila bukan kepala sekolah." jawab Rui.


Rui segera melangkahkan kakinya ke ruang kerja, lalu mengunci pintu. Dia memilih untuk tidur di sofa, daripada di kamar ada wanita penggoda. Rui bergidik ngeri, teringat akan hal tadi.

__ADS_1


”Kau sungguh tega Yuci, membiarkan aku tidur tidak nyenyak. Kenapa harus meninggalkan kenangan, yang tidak bisa aku lupakan.” batin Rui kesal, namun bercampur bahagia.


__ADS_2